Laporan Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah (Acara II)

Fungi Arbuskular Mikoriza (FMA) dan Layanan Agrofungsional Serta Metode Perbanyakan dalam Pot Kultur


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
    Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) merupakan salah satu pupuk hayati yang didefenisikan sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Penyediaan hara ini dapat berlangsung simbiotis dan nonsimbiotis. Kelompok mikroba simbiotis ini terutama meliputi bakteri bintil akar dan cendawan mikoriza. Tumbuhnya kesadaran akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan terhadap lingkungan maka sebagian kecil petani beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik (Nini, 2014). 
    Menurut Suharno, dkk (2015) mengatakan bahwa fungi mikoriza arbuskula (FMA) merupakan salah satu kelompok mikoriza yang mampu bersimbiosis dengan sistem perakaran tumbuhan membentuk struktur spesifik berupa arbuskel. Asosiasi fungi dan tumbuhan merupakan bentuk simbiosis saling menguntungkan antara fungi dan tumbuhan. Jenis–jenis FMA sebagian besar berperan penting dalam peningkatan pertumbuhan tanaman terlebih lagi pada lahan marginal. Beberapa jenis FMA diketahui mampu berinteraksi dengan satu jenis tumbuhan ataupun sebaliknya.
    Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Pemanfaatan fungi mikoriza merupakan alternatif lain dlam menanggulangi masalah rendanya produktivitas tanaman. Penggunaan fungi mikoriza ini tidak membutuhkan biaya yang besar.
2. Tujuan Praktikum
Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah acara II bertujuan supaya mahasiswa mampu mengetahui prinsip isolasi spora mikoriza dari rizhosfer serta melakukan perbanyakan dalam pot kultur.

B. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
    Praktikum Acara II yang berjudul Fungsi Arbuskular Mikoriza (FMA) dan Layanan Agrofungsional Serta Metode Perbanyakan dalam Pot Kultur dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2017 pukul 15.30 WIB di Laboratorium Biologi dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat
a. Isolasi
1) Gelas aqua
2) Saringan kasar dan halus (spora), 3 tingkat saringan (250, micron, 60 mikron, dan 90 mikron)
3) Cawan petri
4) Mikroskop
5) Pipet kecil
6) Gelas piala
7) Deglass dan kaca preparat

b. Kultur Pot
1) Pot plastik kapasitas 250 cc
2) Oven
3) Autoclave
4) Saringan

3. Bahan
a. Isolasi
1) Contoh tanah di sekitar perakaran tanaman
2) Aquadest
3) Pupuk mikoriza

b. Kultur Pot
1) Media kultur pot bias berupa zeolit
2) Benih jagung (Zea mays L.)
3) Starter inokulum FMA
4) Larutan alkohol 50 %
5) KOH 10 % dan HCl 1N
6) Aquadest 
7) Tryplanblue 0,05%
8) Larutan Jhonson 

4. Cara Kerja
a. Isolasi
1) Campur contoh tanah (25 gram) dengan air (100 ml)/ (perbandingan tanah:air 1:5-10) alam gelas piala, kemudian aduk rata dan biar beberapa detik agar partikel kasar mengendap.
2) Tuang cairan (didekantasi) melalui saringan kasar (25 mikron) untuk memisahkan partikel kasar. Tampung cairan yang melewati saringan pertama. Cuci saringan dengan air mengalir, jangan menggunakan tangan atau benda lain karena dapat merubah ukuran saringan.
3) Saring kembali hasil tampungan dari saringan kedua dengan ukuran saringan yang lebih halus (90 mikron). Tamping hasil saringan kedua dan cuci saringan dengan air mengalir.
4) Saring hasil saringan kedua untuk terkhir kali dengan saringan paling halus (60 mikron). Pindahkan sisa yang tertinggal pada saringan dalam cawan petri (+4 petri). Cara : balik saringan, semprot pada bagian yang terdapat terserah yang tertinggal dengan air dan taruh cawan petri di bawah saringan.
5) Amati hasil saringan pada cawan petri di bawah mikroskop binokuler, pisahkan spora dari seresah organic dan hitung jumlah sporanya.

b. Kultur Pot
1) Siapkan media kultur pot bias berupa tanah berpasir, pasir atau ziolit. Media ini disaring, dicuci, dan distrelisasikan dengan oven atau autoclave selama 3 hari berturut-turut. Media disiapkan dalam pot-pot plastic ukuran 2500cc.
2) Benih sorgum dan jagung dikecambahkan dalam bak kecambah.
3) Media yang telah disiapkan dibasahi dan dibuat koakan kurang lebih lebar 2cm dan dalam 3cm. starter inokulum FMA (spora 50 – 100 spora/pot atau kultur tersedia sebanyak 5-10 g/pot) dimasukan dalam koakan tersebut.
4) Diatas inokulum ditanam kecambah sorgum atau 1 kecambah jagung.
5) Kultur dipelihara dengan penambahan air secukupnya setiap hari, hindari jangan sampai tergenang. Pemupukan dilakukan dengan pemberian larutan jonson sesuai petunjuk. Pemberian pupuk dihentikan setelah tanaman berumur 2,5 bulan.
6) Pada saat tanaman mulai berbunga, penyiraman dihentikan dan tanaman dipotonh akar serta inokulum dipanen.
7) Pemanenan hanya dilakukan setelah media sudah benar-benar kering, dan inokulum dapan disimpan dalam kantong plastic dan dismpan dalam tempat kering.
8) Catatan: sususan larutan hari jonshon dan petunjuk penggunaan.

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

DAFTAR PUSTAKA

Anas, I. 2007.Bioteknologi Tanah. Laboratorium Biologi Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. IPB Syib’li. M. A. 2008. Jati Mikoriza, Sebuah Upaya Mengembalikan Eksistensi Hutan dan Ekonomi Indonesia. http://-www.kabarindonesia.com.  13 Desember 2017.

Becard and Piche cit Jarstfer and Sylvia. 2007. Appl. Environ. Microbiol. New York

Rahmawati, 2008. Evaluasi Mutu Benih Jagung Tingkat Petani Di Provinsi Sulawesi Selatan. Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

Rahmawati, Nini et al. 2014. Efektivitas Beberapa Jenis Fungi Mikoriza Arbuskular Terhadap Pertumbuhan Tanaman Karet (Hevea brassiliensis Muell Arg) Di Pembibitan. J Online Agroekoteknologi 2 (2) : 919-932   

Santoso E,  Turjaman M, Irianto R.S.B 2009. Aplikasi Mikoriza Untuk Meningkatkan Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi, Konservasi dan Rehabiltasi Sumber Daya Hutan, Padang

Suharno, et al. 2015. Keragaman Fungi Mikoriza Arbuskula Pada Tumbuhan Pokem [Setaria italica (L.) Beauv.] dengan Metode Traping. J Biologi Papua 7 (2) : 68-77 

Suprapto  H. S dan A. R. Marzuki. 2005 Bertanam Jagung. Jakarta: Penebar Swadaya


Posting Komentar

0 Komentar