Laporan Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah (Acara I)

Fauna Tanah dan Layanan Agrofungsional : Porositas Tanah


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
    Keanekaragaman hayati merupakan asosiasi antara faktor abiotik dan biotik. Faktor  abiotik  terdiri  dari  suhu,  kadar air,  porositas, tekstur  tanah,  salinitas, pH, kadar organik tanah, dan unsur mineral. Faktor biotik bagi fauna tanah adalah organisme lain yang terdapat di habitatnya. Selain itu, fauna tanah juga bergantung pada keadaan tegakan atau pohon di areal tersebut. Faktor-faktor tersebut  sangat  menentukan  bagi struktur komunitas fauna yang terdapat dalam suatu habitat.  Pengetahuan keanekaragaman jenis dan perubahan komposisi fauna tanah sangat penting diketahui untuk pendugaan terhadap pengaturan proses-proses dekomposisi dan produktivitas tanah (Haneda, Noor Farikhah, 2014). 
    Fauna tanah adalah hewan  yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun  yang terdapat di dalam tanah. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah.  Makrofauna tanah adalah fauna tanah yang masih bias dilhat dengan mata telanjang, seperti cacing, kelabang, kecoa dan semut.   Penguraian akan menjadi lebih sempurna apabila hasil ekskresi fauna ini dihancurkan dan diuraikan lebih lanjut oleh mikroorganisme terutama bakteri hingga sampai pada proses mineralisasi.
    Menurut Enny Widyati (2013) mengatakan bahwa pada setiap ekosistem dihuni oleh berbagai organisme yang memiliki peran tertentu. Ketika masing-masing kelompok fungsional dapat berperan dengan optimal maka ekosistem berjalan secara dinamis dan produktif. Oleh karena itu gangguan yang terjadi pada suatu kelompok akan mengakibatkan terjadinya perubahan struktur dan fungsi ekosistem.

2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Biologi dan Kesehatan tanah acara 1 yang berjudul Fauna Tanah dan Layanan Agrofungsional: Porositas Tanah adalah:
a. Mempelajari keanekaragaman mesofauna dan makrofauna tanah pada sistem penggunaan lahan (SPL) pertanian.
b. Mempelajari populasi masing-masing jenis mesofauna dan makrofauna tanah pada SPL pertanian
c. Mempelajari hubungan antara populasi mesofauna dan makrofauna pada sistem penggunaan lahan pertanian dengan porositas tanah. 

B. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
    Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah acara I dilaksanakan pada tanggal 11-12 November 2017 di Laboratorium Fakultas Pertanian, Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar dan di Laboratorium Biologi dan Bioteknologi Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta. 

2. Alat
- Frame monolit
- Gelas plastik
- Plastik hitam penutup
- Tiang bambu (patok)
- Nampan plastik 
- Ember plastik
- Cangkul
- Cetok
- Kuas kecil
- Pinset
- Kantong plastik
- Kertas label 
- Botol plastik atau flakon
- Saringan plastik dengan mata lubang yang halus
- Tali rafia
- Penggaris 
- Koran 
3. Bahan
- Alkohol 70 %
- Formalin 4 %
- Larutan detergen 

4. Cara Kerja
a. Metode perangkap jebak (pitfall trap)
1) Menentukan lokasi praktikum yang akan digunakan dalam pengamatan
2) Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
3) Membuat transek seluas 200 m2 atau menyesuaikan dengan kondisi aktual lahan.
4) Membuat lubang jebak sebanyak 2 buah per kelompok, dengan ukuran diameter sekitar 15 cm, atau disesuaikan dengan alat yang digunakan untuk memerangkap fauna. Jarak antar lubang jebak adalah sekitar 8 m atau menyesuaikan kondisi lahan. Buatlah atap plastik untuk melindungi alat jebak tersebut.
5) Memasukkan larutan deterjen sebanyak sekitar 50 ml ke dalam alat jebak yang sudah dipasang. Biarkan alat jebak tersebut terpasang selama 24 jam.
6) Setelah 24 jam, mengambil alat jebak tersebut, dan dibawa ke laboratorium untuk pengamatan keragaman fauna yang diperoleh. Memberi label yang menunjukkan identitas lokasi dan waktu pengamatan, serta praktikan yang bertanggung jawab.
7) Penanganan spesimen: menyiapkan saringan plastik dengan mata lubang saring yang sangat lembut sehingga tidak mampu meloloskan spesimen yang diperoleh. Menuangkan larutan deterjen+spesimen yang didapat dari lapangan ke dalam saringan. Mencuci dengan air secara hati-hati supaya tidak ada spesimen yang hilang tercuci. Memasukkan spesimen yang sudah bersih ke dalam botol plastik yang telah berisi alkohol 75% sebanyak sekitar 25 ml atau tergantung pada banyaknya spesimen yang didapat. Jangan lupa botol diberi label sesuai dengan label semula.
8) Mengamati fauna yang didapat dengan menggunakan mikroskop dan identifikasi karakter morfologi, serta mencocokannya dengan kunci identifikasi fauna sehingga jenis fauna diketahui.
9) Menghitung populasi per jenis fauna per pitfall. Memasukkan data fauna yang didapat ke dalam Tabel.
10) Menentukan Indeks Diversitas berdasarkan rumus Indek Diversitas Shanon-Wiener.
11) Mencatat kondisi lingkungan di sekitar SPL, baik abiotik maupun biotik, yang dapat digunakan sebagai data pendukung untuk pembahasan data aktual.

