Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Punyuluhan Pertanian



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 
    Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa. Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. Penyuluhan merupakan program pendidikan luar sekolah yg bertujuan dalam memberdayakan sasaran, meningkatkan kesejahteraan sasaran secara mandiri, dan membangun masyarakat madani. Penyuluhan berfungsi secara berkelanjutan dan menghasilkan perubahan perilaku serta tindakan yg menguntungkan sasaran dan masyarakat. 
    Penyuluhan berasal dari kata “suluh” yang berarti “obor”. Penyuluhan dilakukan agar terjadi peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pengetahuan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu menjadi lebih tahu. Keterampilan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari yang tidak mampu menjadi mampu melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat. Sikap dikatakan meningkat, bila terjadi perubahan dari yang tidak mau menjadi mau memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan. 
 Penyuluhan Pertanian adalah suatu usaha atau upaya untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya, agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya. Inti dari kegiatan penyuluhan pertanian adalah untuk memberdayakan masyarakat khususnya petani dan keluarganya. Memberdayakan berarti memberi daya kepada yang tidak berdaya dan atau mengembangkan daya yang sudah dimiliki menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyarakat yang bersangkutan. Penyuluhan pembangunan sebagai proses pemberdayaan masyarakat, memiliki tujuan utama yang tidak terbatas yaitu “better farming, better bussinnes, better organization, better community, better environtment dan better living” sehingga sasaran dapat meningkatkan taraf hidupnya.

B. Tujuan Praktikum
Praktikum Penyuluhan Pertanian dilaksanakan dengan beberapa tujuan yaitu:
1. Mahasiswa mengetahui secara langsung praktik kegiatan penyuluhan pertanian yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapang (PPL).
2. Mahasiswa mampu menyusun materi penyuluhan secara tepat berdasarkan kebutuhan sasaran, lenga dengan alat bantu dan alat peraganya.
3. Mahasiswa dapat melihat langsung proses pemberdayaan Masyarakat yang terjadi di Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo

C. Manfaat Praktikum
Pelaksanaan praktikum Penyuluhan Pertanian dapat memberikan beberapa manfaat, yaitu:
1. Mahasiswa dapat melihat langsung proses penyuluhan sehingga dapat belajar langsung dari penyuluh
2. Mahasiswa dapat menambah kemampuan dalam berkomunikasi dan mengembangkan pikiran tentang agribisnis
3. Mahasiswa dapat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat terkait dengan pengabdian masyarakat
4. Petani dapat saling sharing dan berkerjasama dengan petani lain maupun penyuluh
5. Tugas pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan petani, dapat terbantu dengan kegiatan penyuluhan
6. Pemerintah dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi pada masyarakat khususnya petani

II. LANDASAN TEORI
A. Pengertian Penyuluhan Pertanian
    Kegiatan penyuluhan pertanian pada intinya adalah pembinaan terhadap masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani, harus ditata dan dikembangkan sedemikian rupa agar harapan mereka dapat terpenuhi sebagai mana mestinya. Penyuluh pertanian jelas tidak dapat memecahkan semua permasalahan yang dihadapi petani karena pengetahuan dan wawasan yang dimiliki oleh penyuluh pertanian terbatas. Kegiatan penyuluhan pertanian harus diikuti dengan kualitas pelayanan penyuluh dalam memberikan materi terhadap petani  (Abubakar, 2010).
    Penyuluh sebagai ujung tombak pelaksanaan penyuluhan di lapangan sangat perlu untuk meningkatkan kompetensinya sesuai tuntutan perubahan zaman. Hakekat penyuluhan adalah pendidikan non formal dalam mengubah perilaku sasaran baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi dan kebutuhan. Penyuluhan pada dasarnya klien atau sasaran merupakan subjek, bukan sebaliknya menjadi objek (Anwas, 2011).
    Penyuluh pertanian berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional penyuluhan pertanian pada instansi pemerintah di tingkat Pusat maupun Daerah. Penyuluh pertanian yang dimaksud hanya dapat diduduki oleh seorang yang telah berstatus PNS. Tugas pokok penyuluh pertanian adalah menyuluh, selanjutnya dalam menyuluh dapat dibagi menjadi, menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan, mengevaluasi dan melaporkan kegiatan penyuluhan  (Kusmiyati, 2010).
    Penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai proses perubahan sosial, ekonomi dan politik. Penyuluhan pertanian untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar. Bersama yang partisipatip agar terjadi perubahan perilaku pada diri semua stakeholders (individu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan, demi terwujudnya kehidupan yang semakin berdaya, mandiri, dan partisipatip yang semakin sejahtera secara berkelanjutan (Mardikanto, 2009).
