Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Morfologi dan Klasifikasi Tanah


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
    Tanah terdiri atas horison-horison yang terletak di atas batuan induk yang terbentukdari interaksi berbagai faktor pembentuktanah seperti iklim, organisme, bahan indukdan relief yang terjadi sepanjang waktu.Proses yang berbeda dalam pembentukan tanahakan menghasilkan tanah yang berbeda pulayang dapat diamati dari sifat morfologi tanah. Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang.Pengetahuan mengenai morfologi tanah dapat memberikan gambaran perubahan atau evolusi yang terjadi dalam tubuh tanah melalui deskripsi dan interpretasi sifat-sifat profil tanah yang dapat dijadikan sebagai informasi awal dalam mengklasifikasikan tanah.Klasifikasi tanah sangat penting untuk mengorganisasi pengetahuan kita tentang tanah sehingga sifat-sifat tanah dan produktivitasnya dapat diketahui.
    Sistem klasifikasi tanah yang digunakan untuk mengelompokkan tanah berdasarkan kesamaan dan kemiripan sifat yang dimiliki yaitu sistem soil taxonomy USDA dari kategori ordo hingga family sehingga sifat-sifat tanah yang penting untuk pertanian atau engineering dapat diketahui secara lebih pasti dan terperinci, sistem klasifikasi SKTN dan sistem klasifikasi FAO. Pengamatan bentuk luar tanah (morfologi) dilakukan dilapangan dengan cara menggali lobang didalam tanah yang disebut profil tanah.  Dinding profil tanah akan terlihat lapisan-lapisan tanah yang mempunyai warna yang berbeda dan sejajar dengan permukaan tanah. Lapisan-lapisan tanah ini disebut horison, yang merupakan bentuk fisik tanah yang pertama kali diamati dilapangan.  Bentuk lainnya yang dapat diamati adalah warna, tekstur, konsistensi, struktur, kutan, konkresi  dan nodul, pori-pori tanah dan batas horison. Hasil pengamatan morfologi tanah dilapangan ini maka didapatkan bentuk fisik tanah yang sama atau berbeda antara satutanah dengan tanah lainnya.
B. Tujuan Praktikum 
Praktikum Morfologi dan Klasifikasi Tanah dirancang dengan cara mahasiswa peserta praktikum langsung menuju pada beberapa lokasi suatu jenis tanah dengan tujuan sebagai berikut :
a. Mengetahui deskripsi lingkungan profil tanah
b. Mengetahui deskripsi profil tanah
c. Mengetahui klasifikasi tanah dari tata nama menurut SKTN, FAO dan USDA

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Morfologi Lingkungan
    Relief adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah termasuk didalamnya perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Macam bentuk relief dataran antara lain pegunungan, perbukitan, dataran tinggi, dataran rendah, lereng, lembah dan pematang. Relief mempengaruhi proses pembentuk tanah dengan cara: (1) mempengaruhi jumlah air hujan yang meresapatau ditahan masa tanah, (2) mempengaruhi dalamnya air tanah, (3) mempengaruhibesarnya erosi, dan (4) mengarahkan gerakan air berikut bahan-bahan yang terlarutdidalamnya (Haryanto 2011).
    Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil dari pada tanah yang berombak.  Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi jenis lahan, Objek dari topografi adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian. Topografi miring mempergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi kedalaman solum tanah, sebaliknya genangan air di dataran, dalam waktu lama atau sepanjang tahun, pengaruh iklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah (Agustino, 2010).
    Bahan induk terdiri dari batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan batuan metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami pelapukan dan menjadi tanah. Tanah yang terdapat di permukaan bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan induknya. Bahan induknya masih terlihat misalnya tanah berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi (Iskandar, 2012).
    Sifat-sifat dari bahan induk masih tetap terlihat, bahkan pada tanah humid yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut, contohnya tanah-tanah bertekstur pasir adalah akibat dari kandungan pasir yang tinggi dari bahan induk. Susunan kimia dan mineral bahan induk tidak hanya mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan, tetapi kadang-kadang menetukan jenis vegetasi alami yang  tumbuh di atasnya. Terdapatnya batu kapur di daerah humid akan menghambat tingkat kemasaman tanah. Di samping itu, vegetasi yang hidup di atas tanah berasal dari batu kapur biasanya banyak mengandung basa-basa lapisan tanah atas melalui serasah dari vegetasi tersebut maka proses pengasaman tanah menjadi lebih lambat (Haryanto, 2011). Konsep dasar tentang draft klasifikasi tanah nasional sebagai berikut:Tanah diklasifikasikan menurut Sistem Klasifikasi Pusat Penelitian Tanah (1981/1983) dengan beberapa modifikasi.Dasar pendekatan: morfogenetis (bahan induk, perkembangan horison dan sifat penciri tanah lainnya) dan merupakan penyempurnaak dari sistem klasifikasi tanah Dudal dan Soepraptohardjo (1957,1961).