b. Metode Barlese
1) Mengambil bongkah tanah dari lapangan, sekitar 0,5 kg. Pengambilan bongkah tanah bisa dari hasil galian saat pembuatan pitfall trap ataupun monolit tanah. Memasukkan bongkah tanah ke dalam plastik dan diberi label. 
2) Mengulangi langkah 1 sebanyak 2 kali, sebagai ulangan.
3) Membawa contoh tanah tersebut ke laboratorium.
4) Menyiapkan perlengkapan alat Barlese untuk mengisolasi fauna anesik dan endogeik.
5) Meletakkan bongkah tanah ke dalam corong Barlese yang sudah diberi saringan.
6) Menyiapkan gelas piala yang sudah diisi sekitar 25 ml alkohol 75%. Meletakkan gelas piala tersebut pada bagian bagian bawah corong Barlese.
7) Memberi lampu pada bagian atas corong. Fauna yang ada akan menjauhi lampu dan diharapkan terjatuh dan terperangkap dalam gelas piala yang berisi alkohol.
8) Proses tersebut dibiarkan selama 24 jam.
9) Setelah 24 jam, gelas piala yang telah berisi spesimen diamati di bawah mikroskop. 
10) Mengamati fauna yang didapat dengan menggunakan mikroskop dan identifikasi karakter morfologi, serta cocokkan dengan kunci identifikasi fauna sehingga jenis fauna diketahui
11) Menghitung populasi per jenis fauna per pitfall. Memasukkan data fauna yang didapat ke dalam Tabel
12) Menentukan Indeks Diversitas berdasarkan rumus Indek Diversitas Shanon-Wiener.
13) Mencatat kondisi lingkungan di sekitar SPL, baik abiotik maupun biotik, yang dapat digunakan sebagai data pendukung untuk pembahasan data aktual.

