Laporan Praktikum Ilmu Usaha Tani


 
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
    Pertanian merupakan sumber mata pencaharian masayarakat Indonesia. Sektor usaha pertanian meliputi pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan merupaka kegiatan yang banyak berperan dalam peningkatan pendapatan domestic bruto (PDB) nasional. Salah satu hasil pertanian yang strategis adalah padi. Produk turunan padi berupa beras merupakan bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dibandingkan dengan bahan pangan lainnya. Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan konsumsi beras perkapita pertahun meningkat menyebabkan konsumsi beras perkapita pertahun meningkat dari 135 kg/orang/tahun pada tahun 2005 menjadi 139 kg/orang/tahun pada tahun 2010.
    Ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari himpunan dari sumber alam atau organisasi dari faktor-faktor alam, tenaga kerja, dan modal untuk menghasilkan produksi pertanian. Berdasarkan kata lain, ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Tujuan diadakannya usahatani adalah untuk mengetahui besarnya biaya dan pendapatan dari suatu usahatani dan juga untuk menganalisis efisiensi dan kemanfaatan dari suatu usahatani dengan analisis R/C ratio dan B/C ratio.
    Kangkung termasuk sayuran yang populer dan digemari masyarakat Indonesia. Tanaman kangkung berasal dari India sekitar 500 SM, yang kemudian menyebar ke Malaysia, Birma, Indonesia, Cina Selatan, Australia dan Afrika. Nama latin kangkung adalah Ipomoea reptans. Kangkung bergizi tinggi dan lengkap dengan kandungan yang ada pada kangkung seperti kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, posfor, zat besi, natrium, kalium, vitamin A, vitamin B, vitamin C, karoten, hentriakontan, dan sitosterol. Senyawa kimia yang dikandung adalah saponin, flavonoid, dan poliferol. Serat pada kangkung sangat baik untuk mencegah konstipasi sehingga dapat menghalangi terjadinya kanker perut. Karetenoid dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A serta klorofil tinggi.Kedua senyawa ini berperan sebagai antioksidan yang berguna untuk mencegah penuaan dan menghalangi mutasi genetik penyebab kanker.
    Tujuan akhir dalam pengelolaan usahatani adalah untuk memperoleh  pendapatan petani yang sebesar-besarnya, sehingga besarnya usahatani tersebut dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan dalam pengelolaan usahatani. Pada proses selanjutnya, pendapatan usahatani akan digunakan oleh petani untuk membiayai proses produksi berikutnya dan untuk konsumsi keluarga, sedangkan sisa dari pendapatan tersebut disimpan sebagai tabungan atau untuk mendanai usaha lain. Pada usahatani, terdapat perhitungan untuk memperoleh suatu keuntungan yang akan diterima. Perhitungan tersebut seperti penerimaan, biaya, pendapatan, R/C ratio, dan B/C ratio. Perhitungan-perhitungan tersebut digunakan untuk menganalisis biaya-biaya ushatani tersebut dapat memenuhi target keuntungan yang diinginkan atau tidak.