B. Morfologi Dakhil Tanah
1. Struktur Tanah
    Struktur tanah adalah susunan ikatan partikel-partikel tanah satu sama lainmembentuk agregat tanah, merupakan sifattanah yang sangat ditentukan oleh partikel penyusun tanah (Rajamuddin, 2009).  Apabila tekstur mencerminkan ukuran partikel dari fraksi-fraksi tanah, maka struktur merupakan kenampakan bentuk atau susunan partikel-partikel primer tanah (pasir, debu dan liat individual) hingga partikel-partikel sekunder (gabungan partikel-partikel primer yang disebut ped (gumpalan) yang membentuk agregat (bongkah). Tanah yang partikel-partikelnya belum bergabung, terutama yang bertekstur pasir disebut tanpa struktur atau berstruktur lepas, sedangkan tanah bertekstur liat, yang terlihat massif (padu tanpa ruang pori, yang lembek jika basah dan keras jika kering) atau apabila dilumat dengan air membentuk pasta disebut juga tanpa struktur (Hanafiah, 2005).

2. Konsistensi Tanah
    Konsistensi tanah adalah derajat kohesi dan adhesi diantara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadapperubahan bentuk oleh tekanan berbagaikekuatan yang mempengaruhinya.  Istilah konsistensi tanah menunjuk pada tarikmenarik antar zarah tanah dalam suatu massatanah atau menunjuk pada ketahanannyaterhadap pemisahan atau perubahan bentuk(Kertonegoro, et al., 2011).
Konsistensi ditetapkan dalam tiga kadar air tanah, yaitu:
Konsistensi basah (pada kadar air sekitar kapasitas-lapang) untuk menilai derajat kelekatan tanah terhadap benda-benda yang menempelinya, yangdideskripsikan menjadi, tak lekat, agak lekat, lekat dan sangat lekat, sertauntuk menilai derajat kelenturan tanah terhadap perubahan bentuknya yaitunonplastis (kaku), agak plastis, plastis dan sangat plastis. Konsistensi lembab (kadar air antara kapasitas-lapang dan kering udara),untuk menilai derajat kegemburan-keteguhan tanah, dipilah menjadi, lepas,sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh dan ekstrim teguh. Konsistensi kering (kadar air kondidsi kering udara) untuk menilai derajatkekerasan tanah yaitu, lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras danekstrim keras (Hanafiah, 2005). 

3. Warna Tanah
    Warna tanah merupakan morfologi tanah yang dapat tegas disidik dan diukur.Warna tanah merupakan suatu alat yang dapat digunakanuntuk membedakan horizon-horizon tanahdari satu profil secara cepat.Warna tanahmerupakan pernyataan tentang: (a) jenis dankadar bahan organik, (b) keadaan pengatusandan aerasi tanah yang berhubungan dengan hidratasi, oksidasi dan proses pencucian, (c) tingkat perkembangan tanah, (d) kadar air tanah termasuk pula dalamnya permukaan air tanah, dan atau (e) adanya bahan bahantertentu.  Warna tanah dipengaruhi oleh empatjenis bahan, yaitu senyawa-senyawa besi,senyawa mangan dan magnesium, kuarsa dan feldspar, dan bahan organik (Darmawidjaya, 2010).