c. Metode Monolit Tanah
1) Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan, seperti cangkul, nampan plastik, ember plastik, kuas gambar, botol plastik untuk tempat spesimen cacing yang berisi formalin 4%, label, kantong plastik, alat tulis.
2) Menentukan lokasi pembuatan monolit, berselang-seling dengan lokasi pitfall trap 
3) Membuat monolit tanah dengan ukuran 25 cm x 25 cm x 30 cm
4) Mengiris monolit tanah pada kedalaman 0-10 cm untuk mengisolasi cacing tanah pada lapisan tersebut. Caranya: masukkan irisan tanah ke dalam ember. Ambil sampel tanah tersebut sedikit demi sedikit, dan letakkan dalam nampan plastik untuk mengisolasi cacing tanah dan cocon (telur cacing) yang didapat. Masukkan spesimen cacing yang didapat ke dalam botol plastik yang berisi formalin 4%, dan berilah label (lapisan tanah, tanggal, monolit ke berapa, dll.).
5) Lakukan langkah d) untuk mengisolasi cacing tanah pada kedalaman lapisan 10-20 cm, dan 20-30 cm.
6) Spesimen yang sudah didapat dibawa ke laboratorium untuk identifikasi.
7) Mencuci spesimen cacing tanah yang diperoleh dengan air, bersihkan secara perlahan-lahan untuk menghindari rusaknya spesimen.
8) Memasukkan spesimen cacing tanah yang sudah bersih ke dalam botol plastik yang berisi alkohol 75%. Beri label yang berisi identitas pada botol spesimen.
9) Mengamati spesimen cacing tanah yang sudah bersih dengan menggunakan mikroskop dan identifikasi karakter morfologi, serta cocokkan dengan kunci identifikasi sehingga jenis cacing diketahui.
10) Menghitung populasi cacing per lapisan kedalaman tanah. 
11) Memasukkan data cacing yang didapat ke dalam Tabel.
12) Menentukan Indeks Diversitas berdasarkan rumus Indek Diversitas Shanon-Wiener. 
13) Mencatat kondisi lingkungan di sekitar SPL, baik abiotik maupun biotik, yang dapat digunakan sebagai data pendukung untuk pembahasan data aktual.
14) Membuat laporan praktikum.
d. Metode analisa Porositas tanah
1) Bobot volume
a) Mengikat bongkah tanah dengan benang dan menimbang (a gr).
b) Mencairkan lilin sampai suhu lilin 60oC, kemudian mencelupkan tanah ke dalam cairan lilin sampai terbungkus sempurna.
c) Menimbang tanah berlilin (b gr).
d) Mengisi tabung dengan aquadest sampai volume tertentu (p cc).
e) Memasukkan tanah berlilin ke tabung ukur.
f) Mencatat volume air setelah tanah dimasukkan (q cc).
Bobot Volume=(87×a)/((100+KL)×(0,87×(q-p)-(b-a)))
2) Bobot jenis
a) Mengambil piknometer kosong dan kering kemudian menimbang beserta tutupnya (a gr).
b) Mengisi piknometer dengan aquades sampai penuh kemudian menutupnya hingga ada aquades yang keluar dan mengeringkan aquades yang menempel pada bagian luar piknometer dengan tissue dan menimbangnya (b gr).
c) Mengukur suhu dengan thermometer dan menentukan BJnya dengan melihat tabel BJ sesuai suhu yang diukur (BJ1)
d) Membuang air dan membersihkannya hingga kering kemudian mengisi piknometer dengan tanah 5 gr dan memasang tutupnya serta menimbangnya (c gr).
e) Mengisi piknometer yang telah ditimbang dengan aquades hingga separuh volume.
f) Mengaduknya sampai tidak ada gelembung udara dan membiarkannya semalam dalam keadaan piknometer tutup sumbatnya.
g) Membuang gelembungnya lalu mengisi piknometer dengan aquades sampai penuh dan menimbangnya (d gr).
h) Mengukur suhu dengan thermometer dan memnentukan BJnya sesuai tabel (BJ2).
Bobot Jenis=(100×(c-a)×BJ_1×BJ_2)/((100+Kl)×(BJ_2×(b-a)-BJ_2×(d-c)))
3) Porositas
n=(1-BV/BJ)×100 %
e. Mengukur Ketebalan Seresah
1) Menyiapkan alat dan bahan seperti penggaris, plastik, label, alat tulis, kertas, seresah dan oven
2) Mengukur ketebalan seresah pada tanah yang akan dibuat monolit
3) Mengambil lalu bungkus dengan plastik dan diberi label kelompok 
4) Membawa ke lab lalu ditimbang berat seresah dengan timbangan analitik
5) Membungkus dengan kertas lalu dimasukkan dalam oven untuk mengetahui berat keringnya
6) Tunggu 24 jam dengan suhu 105°C lalu ditimbang berat kering seresah

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

DAFTAR PUSTAKA

Adrian Tuf, I. 2015. Different collecting methods reveal different ecological groups of centipedes (Chilopoda). J Zoologia 32(5): 345–350

Agus F, Yustika RD dan Haryati U 2006. Penetapan Berat Volume Tanah-Sifat Fisik Tanah Dan Metode Analisisnya. Jakarta: Balai Besar LITBANG Sumberdaya Lahan Pertanian- Agro Inovasi.

Andre HM, Ducarna X, Lebrum P. 2002. Soil biodiversity: myth, reality orconning. J Oikos 54 (96): 3-24

Haneda, Noor Farikhah. Keanekaragaman Fauna Tanah dan Perannya Terhadap Laju Dekompodisi Serasah Karet (Hevea brasiliensis) di Kebun Percobaan Cibodas – Ciampea Bogor. J Silvikultur Tropika 5 (1) : 54-60

Hilwan, Iwan dan Handayani EP 2013. Keanekaragaman Mesofauna dan Makrofauna Tanah  pada Areal Bekas Tambang Timah Di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Jurnal SILVIKULTUR TROPIKA 4 (1): 35-41.

Nenet et al. 2010. Tropic interaction of insect on soil surface (Yellow Trap) and to above soil surface (Pitfall Trap) on Tamarillo (Solanum betaceum Cav.) in the field. J Online Agroekoteknology 3 (4) : 1250-1258

Suin.2007. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta: Bumi Aksara

Widyati, Enny. 2013. Pentingnya Keragaman Fungsional Organisme Tanah Terhadap Produktivitas Lahan. J Tekno Hutan Tanaman 6 (1) : 29-37

Wulandari Suteni, Sugiyarto dan Wiryanto 2007. Pengaruh Keanekaragaman Mesofauna dan Makrofauna Tanah terhadap Dekomposisi Bahan Organik Tanaman di Bawah Tegakan Sengon (Paraserianthes falcataria). Bioteknologi 4 (1): 20-27


Posting Komentar

0 Komentar