B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
Melatih mahasiswa untuk melakukan praktik bududaya tanaman, analisis biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan sampai dengan pemasaran hasil usahatani.
2. Tujuan 
Tujuan dilaksanakannya praktikum Ilmu Usahatani adalah sebagai berikut.
a. Melakukan praktik budidaya tanaman semusim
b. Menghitung biaya, penerimaan, pendapatan, dan keuntungan
c. Memasarkan hasil praktik budidaya tanaman semusim
d. Menganalisis efisiensi usahatani dengan analisis “R/C” ratio dan “B/C” ratio.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Budidaya Tanaman
    Kangkung (Ipomea sp.) merupakan sayuran yang dapat ditanam, baik di perairan (rawa-rawa) maupun di darat. Sesuai dengan tempat tumbuhnya tersebut, ada dua macam varietas kangkung, yaitu kangkung air dan kangkung darat. Kangkung air dapat tumbuh baik pada tempat yang basah dan berair. Tanaman kangkung dapat tumbuh di semua jenis tanah dan perairan tawar, seperti sungai, danau, aliran air, kolam, maupun sawah. Agar dapat tumbuh secara optimal, tanaman kangkung membutuhkan curah hujan 500-5.000 mm/tahun, tanah yang gembur dan subur, dan berada pada ketinggian 1-2.000 m dpl. Sementara pertumbuhan kangkung tidak dipengaruhi oleh keasaman tanah (Setyaningrum dan Saparinto, 2011).
    Kangkung (Ipomea sp.) merupakan sayuran yang dapat ditanam, baik diperairan (rawa-rawa) maupun di darat. Sesuai dengan tempat tumbuhnya tersebut, ada dua macam varietas kangkung, yaitu kangkung air dan kangkung darat. Kangkung darat dapat tumbuh baik ditempat yang kering, namun terdapat atau membutuhkan air (Hanum, 2008)
    Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani, karena benih yang baik akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang bagus. Benih sebaiknya disebar merata pada bedengan persemaian, dengan media semai setebal kurang lebih 7 cm dan disiram. Benih yang telah disebar ditutup dengan media semai dan bedengan persemaian sebaiknya diberi naungan (Taufik, 2012)
Bibit umur 1-2 minggu setelah penyemaian, dipindahkan pada media tanam atau lubang tanam yang telah disediakan. Sistem penanaman dilakukan secara zig-zag atau sistem baris. Penyulaman dilakukan jika tidak ada yang tumbuh dari bibit, yakni tindakan penggantian tanaman dengan tanaman baru. Penyiraman pada tanaman dilakukan dari awal sampai panen. Penyiangan dilakukan 2 kali atau disesuaikan dengan kondisi gulma, dan jika perlu dilakukan penggemburan yang dilakukan bersamaan dengan penyiangan (Edi dan Bobihoe, 2010)
    Pemeliharaan yang perlu diperhartikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujan harus dilakukan penyiraman. Pengendalian gulma juga perlu diperhatikan guna menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit. Pengendalian hama dapat menggunakan pestisida yang aman dan mudah terurai. Penggunaan pestisida harus dilakukan dengan benar dan baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara pengaplikasian, interval dan waktu penggunaan (Nurmala, 2014).

B. Landasan Teori
1. Ilmu Usahatani
    Ilmu usaha tani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu usaha tani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani  menentukan, mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi selektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin. Usaha tani yang produktif atau efisien, yaitu usaha tani yang produktivitasnya tinggi, umumnya dikatakan bagi usaha tani yang bagus (Suratiyah, 2015).
    Tujuan suatu usaha tani yang dilaksanakan oleh rumah tangga petani mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengambilan keputusan dan tindakan yang akan diambil, maupun terhadap pandangan rumah tangga akan keberlangsungan dan kemampuannya dalam menerima berbagai pembaharuan, termasuk teknologi pertanian. Usaha tani yang dilakukan oleh rumah tangga petani umumnya mempunyai dua tujuan, yaitu mendapatkan keuntungan yang maksimal atau untuk sekuriti (keamanan) dengan cara meminimalkan risiko, termasuk keinginan untuk memiliki persediaan pangan yang cukup untuk konsumsi rumah tangga dan selebihnya untuk dijual (Soedjana, 2007).
Aspek usaha tani, untuk memacu produksi perlu dilakukan juga perluasan kawasan usaha tani pada lokasi spesifik, perbaikan mutu bibit dan reproduksi, perbaikan budidaya dan perbaikan pasca panen yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani dan pengolahan hasil. Hal ini sangat berguna dalam pembaharuan dalam usahatani. Meningkatkan produksi tanpa menurunkan kualitas akan produk yang akan di produksi dalam usaha tani tersebut (Kusnadi, 2008).
    Struktur usaha tani menunjukkan bagaimana suatu komoditi diusahakan. Cara pengusahaan dapat dilakukan secara khusus (lokasi), tidak khusus (berganti-ganti lahan atau varietas tanaman) dan campuran (dua jenis atau lebih varietas tananaman). Ada pula yang disebut dengan “mix farming” yaitu manakala pilihannya antara dua komoditi yang berbeda polanya, misalnya hortikultura.  Sistem tersebut akan memudahkan dalam mengelola komoditi yang berbeda serta dapat meningkatkan produktivitas (Shinta, 2011).

