Laporan Praktikum Microcutting (Stek Mikro)

 

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
    Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salahsatu komoditas sayuran dataran rendah, berasal dari Syria dan telahdibudidayakan semenjak 5 tahun yang lalu. Bawang merah merupakantanaman semusim yang memiliki umbi yang berlapis, berakar serabut dengan daun berbentuk silinder berongga.Umbi bawang merah terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi.Umbi terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu.Tanaman ini dapat ditanam di daratan rendah sampai daratan tinggi yang tidak lebih dari 1400m dpl.Di daratan tinggi umbinya lebih kecil dibanding daratan rendah.
    Microcutting sendiri mempunyai beeberapa tahapan yaitu primary culture, multiplikasi, conditioning, rooting dan aklimatisasi.Teknik ini pada awaklnya dikembangkan di Cirad, Perancis dan telah diadopsi oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di Bogor. Adopsi teknologi baru seperti microcutting sangat diperlukan untuk peningkatan hasil yang optimal. Microcutting merupakan salah satu contoh dari teknik kultur jaringan yang berperan dalam pengembangan bibit atau bahan tanam dengan sifat ekologis yang kuat. Kultur jaringan banyak memecahkan masalah pertanian seperti produksi tanaman sepanjang tahun dan salah satu contoh teknik budidaya yang mudah.
Keberhasilan microcutting pada bawang merah ditandai dengan munculnya tunas dan akar pada potongan umbi bawang merah yang disemaikan.ZPT adalah singkatan dari Zat Pengatur Tumbuh.Bagi tanaman zat pengatur tumbuh dapat mempengaruhi apa yang akan terjadi pada tumbuhan tersebut. Zat pengatur tumbuh merupaka senyawa organik tetapi bukan hara yang apabila diberikan dengan jumlah sedikit bisa saja menghambat, mendukung, serta dapat merubah proses fisiologi tumbuhan tersebutZat pengatur tumbuh dibuatagartanamanmemacu pembentukan fitohormon (hormon tumbuhan) yang sudah ada di dalam tanaman. Zat ZPT yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah IAA,NAA, IBA, dan GA3.

2. Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakannya praktikum microcutting adalah mempelajari ZPT terhadap pertumbuhan bahan stek mikro umbi bawang merah..