    Definisi penyuluhan dari sudut pandang deskriptif merupakan segala sesuatu dimana orang berpikir bahwa diri mereka adalah pelaku penyuluhan, yang melakukannya sebagai bagian dari praktik professional. Definisi penyuluhan sebagai serangkaian intervensi komunikatif profesional di tengah-tengah interaksi yang berhubungan, yang diartikan antara lain untuk membangun dan.atau mendorong pola-pola koordinasi dan penyesuaian baru antar orang, alat teknis dan fenomena alam, dalam arah yang seharusnya membantu dalam menyelesaikan situasi problematis, yang mungkin didefinisikan berbeda oleh aktor-aktor berbeda yang terlibat. Definisi penyuluhan dapat diringkas sebagai serangkaian intervensi komunikatif yang ditanamkan, yang diartikan antara lain untuk membangun dan/atau mendorong inovasi yang seharusya membantu menyelesaikan situasi probelmatis (biasanya multi-aktor) (Leeuwis, 2011).

B. Khalayak Sasaran Penyuluhan 
    Konteksnya penyuluhan itu sama, baik itu penyuluhan pertanian maupun penyuluhan lainnya tentulah pengetahuan yang disampaikan adalah pengetahuan yang berkaitan dengan konteks permasalahan yang dihadapai oleh khalayak masyarakat. Sebelum menentukan metode yang akan dipilih, penyuluh mengetahui dahulu sasaran yang akan disuluh dengan melihat tingkat pengetahuan, keterampilan, sosial dan budaya daerah agar kegiatan penyuluhan dapat berjalan denagn lancar sehingga terjadinya perubahan perilaku dan adopsi inovasi pada khalayak sasaran. Penyuluhan yang hanya menggunakan satu metode dalam penyampaian pesan-pesan penyuluhan kepada komunikannya, seperti metode Sistem Latihan dan Kunjungan (LAKU), sedangkan metode yang lain kurang difungsikan. Hal ini menyebabkan kurangnya perubahan perilaku khalayak sasaran sehingga tidak tercapainya adopsi inovasi yang diharapkan (Rasyid, 2012).
Ada penulis yang menyatakan bahwa khalayak lebih suka menerima informasi dari komunikator yang secara terus terang, terbuka, jujur menyatakan maksud berkomunikasi. Itulah sebabnya, faktor motif turut menentukan persuasi atau berpengaruh terhadap penerimaan pesan oleh khalayak. Selanjutnya pada indikator kesamaan, indikator ini menunjukkan bahwa faktor kesamaan minat dengan penyuluh mempengaruhi responden untuk mengikuti penyuluhan. Khalayak lebih tertarik pada komunikator yang mempunyai banyak kesamaan dengannya, misalnya minat, hobi, asal sekolah, dan lain-lain (Utami, 2015).
    Sejauh mana pesan dapat diterima dengan mudah oleh khalayak sasaran atau penerimanya bahkan sampai memengaruhinya akan sangat bergantung pada saat khalayak tersebut menerima pesan. Apabila saat pesan itu disampaikan sesuai dengan kondisi atau proses berpikirnya, maka akan lebih mudah pesan itu diterima. Oleh karena itu, penting sekali untuk menyesuaikan cara penyampaian pesan dengan proses berpikir penerimanya, sehingga pesan akan diolah sesuai dengan proses berpikirnya. Selain itu, kita juga dapat secara bertahap mempersiapkan khalayak sasaran tersebut agar cara berpikirnya disesuaikan dengan pesan atau informasi yang akan kita sampaikan (Alvonco, 2014).
    Penyuluh pertanian sangat dibutuhkan dalam pengembangan masyarakat karena mempunyai fungsi sebagai analis masalah, pembimbing kelompok, pelatih, inovator, dan penghubung. Prinsip kerja pengembangan masyarakat mendukung pembangunan pertanian melalui pendampingan adalah (1) kerja kelompok, (2) keberlanjutan, (3) keswadayaan, (4) kesatuan khalayak sasaran, (5) penumbuhan saling percaya, dan (6) pembelajaran bersinambung. Pendampingan merupakan kegiatan yang diyakini mampu mendorong terjadinya pemberdayaan masyarakat miskin secara optimal. Agar pendamping dapat berperan optimum maka dibutuhkan pengembangan mutu sumber daya manusianya melalui pelatihan partisipatif berbasis pendidikan orang dewasa dan pengembangan forum pendampingan (Jafri et al, 2015).