2. Biaya Usahatani
    Analisis kelayakan usaha tani adalah studi kelayakan suatu usaha ditinjau dari sudut ekonomi, dimana perkiraan biaya dan pendapatan termasuk didalamnya. Perkiraan biaya dan pendapatan tidak besifat tetap, tetapi dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan iklim usaha. Perkiraan biaya dan pendapatan ini juga akan berbeda bagi daerah lain karena perbedaan kondisi agroklimat dan agroekonomi. Akan tetapi, perkiraan biaya ini dapat memberikan gambaran kelayakan secara ekonomis yang dapat dijadikan pedoman sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan usaha tani (Cahyono, 2008).
    Biaya adalah nilai dari semua masukan ekonomis yang diperlukan, yang dapat diperkirakan dan dapat diukur untuk dalam bentuk benda maupun jasa selama proses produksi berlangsung. Biaya usahatani dipengaruhi oleh topografi, struktur tanah, jenis dan varietas komoditi yang diusahakan, tehnik budidaya serta tingkat teknologi yang digunakan. Penggunaan faktor produksi yang berlebihan akan meningkatkan biaya produksi yang pada akhirnya akan mengurangi pendapatan usaha tani jika tambahan biaya yang dikeluarkan lebih tinggi daripada tambahan penerimaan karena didalam pertanian dikenal dengan hukum Kenaikan Hasil yang Semakin Berkurang (The Law of Deminishing Return)
(Sundari, 2011).
    Biaya investasi adalah biaya yang diperlukan petani pada saat memulai usahanya dan yang akan dikeluarkan kembali pada saat atau usia ekonomis investasi tersebut telah habis. Termasuk dalam biaya investasi adalah tanah, bangunan, mesin, bibit ternak, dan peralatan tidak habis pakai. Biaya tetap adalah biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani atau peternak dan tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi dalam suatu siklus produksi, misalnya biaya kandang, peralatan, perbaikan, depresiasi, dan upah manajer. Biaya operasional atau biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan produksi, seperti biaya pakan konsentrat, hijauan, mineral, obat-obatan, serta tenaga pemelihara atau buruh. Total nilai penjualan biasanya dihitung setiap tahun dan untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar. Cara seperti ini dilakukan di negara yang sudah maju dan digunakan juga untuk mengelompokkan skala usaha kecil, menengah, dan besar. Skala usaha juga dapat diukur dengan melihat luas areal yang diusahakan oleh petani atau satuan ternak yang dimiliki peternak. Dalam sistem usaha yang terintegrasi, kombinasi komponen usaha tani tersebut menentukan usaha (Soedjana, 2007).
    Biaya-biaya tak langsung seperti pajak, retribusi, biaya konsumsi, biaya keamanan, asuransi, jaminan social tenaga kerja atau biaya tak langsung lain yang berkaitan dengan pengelolaan proyek juga masuk sebagai komponen biaya pengelolaan. Subsidi atau potongan harga yang diterima petani scara tunai harus dimasukkan dalam analisis usaha sebagai unsure pengelolaan yang bernilai negatif ataupun sebagai unsure penerimaan lain-lain yang bernilai positif. Berdasarkan pengaruhnya terhadap kuantitas produk, biaya produksi usaha tani dibagi menjadi dua jenis, yakni biaya variable dan biaya tetap. Biaya variabel adalah jenis biaya usaha tani yang besarnya berubah sesuai dengan perubahan produk. Biaya tetap adalah jenis biaya yang besarnya tidak berubah berapapun produk usaha tani yang dihasilkan. Hasil pengurangan dari pendapatan kotor dengan biaya variabel usaha tani disebut marjin kotor usaha tani. Marjin kotor usaha tani akan sangat berguna dalam analisis anggaran parsial dan analisis program linear (Wahyudi et al, 2008).

