Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Populasi Tanaman Allogam (Menyerbuk Silang)


A. Pendahuluan 

1. Latar Belakang 
    Tanaman yang menyerbuk silang (tanaman allogam) akan mengalami perkawinan acak (random mating). Keragaman genetis yang dimiliki tanaman allogam lebih besar dibanding dengan tanaman penyerbuk sendiri dalam menentukan kriteria seleksi diutamakan pada sifat terpenting. Persilangan yang terkontrol dengan tujuan penciptaan hibrida dengan memanfaatkan heterosis akan menghasilkan tanaman yang sesuai dengan yang diingkan.
    Tanaman allogam dalam persilangan allogame akan mengalami segregasi. Segregasi merupakan proses pemisahan gen pada saat pembentukan gamet, sehingga separuh gamet akan terbentuk dan membawa satu anggota dari pasangan gen tersebut serta separuh lainnya ialah gen pasangannya. Segregasi ada dua macam, yakni segregrasi monohibrida dan segregasi dihibrida.
    Hukum Hardy Weinberg memudahkan didalam mengasumsi suatu populasi berada dalam keseimbangan yang stabil frekuensi alelnya. Membandingkan populasi alel dalam lokasi pada lokasi berada yang bertujuan untuk mengetahui terjadi penyimpangan atau keseimbangan.  Keseimbangan alel dalam suatu populasi dapat digambarkan dengan rumus sederhana, penjabaran binomial. Manfaat yang diharapkan pada praktikum kali ini agar kita dapat memperoleh pengetahuan tentang persilangan tanaman allogam.

2. Tujuan Praktikum 
Praktikum  Populasi Tanaman Allogam (Menyerbuk Sendiri) bertujuan sebagai berikut:
a. Mempelajari struktur genetik populasi tanaman allogam (menyerbuk silang).
b. Mempelajari pengaruh seleksi terhadap perubahan struktur genetik populasi tanaman allogam (menyerbuk silang).

B. Metode Praktikum 
1. Waktu dan Tempat Praktikum
    Praktikum Pemuliaan Tanaman acara IV tentang Populasi Tanaman Allogam (Menyerbuk Silang) dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23 September 2019 pukul 12.45-15.00 WIB bertempat di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan
a. Bahan
1) Kancing berwarna merah dan putih sebanyak yang diperlukan
b. Alat
1) Kantong yang terbuat dari kain atau kertas
2) Kalkulator
3) Alat tulis

3. Cara Kerja
a. Pembuktian Hukum Hardy-Weinberg
1) Frekuensi alel A = a = 0,5.
a) Mengambil 2 kantong, masing-masing kantong diisi 32 butir jagung merah dan 32 jagung merah. Jagung merah menggambarkan alel A dan jagung merah menggambarkan alel a.
b) Membuat persilangan tiruan dengan mengambil satu butir jagung dari masing-masing kantong, kemudian dicatat genotipe hasil perkawinan. Bila keduanya merah dicatat AA, satu merah satu merah sebagai Aa, dan keduanya merah sebagai aa. Setelah mencatat, mengembalikan biji ke dalam kantong semula, melakukan persilangan 64 kali.
c) Menyusun dan menghitung data hasil persilangan (genotipe) dalam tabel.

2) Frekuensi alel A = 0,25 a = 0,75.
a) Mengambil 2 kantong, masing-masing kantong diisi 32 butir jagung merah dan 32 jagung merah. Jagung merah menggambarkan alel A dan jagung merah menggambarkan alel a.
b) Membuat persilangan tiruan dengan mengambil satu butir jagung dari masing-masing kantong, kemudian dicatat genotipe hasil perkawinan. Bila keduanya merah dicatat AA, satu merah satu putih sebagai Aa, dan keduanya putih sebagai aa. Setelah mencatat, mengembalikan biji ke dalam kantong semula, melakukan persilangan 64 kali.
c) Menyusun dan menghitung data hasil persilangan (genotipe) dalam tabel.