  Sektor pertanian hanya pengemban tugas penyediaan pangan dan bahan baku industri serta menampung tenaga kerja dalam menjamin stabilitas ekonomi nasional. Sementara di sisi lain, disadari sering terabaikan kesejahteraannya. Masyarakat yang masih rendah dan yang masih banyak hal yang harus diperbaiki. Meskipun keberpihakan kepada sektor pertanian ini belumlah optimal, pertanian telah membuktikan keandalannya, yaitu mampu menciptakan ketahanan pangan, mendukung pembangunan sektor sekunder dan tersier sekaligus menyumbang penerimaan devisa negara (Darsono, 2012).

C. Prinsip Penyuluhan dan Sistem Penyuluhan
    Sistem komunikasi dan politik yang adil pada prosesnya berada diantara pertumbuhan korporasidan proses komunikasi dan selalu ada kontradiksi. Seorang ilmuan dan peneliti kritis tidak hanya tidak berusahamenunjukkan adanya kontradiksi itu, tapi apabila memungkinkan mengubahnya demi tercipta sistem komunikasi dan politik yang adil. Sejalan dengan hal tersebut, pada proses komunikasi  dan sistem penyuluhan sendiri   bermuara pada terciptanya keadaan masyarakat yang stabil, dengan kondisi-kondisi yang memungkinkan masyarakat menjadi lebih mandiri. Proses penyuluhan memiliki tahanpan-tahapan yang tidak singkat. Proses yang begitu panjang namun berdampak pada perubahan hingga karakter masyarakat yang memiliki peran lebih kondusif lagi (Ibrahim, 2016).
    Kajian budaya sesungguhnya berhenti mengkajisoal manusia, melalui cara berfikir dan cara manusia yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan manusia. Proses penyuluhan dan pembimbingan yang diikuti sebagai bentuk ekspresi manusia maka akan terjadi proses komunikasi antara seseorang dengan individu lain. Tujuan ini yaitu untuk menghasilkan tata nilai dan hasil dalam kehidupan. Suatu proses strategi yang dilalui merupakan proses komunikasi dalam pembentukan serangkaian tindakan secara berurutan dalam penyampaiannya, penerimaan atau pengolahan pesan yang terjadi dalam diri seseorang dengan tujuan tertentu (Supratman, 2016).
    Kinerja penyuluh pertanian di pengaruhi oleh faktor internal dan eksternal penyuluh. Kinerja penyuluh dalam penelitian ini adalah dipersepsikan oleh tingkat kepuasan petani yang menerima jasa  penyuluhan pertanian. Faktor internal yang diduga berpengaruh terhadap kinerja penyuluh adalah kompetensi penyuluh pertanian. Faktor eksternal yang diduga berpengaruh  terhadap  kinerja   penyuluh   adalah  karakteristik  sistem  sosial, yaitu  aspek-aspek yang  mendukung/menghambat perubahan dalam sistem sosial   sebagai  akibat  proses  intervansi  pembangunan   pertanian  (Marliati et al, 2008).
    Penyuluh dalam sistem penyuluhan, merupakan unsur pelaksana, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha, diperlukan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang dapat menjamin SDM Penyuluh memiliki kualifikasi kompetensi kerja yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas/pekerjaan tersebut dengan baik dan benar, seperti dikemukakan dalam Undang-undang No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Lebih lanjut, Peraturan Pemerintah No. 31/2006 tentang Sislatkernas, menyebutkan bahwa standar kompetensi menjadi acuan dalam mengembangkan program pelatihan berbasis kompetensi. Dilakukan sertifikasi kompetensi melalui uji kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang independen untuk mengukur kompetensi lulusan program pendidikan dan latihan. Penyuluh dalam sistem penyuluhan, merupakan unsur pelaksana, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha, diperlukan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang dapat menjamin SDM Penyuluh memiliki kualifikasi kompetensi kerja yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas/pekerjaan tersebut dengan baik dan benar, seperti dikemukakan dalam Undang-undang No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Lebih lanjut, Peraturan Pemerintah No. 31/2006 tentang Sislatkernas, menyebutkan bahwa standar kompetensi menjadi acuan dalam mengembangkan program pelatihan berbasis kompetensi. Jadi untuk mengukur kompetensi lulusan program pendidikan dan latihan, dilakukan sertifikasi kompetensi melalui uji kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang independen (Amanah, 2008).
    Sistem penyuluhan erat kaitannya dengan sistem penyuluhan seperti dikemukakan pada uraian di depan (sistem ekosistem alam, manajemen sistem, dan sistem humanistik). Perlu diidentifikasi para pihak yang terlibat dalam masing-masing sub sistem, dan peran penyuluh ada pada setiap sub sistem. Penyuluh dapat dikelompokkan secara berhirarki berdasarkan tanggung jawab dan haknya. Penyuluh dapat dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan, meliputi tingkat satu yang berfokus pada lini terdepan dalam pelayanan penyuluhan; tingkat dua berfokus pada pengembangan program dan merupakan penghubung antara kelompok penyuluh di tingkat satu dan tiga, dan tingkat tiga merupakan penyuluh yang berfokus pada kegiatan advokasi kebijakan pada lini atas (Amanah, 2008).