3. Penerimaan Usahatani
    Menghitung penerimaan usahatani yaitu dengan mengalikan jumlah produksi per hektar dengan harga jual per satuan kg. Penerimaan usahatani dirumuskan dengan TR (Total Revenue). Penerimaan usahatani dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti luas usahatani, jenis dan harga komoditi usahatani yang diusahakan. Namun, keterbatasan kesempatan kerja dan investasi di luar pertanian (opportunity cost sama dengan nol) juga dapat berpengaruh pada penerimaan usahatani yang umumnya terjadi di pedesaan (Sundari, 2011).
    Analisis usaha tani adalah suatu analisis pendapatan usahatani yang merupakan salah satu cara untuk mengetahui keuntungan atau kerugian dari suatu proses produksi. Data yang diperlukan untuk ini adalah jumlah dan harga masukan yang digunakan serta jumlah keluaran yang dihasilkan (penerimaan). Usahatani dapat dikatakan layak dilaksanakan apabila penerimaan lebih besar, sedangkan usahatani dikatakan rugi bila penerimaan lebih kecil. Tanaman tertentu kadang memiliki fase nonproduktif yang menyebabkan arus penerimaan lebih kecil dari arus pengeluaran. Sebagai kompensasinya, petani sering merencanakan penanaman beberapa jenis tanaman precropping. Besarnya nilai penerimaan yang negatif mencerminkan besarnya modal yang haru dimasukan ke dalam proyek usaha tani (Wahyudi et al, 2008).
Analisis biaya dan penerimaan merupakan suatu analisis usaha tani yang paling mudah. Analisis ini dilakukan dengan mengurangkan biaya terhadap penerimaan, sehingga diperoleh penerimaan bersih atau disebut juga keuntungan. Penerimaan secara umum didefinisikan sebagai uang yang diterima dari hasil penjualan produk yang dihasilkan dari usaha tani. Perhitungan penerimaan menggunakan asumsi semua produk terjual sempurna. Namun, perlu adanya penerapan presentase kerusakan yang biasanya ditetapkan sebesar 5-10%. Selain mudah, analisis ini memiliki manfaat sebagai pengendali pos-pos biaya dalam usaha tani serta menjadi dasar perhitungan analisis lain (Dahana dan Warisno, 2010).
    Pendapatan atau keuntungan akibat adanya upayapeningkatan kualitas produk diperoleh apabilatambahan penerimaan dan pengeluaran yangdihemat lebih besar daripada penerimaan yanghilang dan tambahan biaya karena upayapeningkatan kualitas produk. Sebaliknya,kerugian diperoleh apabila tambahan penerimaandan pengeluaran yang dihemat lebih lebih kecildaripada penerimaan yang hilang dan tambahanbiaya karena upaya peningkatan kualitas produk.Apabila diperoleh pendapatan atau keuntunganyang diperoleh, berarti upaya peningkatan kualitas produk layak untuk dilakukan. Namun, apabilakerugian yang diperoleh, maka upaya peningkatankualitas tidak layak dilakukan (Sannia et al, 2013).