4. Tekstur Tanah
    Tekstur tanah ialah perbandingan relatif tiga golongan besar fraksi tanah (pasir,debu dan lempung) dalam suatu massa tanah (Notohadisuwarno, 2013). Fraksi tanahdikelompokkan berdasar atas ukuran tertentu,fraksi tanah ini dapat kasar ataupun halus.Pengalihan lempung lokal di dalam profil terjadi karena tanah mempunyai pengatusan dakhil yang agak terhambat. Pengayaan lempung pada profil tanah disebabkan oleh pengaruh suasana pembasahan lengas dan pengeringan yang berhubungan dengan lingkup lengas tanah (moisture regime) Perbedaan agihan besar butir lebih sering dihubungkan dengan perbedaan pelapukan, dimana pelapukan yang makin intensif akan menghasilkan fraksi halus lebih banyak (Notohadiprawiro dan Suparnowo, 2008).
    Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah (separat) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir (sand) (berdiameter 2,00 – 0,20 mm atau 2000 – 200 µm), debu (silt) (berdiameter 0,20 –0,002 mm atau 200 – 2 µm) dan liat (clay) (<2 µm). Partikel berukuran diatas 2 mm seperti kerikil dan bebatuan kecil tidak tergolong sebagai fraksi tanah (Hanafiah, 2005).Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah dari fraksi tanah halus (<2mm). Berdasar atas perbandingan banyaknya butir – butir pasir, debu dan liatmaka tanah dikelompokkan ke dalam beberapa macam kelas struktur :
1. Kasar, berupa pasir dan pasir berlempung
2. Agak kasar, berupa lempung berpasir dan lempung berpasir halus.
3. Sedang, berupa lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, dan debu.
4. Agak halus, berupa lempung liat, lempung liat berpasir, dan lempung liat berdebu
5. Halus, berupa liat berpasir
    Pada saat di lapangan tekstur tanah dapat ditetapkan berdasarkan kepekaan indera perasa(kulit jari jempol dan telunjuk) yang membutuhkan pengalaman dan kemahiran, dengan merasakan derajat kekasaran, kelicinan dan kelengketan. Melalui perbandingan rasa ketiganya maka secara kasar tekstur tanah dapat diperkirakan, misalnya indera kulit mersakan partikel-partikel:
1. Terasa kasar, tanpa rasa licin dan tanpa rasa lengket, serta tidak bisa membentuk gulungan atau lempengan kontinu, maka berarti tanah bertekstur pasir. 
2. Sebaliknya jika partikel tanah terasa halus, lengket dan dapat dibuatgulungan atau lempengan kontinu, maka berarti tanah bertekstur liat.
3. Tanah bertekstur debu akan mempunyai partikel-partikel yang terasa agakhalus dan licin tetapi tidak lengket, serta gulungan atau lempengan yangterbentuk rapuh atau mudah hancur. 
4. Tanah bertekstur lempung akan mempunyai partikel-partikel yangmempunyai rasa ketiganya secara proporsional, apabila yang tersa lebihdominan adalah sifat pasir, maka berarti tanah bertekstur lempungberpasir, dan seterusnya (Hanafiah, 2005)
    Tanah sebagai tubuh alam yang bebas mampu menumbuhkan tanaman karena memiliki sifat-sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup terhadap bahan induk dalam keadaan relief dan jangka waktu tertentu.Sifat-sifat tanah ditentukan di lapangan dengan melihat ciri-ciri morfologi profil yang merupakan hasil genesatanah dan pengaruh faktor-faktor pembentuk tanah (Lubis, 2006).Karakterisasi morfologi tanah, antara lain meliputi: warna tanah, tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, pori (Prijono et al., 2010). 
    Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang.Pengamatan sebaiknya dilakukan pada profil tanah yang baru dibuat.Pengamatan di lapang biasanya dimulai dengan membedakan lapisan-lapisan tanah atau horison-horison. Horison adalah lapisan dalam tanah lebih kurang sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah. Pada saat lapang masing-masing horison diamati sifat-sifatnya yang meliputi: warna, tekstur, konsistensi, struktur, kutan, konkresi dan nodul, pori-pori tanah (void), pH (metode lapang), batas-batas horison (Hardjowigeno, 1993).