B. Tinjauan Pustaka
    Tanaman bawang merah termasuk tanaman berumbi atau spermatophyte, memiliki biji tunggal dan memiliki ciri akar serabut. Tanaman bawang merah memiliki nama latin Allium ascalonicumL. Berikut taksonomi tanaman bawang merah:  
a. Kingdom : Plantae
b. Divisi : Spermatophyta
c. Subdivisi : Angiospermae
d. Kelas : Monocotyledonae
e. Ordo : Liliales
f. Famili : Liliaceae
g. Genus : Allium
h. Spesies : Allium cepa L.
Umumnya bawang merah di dataran rendah memiliki umur hingga 60-80 hari setelah tanam (HST). Sedangkan untuk bawang merah yang ditanam didataran tinggi memiliki umur yang lebih lama yaitu 90-110 HST. (Firmansyah dan Astri, 2013)
    Secara morfologi, bagian tanaman bawang merah dibedakan atas akar,batang, daun, bunga, buah dan biji. Akar tanaman bawang merah terdiri atas akarpokok (primary root) yang berfungsi sebagai tempat tumbuh akar adventif(adventitious root) dan bulu akar yang berfungsi untuk menopang berdirinya tanaman serta menyerap air dan zat-zat hara dari dalam tanah.Akar dapat tumbuhhingga kedalaman 30 cm, berwarna putih, dan jika diremas berbau menyengatseperti bau bawang merah (Ruslan 2016).
    Bawang merah ini (Allium ascalonium memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, dalam hal nilai ekonomi serta rempah-rempah atau bumbu penyedap dan kesehatan. Penanganan panen bawang merah harus dilakukan segera setelah panen karena komoditas ini mudah rusak. Tahap awal pasca penanganan panen dari bawang merah adalah proses penyembuhan dan mengungkapkan penyembuhan bawang merah bertujuan untuk mengeringkan cangkang luar dan umbi leher membentuk semacam umbi kering. Umbi bawang merah yang telah disembuhkan memiliki kulit mengkilap dan tangguh dan juga umbi leher kering dan sempit terungkap. Peluruhan panen yang umum terjadi pada komoditas bawang merah adalah penurunan berat badan yang tinggi, pertumbuhan tunas, pelunakan cangkang, pertumbuhan akar, pembusukan dan juga pertumbuhan kapang. atau di tingkat rumah tangga (1 - 2 bulan) untuk konsumsi sehari-hari. (Djali dan Selly. 2013)
    Microcutting merupakan salah satu pembiakan vegetatif pada bawang merah yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan tunasnya. Keberhasilan microcutting pada bawang merah di tandai dengan munculnya tunas dan akar pada potongan umbi bawang merah yang disemaikan. teknik microcutting pada bawang merah berpengaruh sangat nyata pada kecepatan tumbuh tanaman. Metode microcutting secara tunggal dengan arah horizontal menghasilkan kecepatan tumbuh 1,58 hari, tinggi tanaman 25,60 cm, jumlah daun 22,58 helai, jumlah anakan per tanaman sampel 5,42 siung, dan produksi tanaman per plot 228,17 g/plot (Zulia 2017).
    Microcutting atau setek mikro adalah suatu teknik pembiakan mikro, dengan menggunakan batang tanaman dengan ukuran mini. Pada tanaman kentang proses setek dapat dilakukan bahkan pada tanaman yang baru memiliki 1-3 node. Pada teknik ini dapat diambil langsung bagian tanaman (tunas) untuk ditanam pada media, supaya tumbuh akar dan selanjutnya dapat tumbuh menjadi individu baru (Singh et al 2012).
    Stek mikro merupakan potongan batang yang berasal dari hasil kultur in vitro, dalam memperbanyak stek diperlukan medium dengan penambahan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Medium yang digunakan adalah medium Murashige & Skoog.ZPT yang sering dimanfaatkan untuk memperbanyak stek mikro adalah NAA dan BAP. NAA dan BAP yang ditambahkan diharapkan dapat merangsang pertumbuhan stek mikro, sehingga stek segera tumbuh dan akan memacu pembentukan tunas dan akar (Sari et al. 2015). 
    Zat pengatur tumbuh (hormon) adalah senyawa organik bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat, dan mengubah proses fisiologi tumbuhan. Zat pengatur tumbuh dalam tanman terdiri dari lima kelompok, yaitu auksin, giberelin, sitokinin, ethylene generators, dan inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis. Zat ini mudah berdifusi ke dalam tubuh tanaman, memperkuat, dan memperbesar batang. Zat pengatur tumbuh akan bekerja dengan baik dalam konsentrasi yang tepat (Purwanta et al. 2015).
    Hormon auksin pertama kali digunakan oleh Frits Went yang menemukan bahwa suatu senyawa menyebabkan pembengkokan koleoptil arah cahaya.Pembengkokan koleoptil yang terjadi akibat terpacunya pemanjangan sel pada sisi yang ditempeli potongan agar yang mengandung auksin.Auksin yang ditemukan Went kini diketahui sebagai asam indol asetat (IAA). Selain IAA, tumbuhan mengandung tiga senyawa lain yang dianggap sebagai hormon auksin, yaitu 4- kloro indolasetat (4-kloro IAA) yang ditemukan pada benih muda jenis kacangkacangan, asam fenil asetat (PAA)yang ditemui pada banyak jenis tumbuhan, dan asam indol butirat (IBA) yang ditemukan pada daun jagung dan berbagai jenis tumbuhan dikotil. Fungsi hormon auksin adalah untuk perkecambahan benih dan dapat mematahkan dormansi benih yang akan merangsang proses perkecambahan. Penggunaan hormon auksin akan menaikkan kuantitas hasil panen. Pembentukan akar yang menggunakan hormon auksin akan memacu proses terbentuknya akar serta pertumbuhan akar dengan lebih baik (Fahmi 2014).
Penggunaan zat pengatur tumbuh untuk meningkatkan multiplikasi biakan, dan penggunaan beberapa komposisi media tanam pada tahap aklimatisasi.Perlakuan media tumbuh pada penanaman secara in vitro adalah kombinasi antara media dasar (MS dan Gamborg) dengan 3 macam zat pengatur tumbuh (BAP, kinetin, dan thidiazuron) pada beberapa taraf konsentrasi. Aklimatisasi di rumah kaca menggunakan beberapa media tumbuh, yaitu (1) campuran tanah + pupuk kandang, (2) tanah + sekam, (3) tanah + kompos, (4) tanah + casting dengan perbandingan 1 : 1 (Hutami 2012).