4. Pendapatan Usahatani
    Pendapatan usahatani adalah pendapatan yang berasal dari kegiatan usahatani besarnya dinyatakan dalam jumlah uang untuk dipergunakan dalam memenuhi keberhasilan usahatani yang dihasilkan. Pendapatan kotor berasal dari seluruh pendapatan yang diperoleh dari semua cabang usahatani yang dapat diperhitungkan dari hasil penjualan. Pendapatan petani merupakan sebagian dari pendapatan kotor yang berisikan sebagai sisa atau benda daripada pengurangan nilai penerimaan usahatani dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. Pendapatan ini dapat dinyatakan besarnya balas jasa atas penggunaan tenaga kerja keluarga, modal sendiri, dan keahlian pengelolaan pertanian (Subandriyo, 2016).
    Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan seseorang atau masyarakat sehingga pendapatan masyarakat mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Pendapatan usahatani adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh petani atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan maupun tahunan dalam kegiatan usahatni. Kegiatan usaha pada akhirnya akan memperoleh pendapatan berupa nilai uang yang diterima dari penjualan produk yang dikurangi biaya yang telah dikeluarkan (Lumintang, 2013). 
Kegiatan pengolahan hasil pertanian menjadi penting karena pertimbangan diantaranya, yaitu meningkatkan nilai tambah, meningkatkan kualitas hasil, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan keterampilan dan meningkatkan pendapatan produsen. Pengolahan yang baik akan menghasilkan nilai pendapatan yang besar pula. Nilai tambah bagi kegiatan agroindustri dapat terjadi sebagai akibat proses produksi yang mentransformasikan input agroindustri menjadi output agroindustri. Besarnya nilai tambah yang dapat diketahui digunakan untuk mengetahui informasi mengenai besarnya pendapatan bagi tenaga kerja langsung serta keuntungan tanpa memperhatikan biaya tetap (Ngamel, 2012).
Prakiraan pendapatan memiliki sifat yang tidak tetap atau memiliki banyak faktor dalam pergerakannya. Kondisinya dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan iklim yang sedang terjadi saat kegiatan usahatani. Prakiraan pendapatan petani yang dapat diperoleh akan berbeda sesuai daerah tempat kegiatan agronomi yang sedang dijalankan. Prakiraan pendapatan usahatani dapat menjadi gambaran kelayakan kegiatan usahatani yang sedang diupayakan oleh petani  serta dapat dijadikan pedoman dalam bahan pertimbangan perencanaan usatahai yang akan dilakukan (Cahyono, 2008).

5. Keuntungan Usahatani
    Menurunnya hasil produksi dan produktivitasmenunjukkan indikasi adanya risiko yangmempengaruhi tingkat keuntungan usahatani. Selain itu, harga yang berfluktuasidapat mempengaruhi tingkat keuntungan petani.Peningkatan produksi pada panen raya dapatmempengaruhi keuntungan yang diterima petani. Namun, rendahnya harga pada musim panen rayaberakibat pada keuntungan yang diterima petanimenjadi rendah. Oleh karena itu, naik turunnyaharga menjadi salah satu risiko yang harus diterimapetani dalam memperoleh keuntungan (Heriani et al, 2013).
    Pendapatan usahatani, dibedakan antara pendapatan kotor dan pendapatan bersih atau keuntungan usahatani. Pendapatan kotor usahatani (gross farm income), atau disebut nilai produksi atau penerimaan kotor usahatani (gross return), adalah nilai produk total usahatani dalam waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Pendapatan bersih atau keuntungan usahatani adalah selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani. Secara teknis, keuntungan dihitung dari hasil pengurangan antara jumlah penerimaan (total revenue) dengan jumlah biaya (total cost) yang dikeluarkan dalam proses produksi (Suwarto, 2011).
    Salah satu indikator prestasi dari suatu usaha adalah kemampuan menghasilkan keuntungan (profitability). Keuntungan merupakan indikasi apakah usaha itu berhasil atau tidak dalam kelangsungan hidup. Keuntungan yang diperoleh suatu usaha akan mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Efisiensi alokatif memperlihatkan kemampuan relatif dari usahatani untuk menggunakan input untuk menghasilkan output pada kondisi biaya minimal atau keuntungan maksimal pada tingkat teknologi tertentu.  Efisiensi alokatif bisa diperoleh pada kondisi usahatani yang efisien secara teknis (Kusnadi et al, 2011).
Keuntungan usahatani ada dua unsur yang digunakan yaitu unsur penerimaan dan biaya dari usahatani tersebut. Petani subsisten tidak perpedoman pada maksimalisasi keuntungan namun pada minimalisasi risiko pada kegiatan usahatani. Berbeda dengan perusahan pertanian yang mengacu pada maksimalisasi keuntungan atau laba sebesar-besarnya dengan perhitungan antara selisih nilai hasil produksi dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan. Adakalanya pada kegiatan usahatani keuntungan datang kepada produsen dari pada konsumen karena produksi kotor yang lebih tinggi dan lebih menguntungkan tidak selalu berpihak pada petani yang mengusahakan usahatani karena hasil usahatani memiliki nilai yang tidak stabil sesuai dengan keadaan yang terjadi pada produsen, konsumen, dan hasil usahatani (Suratiyah, 2015).