C. Klasifikasi Tanah
1. Sistem Klasifikasi Tanah Nasional
    Sistem klasifikasi tanah nasional yang akan digunakan dalam mendukung pewilayahan komoditas pertanian mengacu kepada sistem klasifikasi tanah yang telah ada yang merupakan penyempurnaan dari sistem Dudal & Soepraptohardjo. Sistem klasifikasi tanah didasarkan pada morfogenesis, bersifat terbuka dan dapat menampung semua jenis tanah di Indonesia.Struktur klasifikasi tanah terbagi dalam 2 tingkat/kategori, yaitu Jenis Tanah dan Macam Tanah.Pembagian Jenis Tanah didasarkan pada susunan horison utama penciri, proses pembentukan (genesis) dan sifat penciri lainnya.Pada tingkat Macam Tanah digunakan sifat tanah atau horison penciri lainnya. Tata nama pada tingkat Jenis Tanah lebih dominan menggunakan nama Jenis Tanah yang lama dengan beberapa penambahan baru (Fiantis, 2010).
    Menurut Harjowigeno (1993) klasifikasi tanah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara membedakan sifat-sifat tanah satu sama lain dan mengelompokkan tanah kedalam kelas-kelas tertentu berdasarkan atas kesamaan sifat yang dimiliki.
Tingkat ordo dan subordo yang tidak dikenal, tanah diberi nama dengan nama mulai jenis tanah (Great group). Pada tingkat rupa dan seri penciri utamanya tekstur dan drainase tanah
Jenis Tanah : Latosol
Macam Tanah : Latosol Argilik
Rupa : Latosol Argilik, tekstur halus, drainase baik
Seri : Bengkulu (Latosol Argilik, tekstur halus, drainase baik)
Jenis Tanah dibedakan atas:
a. Organosol 
b. Litosol  
c. Renzina
d. Grumusol
e. Gleisol  
f. Aluvial
g. Regosol 
h. Andosol  
i. Latosol
j. Lateritik  
k. Kambisol  
l. Podsolik
m. Mediteran  
n. Planosol  
o. Podsol (Saleh, 2007).
 
2. FAO  
    Pengertian yang luas untuk lahan gambut ialah suatu daerah permukaan dataran bumi yang ciri-cirinya mencangkup semua tanda pengenal, baik yang bersifat cukup mantap maupun yang dapat diramalkan yang bersifat mendaur, dari biosfer, atmosfe, tanah, geologi, hidrologi dan populasi tanaman dan hewan, serta hasil kegiatan manusia  pada masa lampau dan kini, sejauh tanda-tanda pengenal tersebut memberi pengaruh murad atas penggunaan lahan oleh manusia pada masa kina dan masa mendatang (FAO, 1977)
    Harkat lahan ialah nilai lahan menurut kegunaan, manfaat atau fungsi yang dapat dijalankan.Harkat lahan berkaitan dengan mutu lahan. Mutu lahan ialah suatu tanda pengenal lahan yang terdiri atas sejumlah komponen, yang bertindak secara berbeda jelas dengan tindakan-tidakan mutu lain dari lahan dalam pengaruh atas kecocokan lahan untuk suatu macam penggunaan lahan tertentu. Pernyatan tiap mutu ditentukan oleh seperangkat ciri lahan yang berinteraksi. Bobot ciri lahan dalam interaksi berbeda dalam lingkungan yang berbeda dan begitu pula sebaliknya (Brinkman & smyth 1973, FAO 1977)
    Salah satu faktor lingkungan alamiah yang dipastikan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jati adalah faktor tanah.Mengingat pentingnya faktor abiotik tanah dan lahan, diperlukan pengetahuan tentang hubungan antara tanah dan tanaman.Indonesia, tanaman jati biasa ditanam pada tanah-tanah berkapur dengan pH agak masam sampai netral, memiliki solum yang dalam, berdrainase baik, dan memiliki musim kemarau yang jelas.Tanaman tahunan, jati perlu diusahakan pada tanah yang baik agar dapat diperoleh hasil yang optimal. Pengusahaan suatu komoditas, pada lahan yang tidak memiliki kesesuaian tumbuh pada hakekatnya merupakan pemborosan sumberdaya karena akan mengurangi produktivitas (Hallam et al. 2001; Bell 2013).