D. Landasan Filosofi
    Falsafah ialah sebagai suatu pandangan hidup, sebagai landasan pemikiran yang bersumber pada kebijakan moral tentang segala sesuatu yang akan dan harus diterapkan dalam praktik. Falsafah penyuluhan harus berpijak pada pentingnya pengembangan individu dalam perjalanan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. (1) Penyuluhan harus bekerja sama dengan masyarakat, dan bukan bekerja untuk masyarakat ; (2) Penyuluh tidak boleh menciptakan ketergantungan, tetapi justru harus mampu mendorong kemandirian ; (3) Penyuluhan harus selalu mengacu pada terwujudnya kesejahteraan hidup masyarakat ; (4) Peyuluhan harus mengacu pada peningkatan harkat dan martabat manusia sebagai individu, kelompok, dan masyarakat umumnya (Setiana, 2005).
    Falsafah penyuluhan di Amerika Serikat telah lama dikembangkan, yaitu falsafah 3-T: teach, truth, and trust (pendidikan, kebenaran, kepercayaan/keyakinan). Artinya, penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan untuk menyampaikan kebenaran kebenaran yang telah diyakini. Penyuluhan pertanian dengan kata lain, petani di didik untuk menerapkan setiap informasi (baru) yang telah diuji kebenarannya dan telah diyakini akan dapat memberikan manfaat (ekonomi maupun non ekonomi) bagi perbaikan kesejahteraannya. Falsafah penyuluhan adalah bekerja bersama masyarakat untuk membangun agar mereka dapat meningkatkan harkatnya sebgai manusia (helping people to help themselves). Berkaitan dengan falsafah “helping people to help themselves” mencatat adanya 8 (delapan) peneliti yang menelusuri teori pemberian bantuan, yaitu: (1) Hubungan penasehat dan aparat birokasi pemerintah (Albert Hirschman); (2) Hubungan guru dan murid (John Dewey); (3) Hubungan manajer dan karyawan (Douglas McGregor); (4) Hubungan dokter dan pasien (Carl Rogers); (5) Hubungan guru spiritual dan murid (Soren Kiekegaard) ; (6) Hubungan Organisator dan masyarakat (Saul Alinsky); (7) Hubungan pendidik dan masyarkat (Paulo Freire); (8) Hubungan agen pembangunan dan lembaga lokal (E.F. Schumacher) (Mardikanto, 2009).
    Sistem penyuluhan pertanian pada otonomi daerah adalah sistem penyuluhan pertanian yang digerakkan oleh petani. Petani harus dimampukan, diberdayakan, sehingga petani memiliki keahlian-keahlian. Keahlihan-keahlihan tersebut yang dapat menyumbangkan kegiatannya ke arah usahatani yang modern dan mampu bersaing, mampu menjalin jaringan kerja sama di antara sesama petani maupun dengan kelembagaan sumber ilmu/teknologi, serta mata rantai agribisnis yang peluangnya tersedia. Jadi, pada akhirnya petani akan menyelenggarakan sendiri kegiatan (Farida et al, 2013).
    Secara prinsip kehidupan petani ini akan bersifat dinamis atau statis dalam perkembangannya terutama aspek kesejahteraan petani. Hal ini tidak terlepas dari filosofi atau falsafah dari petani sendiri dalam pengembangan diri mereka untuk maju atau tidak. Pemahaman tentang falsafah sesuatu sangat penting sebagai dasar pengarah suatu kegiatan. Falsafah membawa kita pada suatu pemahaman yang mendasari atau menjadi landasan melaksanakan kegiatan yang lebih layak untuk mendapatkan hasil (pendapatan) yang prima. Bukan hanya pada falsafah petani, namun juga falsafah dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), selain falsafah penyuluh diperkuat juga akan kompetensi mana (Handono, 2014).
    Penyuluhan pada dasarnya adalah proses pembelajaran masyarakat yang bertujuan mencapai perubahan perilaku individu. Filosofi penyuluhan adalah menolong orang agar orang tersebut mampu menolong dirinya sendiri, melalui pendidikan yang ditunjukan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Penyuluhan adalah proses pendidikan, demokrasi, dan kontinyu. Penyuluhan sebagai proses artinya penyuluhan harus dapat membawa perubahan dalam perilaku 
(Dinata, 2010).