6. R/C dan B/C Ratio
    Penilaian kelayakan usaha dilakukan dengan beberapa parameter, antara lain Return Cost Ratio (R/C Ratio), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), dan Break Event Point (BEP). Return Cost Ratio (R/C Ratio), merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dinilai menguntungkan apabila R/C Ratio lebih besar dari 1 R/C. Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) merupakan angka perbandingan antara tingkat keuntungan yang diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Suatu usaha dikatakan layak atau memberikan keuntungan apabila B/C Ratio> 0. Break Event Point (BEP), merupakan titip impas dari suatu usaha atau pulang modal atau titik temu antara total biaya dengan total penerimaan. Perhitungan BEP terdiri atas BEP produksi dan BEP harga jual produk (Rukmana dan Yudirchman, 2014).
    Perbandingan antara pendapatan dan biaya produksi dikenal dengan istilah R/C ratio, usaha yang dilakukan semakin menunjukkan keuntungan nilai yang tinggi. Perhitungan R/C ratio dapat diketahui keuntungan usahatani yang akan diperoleh. Selain itu, perkiraan menggunakan R/C ratio juga dapat mengurangi terjadinya kerugian, karena dapat diantisipasi sebelumnya (Amin, 2014).
R/C ratio adalah rumus menghitung atau menganalisis efisiensi usaha. R/C ratio merupakan hasil dari pembagian antara total penerimaan dalam usahatani per total biaya yang dikeluarkan dalam usahatani. Kriteria pengujian efisiensi usahatani, yaitu hasil R/C Ratio usahatani lebih besar dari 1. Apabila hasil analisis efisiensi usahatani menggunakan R/C ratio menunjukkan angka satu maupun dibawah satu maka usahatani tersebut tidak efisien (Santosa et al, 2013).
    B/C Ratio adalah perbandingan untung dan biaya dapat ditentukansebagai perbandingan nilai keuntunganekuivalen terhadap nilai biaya ekuivalen. Analisis ini dilakukan dengan mengetahui komponen biaya pengeluaran dan pendapatan selama satu tahun. Berdasarkan analisis perhitungan NetB/C apabila diperoleh nilai lebih dari 1 maka pengembangan usaha tahu layak untuk dikembangkan. Apabila nilaiNetB/Ctidak mencapai 1 atau hanya 1 maka usaha tani tersebut tidak layak untuk dikembangkan (Nurhayati et al, 2012).

III. METODE PELAKSANAAN

A. Metode Pengumpulan Data
    Metode Pengumpulan Data merupakan suatu pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan usahatani. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.
1. Observasi
    Observasi merupakan metode mengumpulkan data dengan mengamati langsung di lapangan. Proses ini berlangsung dengan pengamatan yang meliputi melihat, merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian. Tahap awal observasi dilakukan secara umum, yaitu mengumpulkan data atau informasi sebanyak mungkin. Tahap selanjutnya melakukan observasi yang terfokus, yaitu mulai menyempitkan data atau informasi yang diperlukan sehingga dapat menemukan pola-pola perilaku dan hubungan yang terus menerus terjadi.

2. Praktik Lapang
    Praktik lapang merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan melalui dunia kerja nyata untuk Mahasiswa yang sesungguhnya bertujuan untuk mengembangkan keterampilan terkai tusahatani. Praktik lapang juga dilakukan untuk mendapatkan kesempatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ada kaitannya dengan materi perkuliahan. Mahasiswa terjun langsung ke lapang untuk mengetahui permasalahan atau hambatan terkait usahatani.