C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum prosesing dan penyimpanan benih ini dilaksanakan pada hari Kamis, 17 Oktober 2019 pada pukul 15.30 – 17.15 WIB di Laboratorium EMPT Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Tanah
2) Pasir
3) Polibag
b. Bahan
1) Umbi Bawang Merah (Allium ascalonicum)
2) ZPT (IAA,NAA,IBA, dan GA3)

3. Cara Kerja
a) Buat larutan ZPT dari golongan IAA, IBA, NAA dan GA3 dengan konsentrasi yang telah ditentukan (0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, dan 1500 ppm)
b) Potong umbi bawang merah sekecil mungkin
c) Rendam potongan umbi yang akan ditanam (selama 5 menit)
d) Tanam stek mikro yang telah direndam.
e) Pelihara dan mengamati
f) Amati proses perkecambahan setiap hari selama seminggu (waktu muncul daun, tinggi daun, dan jumlah daun)
4. Pengamatan yang Dilakukan
Proses perkecambahan setiap hari selama seminggu meliputi waktu muncul tunas, tinggi tunas, dan jumlah tunas.

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 


DAFTAR PUSTAKA
DjaliMohamad, SellyHarnesa Putri. 2013. The Characteristic Change of Shallot (Allium ascalonicum L.) During Curing Process. Vol.3 No. 2
Firmansyah M. Anang dan Astri Anto. 2013. TeknologiBidudayaBawang Merah LahanMarjinal di LuarMusim. Palangkaraya: Kantor Perwakilan Bank Indonesi
Hutami S. 2012. Perbanyakan klonal temu manga (Curcuma manga) melalui kultur jaringan. J Penelitian Bioteknologi. 9 (1) : 39-44
Ruslan, J.A. 2016. Transmisi harga dan perilaku pasar bawang merah. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor
Purwanta S, Sumantoro P, Setyaningrum HD, Saparinto C. 2015. Budi daya dan bisnis kayu jati. Jakarta: (ID) Penebar Swadaya.
Sari HS, Dwiati M, Budisantosa I. 2015. Efek naa dan bap terhadap pembentukan tunas, daun, dan tinggi tunas stek mikro Nepenthes ampullaria jack. J. Biosfera 32(3): 194-201
Singh B Sharma S Rani G Hallan V Zaidi AA Virk GS Nagpal A 2012. In Vitro Micrografting for Production of Indian Citrus ringspot Virus (ICRSV)- Free Plants of Kinnow Mandarin (Citrus nobilis Lour x C. deliciosa tenora). Plant Biotech Rep. 11 (2) : 137-143
Zulia C. Safruddin, Kurniadi DA. 2017. Pengaruh metode microcutting dan pemberian pupuk organik pada pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium cepa). J. Penelitian Pertanian BERNAS 13(3): 39-45

Posting Komentar

0 Komentar