E. Proses Belajar
    Kegiatan penyuluhan pertanian terlibat dalam proses belajar mengajar karena penyuluhan termasuk dalam sistem pendidikan non-formal. Sesuai dengan tujuan, proses belajar mengajar dalam penyuluhan pertanian menghendaki retensi yang tinggi atau efek yang maksimal. Cara untuk memperoleh retensi yang tinggi setiap audien memerlukan belajar yang berulang. Teknik penyuluhan pertanian dapat didefinisikan sebagai keputusan keputusan yang dibuat oleh sumber atau penyuluh dalam memilih serta menata simbul dan isi pesan menentukan pilihan cara dan frekuensi penyampaian pesan serta menentukan bentuk penyajian pesan. Teknik Penyuluhan Pertanian pada kelompok tani adalah teknik komunikasi, jumlah sasaran, indera penerima dari sasaran, penggunaan media, dan strategi pembelajaran (Faqih et al, 2012).
Peran penyuluh sebagai edukator tidak berpengaruh secara signifikan karena petani kurang membutuhkan proses belajar yang dilakukan penyuluh. Penyuluh selama ini cendrung melakukan kegiatan belajar dengan menggunakan metoda sekolah lapangan atau kumpul besama. Kegiatan ini kurang diminati petani, karena untuk melakukan kegiatan kumpul bersama memerlukan waktu yang panjang atau lama, sehingga waktu yang mestinya dipergunakan oleh petani untuk melakukan kegiatan bercocok tanam atau usahatani berkurang, yang pada akhirnya petani tidak mengalami perubahan kearah yang lebih baik, karena waktu mereka terkuras untuk mengikuti kegiatan sekolah lapangan atau berkumpul bersama (Yulida et al, 2012).
Pendekatan penyuluhan pertanian yang berbasis pembelajaran sosial, pola komunikasi yang terjadi dua arah, dan setiap pelaku dapat bertindak sebagai sumber dan penerima informasi. Proses pembelajaran berdasarkan pengalaman dari petani ke petani yang diperoleh melalui proses peniruan yang dilakukan dalam pendekatan penyuluhan berbasis pembelajaran sosial dinilai efektif jika melihat kondisi pengetahuan yang dimiliki aparat penyuluh sekarang ini. Terkadang masih dijumpai penyuluh yang hanya memiliki setengah dari pengetahuan yang diperlukan oleh petani untuk mengambil keputusan, dan setengahnya lagi bisa berasal dari petani dan keluarganya sendiri 
(Kartika et al, 2014).
    Pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Proses belajar di dalamnya terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Pemrosesan informasi terjadi dengan adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu kesadaran dalam individu yang diperlukan dalam proses belajar, sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran 
(Yudhawati, 2011).
Tahapan pertama dalam proses pembelajaran adalah perencanaan dan tahapan kedua adalah pelaksanaan termasuk penilaian. Perencanaan proses belajar mengajar wujudnya dalam bentuk satuan pelajaran yang berisi rumusan tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kegiatan belajar siswa, metode dan alat bantu mengajar dan penilaian. Tahap pelaksanaan dari proses belajar mengajar adalah pelaksanaan satuan pelajaran pada saat prakter pengajaran, yakni interaksi guru dengan siswa pada saat pengajaran itu berlangsung (Ahmadi, 2013).
    Syarat utama yang dimiliki guru dalam upaya mencapai tujuan pendidikan adalah memiliki kemampuan dasar dalam mengajar atau kompetensi. Apabila setiap guru memiliki kemampuan dasar atau kompetensiyang tepat, dalam proses pembelajaran akan menjamin proses belajar mengajar yang baik. Adapun kemampuan dasar atau kompetensi yang harus dimiliki seorang guru adalah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru. Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi yang membedakan guru dengan profesi lainnya dan menentukan proses keberhasilan dalam hasil pembelajaran (Vamela, 2012).
    Penyuluhan pertanian merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utamaserta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya,upaya untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraan, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penyuluhan pertanian diartikan sebagai proses pembelajaran bagi petani dan keluarganya serta pelaku usaha pertanian lainnya agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisirkan dirinya dalam mengakses pasar, tekologi pertanian, permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas efesiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraan serta untuk meningkatkan kesadaran pelestarian fungsi lingkungan hidup masyarakat. Penyuluh mempunyai tugas pokok dan fungsi yang menjadi acuan dalam melakukan penyuluhan sebagai salah satu fungsi penyuluh dalam pemberdayaan masyarakat. Tugas pokok dan fungsi seorang penyuluh dalam memberdayakan masyarakat adalah pengembangan motivasi diri petani dalam merencanakan usahatani dan memfasilitasi petani dalam merencanakan usahatani dan memfasilitasi petani dalam menggunakan akses informasi teknologi untuk kepentingan usahataninya. Penyuluhan pertanian ialah pekerja profesional yang berusaha mempengaruhi atau mengarahkan keputusan inovasi selaras dengantujuan lembaga penyuluhan. Penyuluh berfungsi sebagai mata rantai penghubung antara dua sistem sosial atau lebih. Penyuluh merupakan age npembaruan dari badan, dinas atau organisasi yang bertujuan mengadakan perubahan-perubahan didalam masyarakat (Bahua, 2016).