3. Pencatatan
    Pencatatan merupakan tahap pengumpulan data dengan cara menuliskan seluruh hasil pengamatan secara lengkap dan jelas kronologis waktu pengamatannya untuk dicantumkan pada laporan. Beberapa informasi yang didapat pada saat observasi lapang menjadi bahan pencatatan. Pencatatan dan penggambaran keadaan lapang sangat mempengaruhi penyusunan laporan.

4. Studi Pustaka
    Studi pustaka merupakan teknik pengumpulan data melalui teks-teks tertulis maupun soft-copy edition, sepertibuku, ebook, artikel-artikel dalam majalah, surat kabar, buletin, jurnal, laporan atau arsip organisasi, makalah, publikasi pemerintah, dan lain-lain. Bahan pustaka yang berupa soft-copy edition biasanya diperoleh dari sumber-sumber internet yang dapat diakses secara online. Pengumpulan data melalui studi pustaka menjadi bagian yang penting sebagai sumber dari kelengkapan laporan.

B. Metode Analisis
    Metodeanalisis data merupakan metode yang digunakan dalam melakukan pencarian dan penyusunan secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengelompokkan data ke dalam katagori dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami. Metode analisis data terdiri dari :
1. Penerimaan Usaha Tani
PenerimaanUsahatani merupakan harga jual yang diperoleh melalui perkalian antar produksi. Penerimaan usahatani dipengaruhi oleh produksi fisik yang dihasilkan, dimana produksi fisika adalah hasil fisik yang diperoleh dalam kegiatan usahatani selama satu musim tanam. Penerimaan usahatani akan meningkat jika produksi yang dihasilkan bertambah dan sebaliknya akan menurun bila produksi yang dihasilkan berkurang. Penerimaan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut: 
TR  = Y. Py
Keterangan  :
TR = Total penerimaan
= Produksi yang dperoleh
Py = Harga y  

2. Pendapatan Usaha Tani
Pendapatan Usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani dikurangi dengan biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani. Besarnya pendapatan yang akan diperoleh dari suatu kegiatan usahatani tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti luas lahan, tingkat produksi, identitas pengusaha, pertanaman, dan efisiensi penggunaan tenaga kerja. Pendapatan usahatani ditentukan oleh harga jual produk yang diterima di tingkat petani maupun biaya yang dikeluarkan petani. Pendapatan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut: 
Pd = TR- TC 
TR = Y. Py
TC = FC+ VC 
Keterangan :
Pd = Pendapatan usahatani
TR = Total penerimaan
TC = Total biaya
FC  = Biaya tetap
VC = Biaya variabel
Y    = Produksi yang diperoleh
Py = Harga y  

3. Keuntungan Usaha Tani
Keuntungan usahatani merupakan penerimaan usahatani dikurangi dengan biaya eksplisit (biaya yang benar-benar dikeluarkan) dan biaya implisit (biaya yang tidak benar-benar dikeluarkan). Peningkatan keuntungan dapat dilakukan oleh petani dengan usahatani yang efisien. Keuntungan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut:
KU = TR – (BE+BI)
Keterangan :
KU  =Keuntungan Usahatani
TR  = Total Penerimaan
BE  =Biaya Eksplisit
BI    = Biaya Implisit
4. Efisiensi Usaha Tani
Efisiensi Usahatani merupakan perbandingan antara penerimaan dengan biaya usahatani. Efisiensi dalam analisis ekonomi digunakan sebagai alat untuk mengukur atau mengetahui kelayakan dari suatu usaha. Efisiensi usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut: 
E= R/C 
Keterangan :
E = Efisiensi
R = Penerimaan
C = Biaya
a. R/C
R/C ratio, yaitu perbandingan antara penerimaan dengan biaya total usahatani.
b. B/C
B/C ratio, yaitu perbandingan antara keuntungan dengan biaya total usahatani.