3. USDA
    Taksonomi tanah adalah bagian dari klasifikasi tanah baru yang dikembangkan oleh Amerika Serikat dengan nama Soil Taxonomy (USDA, 1975) menggunakan 6 kategori yaitu ordo, sub ordo, great group, sub group, family dan seri. Sistem ini merupakan sistem yang benar-benar baru baik mengenai cara-cara penamaan (tata nama) maupun definisi mengenai horizon penciri ataupun sifat penciri lain yang dugunakan untuk menentukan jenis tanah. Dari kategori tertinggi (ordo) ke kategori terendah (seri) uraian mengenai sifat-sifat tanah semakin detail (Rayes, 2007).
    Menurut Soil Taxonomy, Andisol adalah tanah yang memiliki sifat tanah andik setebal = 60 % dari 60 cm tanah teratas atau = 60 % dari ketebalan tanah hingga kontak densik, litik atau paraliti, duripan atau horizon petroklasik (kedalaman kontak densik, litik atau paralitik, duripan atau horizon petrokalsik < 60 cm).Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kateori,yaitu:Ordo, Subordo, Great group, Subgroup, Family, Seri. 
III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
    Praktikum Morfologi dan Klasifikasi Tanah ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 November 2018 pukul 07.00-17.00 WIB bertempat lokasi satu di Dusun Prigi Desa Pekel, lokasi dua Dusun Prigi Desa Pekel, lokasi tiga di Desa Balong, lokasi empat di Dusun Balong Desa Balong, lokasi lima di Desa Melik, lokasi enam di Desa Balong, yang terletak di Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar.

B. Alat  dan Bahan
1. Alat 
- Cangkul
- Mistar gulung/rol meter
- Buku warna Munsell
- Botol semprot
- Klinometer
- Altimeter
- Kompas
- Flakon
- pH meter/pH stick
- Kantong plastic
- Pipet
- Kamera
- Alat tulis
- Pisau belati

2. Bahan 
- Berbagai jenis tanah dari berbagai lokasi
- Kertas tissue
- Boardlist
- HCl 1,2 N
- HCL 2 N
- H2O2 10%
- KCl 1 N
- NaF 1 N
- Aquades
- KCNS 1 N
- K3Fe(CN)6 1 N
- Larutan α- αdypiridyl

C. Cara Kerja
1. Orientasi atau menentukan lokasi profil
a) Mencatat nama desa, kelurahan dan kabupaten
b) Memilih tempat untuk membuat profil
c) Mencatat: fisiografi, timbulan makro dan mikro, kemas muka tanah, erosi, hidrologi, ciri total laksana tanah, morfologi laksana tanah

2. Membuat pedon dan mengamati profil pewakil
a) Membuat lubang dengan ukuran 1,5 x 1 x 1,5 m
b) Membuat irisan tegak
c) Mencangkul bagian tebing

3. Identifikasi horison
a) Menentukan batas-batas lapisan atau horison tanah dengan cara mengamati perbedaan warna, menusuknya dengan ujung belati atau mengetuk-ngetuk dengan gagang belati
b) Mengukur tebal masing-masing lapisan dengan menggunakan roll meter
c) Menentukan jelas tidaknya batas antar horison dan bentuk horison tanah
d) Menentukan bentuk batas horison berdasarkan kriteria datar, berombak, tidak teratur dan patah
4. Tekstur Tanah
a) Mengamati contoh tanah dengan pisau
b) Membasahi tanah yang lembab atau kering secukupnya dengan aquadest dan memijit-mijitnya dengan tangan, di antara ibu jari dan telunjuk
c) Memperhatikan kesan yang timbul (kasar, licin atau plastis)
d) Menentukan klas tekstur tanah dan konsistensinya dari kesan yang diperoleh tersebut
e) Melakukan pengujian serupa untuk tiap horison
5. Warna Tanah
a) Mengamati contoh tanah dengan pisau kemudian dibawa ke tempat yang teduh lalu dipecah
b) Meletakkan permukaan tanah yang dipecah tersebut atau yang belum tersentuh tangan di bawah lubang pada lembaran Munsell
c) Mencocokkan Hue, Value, dan Chroma sampel tanah tersebut
d) Mencatat Hue, Value dan Chroma tadi
e) Menentukan warna tanah yang sebenarnya
f) Melakukan pengujian terhadap tanah untuk tiap horison