F. Proses Komunikasi
    Peran penyuluh pada proses penyuluhan dalam penyampaian informasi tentang teknik budidaya bercocok tanam atau usahatani harus dapat membuka presepsi petani dengan baik terhadap informasi yang disampaikan oleh para penyuluh lapang mengenai teknik budidaya bercocok tanam atau usaha tani. Penyuluhan pada prosesnya memiliki kriteria dari penyampai penyuluh atau PPL, ada yang termasuk kriteria tinggi sedang dan rendah. Presepsi petani dikatakan tinggi apabila para petani mampu menguasai informasi yang diberikan PPL dan mampu mengaplikasikan informasi yang didapat dengan baik dan benar. Pertani dikatakan memiliki presepsi yang sedang apabila mereka mengerti informasi yang diberikan namun dalam pelaksanaannya masih tidak sepenuhnya mengikuti anjuran dari PPL,serta dikatakan rendah apabila petani tidak mampu menguasai informasi dengan baik (Aziz, 2004).
    Proses komunikasi penyuluhan merupakan partisipasi dan tukar menukar pengalaman. Penyuluh merupakan orang yang menjelaskan siapa ; mengatakan apa ; dengan saluran apa ; kepada siapa; dengan akibat atau hasil. Komunikasi yang efektifitas terjadi apabila mempunyai pemahaman informasi yang sama antara setiap anggota kelompok dalam penerimaan informasi. Efektifitas penyuluhan melalui komunikasi dan peningkatan ketrampilan petani peternak melalui kelompok-kelompok akan memberikan hasil yang optimal. Berkaitan dengan ini maka pemerintah telah mencanangkan program pengembangan kelembagaan kelompok peternak yang mendapat pembinaan secara intensif dan kontinu dari pemerintah. Analisis efektifitas komunikasi digunakan untuk mengetahui respons/feedbeck peternak sapi potong melalui suatu kegiatan. Analisis efektifitas komunikasi dari sudut pelaku komunikasi dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: (1) citra positif pelaku komunikasi di mata masyarakat dengan cara memberikan kemudahan pelayanan komunikasi, (2) penyampaian informasi pembangunan yang lengkap dan benar berkenaan dengan prioritas utama pada kepentingan sasaran, dan (3) perluasan jangkauan informasi, dan pemantapan kelembagaan masyarakat dengan memperhatikan aspek kebudayaan setempat (Subedi dan Garforth 1996; Sulaiman et al. 2006). Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis secara deskriptif variable-variabel yang berperan dalam efektifitas komunikasi khususnya penerimaan informasi pada peternak sapi potong di Kecamatan Remboken Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara (Rinjap, 2015).
    Materi penyuluhan, pada hakekatnya merupakan segala pesan yang ingin dikomunikasikan oleh seorang penyuluh kepada masyarakat penerima manfaatnya. Materi penyuluhan dengan kata lain adalah pesan yang ingin disampaikan dalam proses komunikasi pembangunan. Sehubungaan dengan itu, pesan yang disampaikan dalam setiap proses komunikasi dapat dibedakan dalam bentuk-bentuk pesan yang bersifat: informatif, persuasif, dan intertainment. Selain itu, pesan yang disampaikan dalam proses penyuluhan harus bersifat inovatif yang mampu mengubah atau mendorong terjadinya perubahan - perubahan ke arah terjadinya pembaharuan dalam segala aspek kehidupan masyarakat penerima manfaat demi selalu terwujudnya perbaikan-perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. Informasi atau pesan dapat disampaikan secara langsung dengan tatap muka atau tidak langsung dengan menggunakan media penyuluhan pertanian (Romadi, 2016).
Setiap orang memiliki hasrat untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, dan memperoleh informasi. Atas alasan-alasan itulah, tercipta apa yang dinamakan proses komunikasi. Melihat ke beberapa dasawarsa lalu, komunikasi masih sederhana. Sebagian besar bersifat satu arah, sehingga komponen yang terlibat dalam sebuah proses komunikasi tidak banyak. Proses tersebut hanya melibatkan seseorang atau kelompok sebagai komunikator dan pihak lain sebagai pendengar. Berbeda halnya dengan saat ini, ketika muncul era reformasi dan timbul berbagai inovasi baik dari kalangan ahli maupun pelaku komunikasi itu sendiri (Ahmad, 2014).