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

DAFTAR PUSTAKA

Amin MN. 2014. Sukses Bertani Buncis: Sayuran Obat Kaya Manfaat. Yogyakarta: Garudhawacana.

Cahyono B. 2008. Tomat: Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.

Dahana K dan Warisno. 2010. Buku Pintar Bertanam Buah Naga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Edi S dan Bobihoe J. 2010. Budidaya Tanaman Sayuran. Jambi: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi.

Hanum C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Heriani N, Zakaria WA, dan Soelaiman A. 2013. Analisis Keuntungan dan Risiko Usahatani Tomat di Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus. J Ilmu-Ilmu Agribisnis 1(2): 169-173.

Kusnadi N, Tinaprilla N, Susilowati SH, dan Purwoto A. 2011. Analisis Efisiensi Usahatani Padi di Beberapa Sentra Produksi di Indonesia. J Agro Ekonomi 29(1): 25-48.

Kusnadi U. 2008. Inovasi Teknologi Peternakan dalam Sistem Integrasi Tanaman - Ternak untuk Menunjang Swasembada Daging Sapi. J Pengembangan Inovasi Pertanian (13):187-193.

Lumintang FM. 2013. Analisis Pendapatan Petani Padi di Desa Teep Kecamatan Lagowan Timur. J EMBA 1(3): 991-998.

Ngamel AK. 2012. Analisis Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut dan Nilai Tambah Tepung Karaginan di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. J Sains Terapan 2(1): 68-83.

Nurhayati N, Musa H, dan Sapta R. 2012. Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha Industri Kecil Tahu di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. J Manajemen IKM 2(2): 111-121.

Qosim WA, Nurmala T, Irwan AW, dan Vanny T. 2014. Pengaruh Interval Waktu Pemupukan dan Dosis Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan dan Komponen Hasil Tanaman Hanjeli. J Budidaya Tanaman 13(1): 6-14.

Rukmana R dan Yudirchman H. 2014. Kiat Sukses Budidaya Bengkoang. Yogyakarta: Lily Publisher.

Sannia B, Ismono RH, dan Viantimala B. 2013. Hubungan Kualitas Karet Rakyat dengan Tambahan Pendapatan Petani di Desa Program dan Non Program. J Ilmu-Ilmu Agribisnis 1(1):36-43.

Santosa SI, Agus S, dan Ratih W. 2013. Analisis Potensi Pengembangan Usaha Peternakan Sapi Perah dengan Menggunakan Paradigma Agribisnis di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Buletin Peternakan 37(2): 125-135.

Setyaningrum HD dan Saparinto C. 2011. Panen Sayur secara Rutin di Lahan Sempit. Jakarta: Penebar Swadaya.

Shinta, Agustina. 2011. Ilmu Usahatani. Malang : Universitas Brawijaya Press.

Soedjana, T. D. 2007. Sistem Usahatani Terintegrasi Tanaman-Ternak sebagai Respon Petani Terhadap Faktor Risiko. J Litbang Pertanian 4(2): 156 - 173.

Subandriyo. 2016. Pengaruh Kebijakan Pemerintah Terhadap Pendapatan Petani Kakao di Kabupaten Jayapura. Yogyakarta: Deepublish.

Sundari MT. 2011. Analisis Biaya dan Pendapatan Usaha Tani Wortel di Kabupaten Karanganyar. J SEPA 7(2): 119-126.

Suratiyah K. 2015. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.

Suwarto. 2011. Kelembagaan Lahan dan Tenaga Kerja pada Usahatani. Surakarta: UNS Press.

Taufik, M. 2012. Strategi Pengembangan Agribisnis Sayuran di Sulawesi Selatan. Jurnal Litbang Pertanian 31(2): 43-50.

Wahyudi T, Panggabean TR, dan Pujiyanto. 2008. Kakao: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta: Penebar Swadaya.


Posting Komentar

0 Komentar