6. Struktur Tanah
a) Mengambil contoh tanah dengan pisau
b) Melakukan pemecahan agregat tanah sampai pada ukuran ped yang paling kecil
c) Mengamati permukaan sampel tersebut
d) Menentukan klas, derajat dan tipe struktur sampel tanah
e) Melakukan pengujian yang sama untuk tiap lapisan/horison
7. Konsistensi Tanah
a. Basah
1) Menentukan konsistensi berdasarkan kelekatannya, dengan memijit tanah antara ibu jari dan telunjuk, dengan kriteria sebagai berikut:
a) Tidak lekat: tanah tidak ada yang tertinggal di jari
b) Agak lekat: tanah tertinggal di salah satu jari
c) Lekat: tanah tertinggal pada kedua jari
d) Sangat lekat: sukar untuk melepaskan kedua belah jari
2) Menentukan konsistensi berdasarkan plastisitas yaitu dengan mempirit tanah antara ibu jari dan telunjuk, dengan kriteria sebagai berikut:
a) Tidak plastis: tidak dapat membentuk gelintir tanah, massa tanah mudah berubah bentuk
b) Agak plastis: terbentuk gelintir tanah, massa tanah mudah berubah bentuk
c) Sangat plastis: terbentuk gelintir tanah, tahan terhadap tekanan

b. Lembab
1) Memeras contoh tanah dengan telapak tangan
2) Mengamati ketahanannya terhadap remasan
3) Menentukan konsistensinya, dengan kriteria sebagai berikut:
a) Lepas: butir-butir tanah terlepas satu dengan lainnya tidak terikat, melekat bila ditahan
b) Sangat gembur: dengan sedikit tekanan mudah bercerai, bila digenggam mudah bergumpal, melekat bila ditahan
c) Gembur: bila diremas dapat bercerai, bila digenggam massa tanah bergumpal, melekat bila ditekan
d) Teguh: massa tanah tahan terhadap peremasan, hancur dengan tekanan besar
e) Sangat teguh sekali: massa tanah sangat tahan terhadap remasan bila digenggam tidak berubah

c. Kering 
1) Menekan atau meremas tanah dengan telapak tangan
2) Mengamati ketahanannya terhadap tekanan telapak tangan
3) Menentukan konsistensi dalam keadaan kering, dengan kriteria sebagai berikut:
a) Lepas: butir-butir tanah terlepas, satu dengan lainnya tidak terikat
b) Lunak: dengan sedikit tekanan antara jari-jari, tanah mudah bercerai menjadi butir kecil
c) Agak keras: tanah agak tahan terhadap tekanan, massa tanah rapuh
d) Keras: tahan terhadap tekanan, massa tanah dapat dipatahkan dengan tangan (tidak dengan jari-jari)
e) Sangat keras: tahan terhadap tekanan massa, tanah sukar dipatahkan dengan tangan
8. Aerasi dan Draenase Tanah
a) Mengambil dua bongkah tanah dan meletakkannya pada satu kertas saring
b)  Menetesi contoh tanah dengan HCl 1,2 N sampai jenuh
c) Menetesi contoh tanah I dengan KCNS 1 N sampai timbul warna merah, dan menetesi contoh tanah II dengan K3Fe(CN)6 1 N sampai timbul warna biru kemudian kertas dilipat dan dipijit-pijit
d) Membandingkan warna merah dan biru yang timbul. Jika dominan warna merah maka aerasi dan draenase baik; bila dominan biru maka sebaliknya. Jika sama berarti seimbang.
9. Mengukur pH tanah
a) Mengisikan 2 contoh tanah ke dalam 2 flakon, lalu botol 1 diberi aquadest dengan perbandingan tanah: aquadest = 1:1, untuk pH H2O
b) Mengisi flakon II dengan KCl 1 N dengan perbandingan sama seperti poin a
c) Mengocok flakon hingga homogen dan menunggunya selama 30 menit
d) Mengukur pH dengan pH stick dan mencatat nilai pHnya
e) Melakukan pengujian yang sama untuk tiap horison atau lapisan
f) Mengukur pH NaF dengan prosedur yang sama seperti pengukuran pH H2O dan pH KCl di atas, khusus untuk tanah yang mengandung mineral alofan
10. Bahan Organik
a) Mengambil contoh tanah pada tiap lapisan dan meletakkannya di atas kertas/daun
b) Menetesi tanah tersebut dengan H2O2 10% dan mengamati buih yang timbul
c) Membandingkan percikan yang timbul pada tiap horison yang berbeda dan menentukan kandungan bahan organiknya
11. Kadar Kapur
a) Mengambil contoh tanah dan meletakkan pada secarik kertas atau sehelai daun
b) Menetesi tanah dengan HCl 2 N dan mengamati buih yang timbul
c) Membandingkan percikan yang timbul pada tiap horison dan menentukan kandungan kapurnya