    Kegiatan penyuluhan pertanian merupakan proses komunikasi antara penyuluh dan sasarannya juga tidak hanya terhenti jika penyuluh telah menyampaikan inovasi atau jika sasaran telah menerima pesan tentang inovasi yang disampaikan penyuluhnya, tetapi seringkali (dan seharusnya memang begitu) komunikasi baru berhenti jka sasaran dan penyuluh mendapat timbal balik. Melalui komunikasi, proses perubahan perilaku yang menjadi tujuan penyuluhan sebenarnya dapat dilakukan melalui 4 (empat) cara, yaitu: secara persuasive, secara pervasion, secara compulsion, secara coercion.  Sehubungan dengan ini, dalam penyuluhan pertanian harus dihindari cara-cara pemaksaan, tetapi sejauh mungkin tetap melaksanakan teknik-teknik bujukan dan pengulangan yang dilakukan melalui kegiatan belajar bersama (Mardikanto, 2009).
    Penyuluhan pertanian merupakan suatu sistem pendidikan luar bangku sekolah yang cara, bahan, dan sasarannya disesuaikan dengan keadaan, kebutuhan dan kepentingan petani. Penyuluhan pertanian merupakan suatu usaha untuk menimbulkan perubahan perilaku petani seperti perubahan pengetahuan yang lebih luas, perubahan keterampilan teknis yang lebbih baik serta perubahan sifat untuk lebih produktif sehingga para petani dapat memperbaiki cara berusahatani agar lebih menguntungkan. Oleh karena itu, penyuluhan merupakan suatu pendidikan non-formal, dimana masalah pokoknya adalah proses komunikasi antar penyuluh dan disuluh, sehingga terjadi saling pengertian dan mepercayai (Risyart, 2014).
Proses komunikasi yang tepat adalah proses yang kondusif bagi kemandirian petani melalui terwujud proses penyadaran kritis yang terus menerus terhadap peningkatan kemampuan meraih setiap peluang yang ada pada setiap perubahan lingkungan fisik dan sosial yang terjadi, baik pada tataran lokal, domestik, maupun global. Secara spesifik ada tiga masalah besar pada saat ini, yang dihadapi oleh dunia khususnya Indonesia. Sejauh mana kesiapan petani manghadapi tuntunan dan tantangan yang berkebang di era globalisasi ekonomi, faktor yang berperan penting dalam proses pengembangan kesiapan petani menghadapi tuntutan di era globalisasi, paradigma komunikasi dan penyuluhan pembangunan pertanian kedepan upaya pengembangan kemandirian petani menuju masyarakat madani (Husono et al, 2009).
Kendala umum yang menyebabkan kegagalan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, adalah :
1) Komunikasi yang tidak efisien, yang disebabkan karena :
a) Tujuan komunikasi yang tidak jelas, baik menurut penyuluh maupun bagi masyarakat sasarannya, terutama jika penyuluh kurang melakukan persiapan menyuluh.
b) Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh komunikator (gerakan-gerakan, ucapan-ucapan yang selalu dilakukan secara berulang-ulang).
2) Salah pengertian, yang disebabkan karena :
a) Perbedaan tujuan penyuluh yang berbeda dengan tujuan sasarannya, dan
b) Perbedaan latar belakang: pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya penyuluh dengan sasarannya (Mardikanto, 2009).
Menjalankan sebuah program pertanian diperlukan seseorang penyuluh untuk mengkomunikasikan program dalam bentuk pesan tertentu dan perkembangan teknologi di bidang pertanian kepada masyarakat tani. Komunikasi merupakan proses pengiriman pesan oleh penyuluh kepada petani tetapi dalam proses pengiriman tersebut dibutuhkan suatu keterampilan dalam memaknai pesan baik oleh komunikator ataupun komunikan sehingga dapat membuat sukses pertukaran informasi. Komunikasi dan metode penyuluhan yang dipakai merupakan hal terpenting dalam suatu kegiatan penyuluhan agar terciptanya kondisi yang diharapkan dari kegiatan penyuluhan tersebut. Dalam proses penyuluhan ini dibutuhkan keahlian dan keterampilan berkomunikasi bagi seorang penyuluh dalam mensosialisasikan program-program yang ingin dijalankan. Penyuluh harus mempunyai metode komunikasi penyuluhan yang efektif bagi kegiatan penyuluhan itu sendiri serta tingkat pendidikan seorang penyuluh sangat mempengaruhi efektivitas penyuluh (Rasyid, 2012).

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

DAFTAR PUSTAKA
Abubakar dan Amelia Nani Siregar. 2010. Kualitas pelayanan penyuluh pertanian dan kepuasan petani dalam penanganan dan pengolahan hasil ubi jalar (Ipomoea Batatas L.). Penyuluhan Pertanian. 5 (1) : 2-12.
Ahmad N. 2014. Komunikasi sebagai proses interaksi dan perubahan sosial dalam dakwah. Komunikasi Penyiaran Islam. 2 (2): 17-34.
Ahmadi, Abu. 2013. Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Alvonco Jonson. 2014. Practical communication skill. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
Anwas, Oos M. 2011. Kompetensi penyuluh pertanian dalam memberdayakan petani. Matematika, Saint dan Teknologi. 12 (1):47-68.
Aziz, Nasrun, Yulian Junaidi dan Dini Haerani. 2004. Peran penyuluh pertanian lapangan (ppl) dalam penyampaian inovasi budidaya padi varietas ciherang pada lahan lebakdan hubungannya deangan tingkat adopsi petani di desa tanjung seteko ogan komering ilir. Peran PPL dalam Penyampaian. 1 (3): 105-160. 
Bahua, Mohamad Ikbal. 2016. Kinerja penyuluh pertanian. Yogjakarta: CV Budi Utomo
Darsono. 2012. Pembangunan pertanian: dalam dimensi tantangan global. Surakarta: UNS Press.
Dinata, Kusmea et al. 2010. Peranan metode temu lapang terhadap pengetahuan pertani di kawasan pengembangan jeruk rimbo pedagang. Pertanian. 1 (1):1-9.
Eka Sari, Kartika., M.Saleh S. Ali, Darmawan Salman, Akhsan dan A. Kasirang.  2014. Konflik komunikasi dalam penyuluhan pertanian di kabupaten maros provinsi sulawesi selatan. Ilmu Komunikasi. 12(1): 92-102.
Faqih, Achmad, Dukat dan Rini Susanti. 2015. Efektifitas metode dan teknik penyuluhan pertanian dalam penerapan teknologi budidaya padi sistem tanam jajar legowo studi kasus di kelompok tani silih asih desa ciomas kecamatan ciawigebang kabupaten kuningan. Agrijati. 28(1):57-69.
Farida, Idha. 2014. Analisis kualitas dan tungkat keterbacaan materi bahan ajar cetak melalui evaluasi formatif. Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. 14 (2):69-78.
Handono, Setiyo Yuli. 2014. Evaluasi program FMA (farmer managed activity) di kabupaten malang. Jurusan Sosial Ekonomi. 25 (2): 42-59.
Husono, Siwono et al. 2009. Pertanian mandiri. Jakarta: Penerbit Swadaya.
Ibrahim, Idi Subandy dan Bachruddin Ali Akhmad. 2014. Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 
Jafri J, et al. 2015. Interaksi partisipatif antara penyuluh pertanian dan kelompok tani menuju kemandirian petani. Agro Ekonomi. 33 (2): 161-177.
Kusmiyati, Ait Maryani, dan Dedy Kusnady. 2010. Kinerja penyuluh pertanian pns dalam melaksanakan tupoksi di kabupaten bogor (kasus di bp3k cibungbulang). Penyuluhan Pertanian. 5 (1):87-88.
Leeuwis, Cees. 2011. Komunikasi untuk pedesaan.  Yogyakarta: Kanisius.
Mardikanto, Totok. 2007. Pengantar ilmu pertanian. Solo: PUSPA.
Mardikanto, Totok. 2009. Sistem penyuluhan pertanian. Surakarta: UNS Press.
Rasyid A. 2012. Metode komunikasi penyuluhan pada petani sawah. Ilmu Komunikasi. 1 (1):  1-55.
Risyart. 2014. Respon petani terhadap penerapan metode penyuluhan pertanian di kota ambon provinsi maluku. Budidaya Pertanian. 10(1): 49-79.
Setiana, Lucie. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Bogor: Pernerbit Ghalia Indonesia.
Utami, Devi DY. 2015. Penyuluhan program bkkbn mengenai generasi berencana (genre) dan sikap remaja. Simbolika. 1 (2): 199-210.
Vamela J, Hasyim A, Nurmalisa Y. 2012. Persepsi siswa tentang proses pembelajaran leh gurunon pkn di sma bina mulya kedaton bandar lampung. Penelitian Pendidikan. 1 (1): 1-14.
Yudhawati, Ratna., dan Dany Haryanto. 2011. Teori-teori Dasar Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Yulida, Roza., Kautsar dan Lena Marjelita. 2012. Dampak kegiatan penyuluhan terhadap perubahan perilaku petani sayuran di kota pekanbaru. Agricultural Economics. 3(1): 53-78.

Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Punyuluhan Pertanian"