12. Pengamatan ciri-ciri khusus
a) Perakaran
1) Mengamati setiap lapisan tanah dalam profil
2) Menentukan banyaknya akar dan ukuran akar

b) Kemiringan Lahan
1) Mengambil alat klinometer lalu dibidik dengan kedua mata terbuka
2) Melihat sasaran bidikan sejauh (minimal) 25 meter dengan objek yang kurang lebih setinggi pembidik di sekitar lahan (searah dan lurus dengan dibuatnya profil)
3) Mencatat ketinggian objek dan menyesuaikannya dengan klinometer
c) Ketinggian Lahan
1) Mengamati kondisi lapangan
2) Melihat ketinggian lahan dengan altimeter

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

DAFTAR PUSTAKA

Agustino. 2010. Tinjauan Pusataka Tanah. Universitas Gorontalo.Gorontalo

Darmawijaya, M. I. 2010. Klasifikasi Tanah Dasar dan Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia. Gambung Bandung : Balai Penelitian The dan Kina

Fiantis, Dian. 2010. Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Padang : Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi

Hanafiah, K Ali. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Hardjowigeno, S, 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis.Bogor : Akapress

Haryanto.2011. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Lahan.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Iskandar, A. 2012.Klasifikasi Tanah di Dekat Daerah Sumber Mata Air Panas pada Daerah Vulkanis di Kanagarian Cupak, Kanagarian Koto Anau dan Kanagarian Batu Bajanjang.Padang : Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Kertonegoro, B.D, et al. 2011. Panduan Analisis Fisika Tanah. Yogyakarta : UGM 

Lubis, Muhammad. 2006. Biologi Tanah. Medan : Jurusan Ilmu Tanah Fakultas  Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara

Notohadiprawiro dan S.H. Suparnowo. 2008. Asas-Asas Pedologi. Yogyakarta : Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM

Notohadisuwarno, S. 2013. Bahan Kuliah Fisika Tanah. Yogyakarta : Ilmu Tanah UGM

Prijono et al,. 2001. Studi Perubahan Penggunaan Lahan di Sub DAS Citarik, Jawa Barat dan DAS Kaligarang, Jawa Tengah. Bogor : Puslitbangtanak bekerja sama dengan MAFF Jepang dan Sekretariat Asean

Rajamuddin, A. Ulfiyah. 2009. Kajian Tingkat Perkembangan Tanah Pada Lahan Persawahan di Desa kaluku Tinggu Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. J Agroland 16 (1) : 45-52

Rayes, M. L. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Yogyakarta : Andi Yogyakarta

Saleh et al,.2007. Lahan Kering untuk Pertanian. Dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Bogor : Badan Litbang Deptan 


Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Morfologi dan Klasifikasi Tanah"