b. Pengaruh seleksi terhadap perubahan struktur genetik (frekuensi gen) populasi tanaman allogam.
1) Tidak ada seleksi
a) Membuat populasi dengan frekuensi alel A = p = 0,5 dan frekuensi alel a = q = 0,5.
b) Membuat persilangan tiruan dengan mengambil dua butir jagung secara berturut-turut dan mencatat hasilnya dalam tabel. Sekali persilangan menghasilkan sebanyak 4 keturunan. Persilangan dibuat  16 kali sehingga dihasilkan 64 keturunan.

c) Menghitung frekuensi gen/alel A dan a pada populasi baru dipersilangan (generasi 1) dan membandingkan dengan frekuensi gen/alel A dan a pada populasi awal (sebelum persilangan).

2) Seleksi Lengkap
a) Buat populasi dengan frekuensi alel A = p = 0,5 dan frekuensi alel a = q = 0,5
b) Buat persilangan tiruan dengan mengambil dua butir jagung secara berturut-turut dan catat hasilnya mengikuti tabel. Sekali persilangan menghasilkan empat keturunan. Persilangan sibuat 16 kali sehingga dihasilkan 64 keturunan
c) Untuk menunjukkan adanya seleksi lengkap terhadap homozigot resesif, setiap persilangan yang salah satu atau tetuanya homozigot resesif tidak dicatat
d) Hitung frekuensi gen atau alel A dan a pada populasi baru hasil persilangan (generasi 1)
e) Percobaan persilangan dilanjutkan sampai lima generasi, persilangan generasi kedua menggunakan populasi hasil persilangan generasi pertama, dan selanjutnya
f) Membuat grafik frekuensi alel resersif a (perubahan frekuensi gen)  dari generasi 1-5

3) Seleksi Tidak Lengkap
a) Buat populasi dengan frekuensi alel A = p = 0,5 dan frekuensi alel a = q = 0,5
b) Buat persilangan tiruan dengan mengambil dua butir jagung secara berturut-turut dan catat hasilnya mengikuti tabel. Sekali persilangan menghasilkan empat keturunan. Persilangan sibuat 16 kali sehingga dihasilkan 64 keturunan
c) Untuk menunjukkan adanya seleksi lengkap terhadap homozigot resesif, setiap persilangan yang salah satu atau tetuanya homozigot resesif tidak dicatat
d) Hitung frekuensi gen atau alel A dan a pada populasi baru hasil persilangan (generasi 1)
e) Percobaan persilangan dilanjutkan sampai lima generasi, persilangan generasi kedua menggunakan populasi hasil persilangan generasi pertama, dan selanjutnya
f) Membuat grafik frekuensi alel resersif a (perubahan frekuensi gen)  dari generasi 1-5

C. Tinjauan Pustaka 
    Keragaman genetik dapat dipertahankan dari generasi ke generasi karena adanya kawin acak sehingga baik frekuensi gen maupun genotipe dapat tetap sama pada generasi turunannya. Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi gen dan genotipe akan konstan dari generasi ke generasi pada suatu populasi kawin acak apabila tidak terjadi seleksi, mutasi, dan migrasi. Varietas tanaman yang menyerbuk silang pada dasarnya merupakan populasi yang mempunyai frekuensi gen tertentu (Syukur et al. 2012).
    Hukum Hardy-Weinberg ditemukan pada tahun 1908 oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris Godfrey Harold Hardy (1877-1947) dan seorang dokter berkebangsaan Jerman Wilhelm Weinberg (1862-1937). Mereka menemukan dasar-dasar frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi terpisah menemukan suatu hubungan matematik dari frekuensi gen dalam populasi, yang kemudian dikenal dengan hukum Hardy-Weinberg (prinsip kesetimbangan). Hukum Hardy-Weinberg atau yang sering disebut dengan Hukum Ketetapan Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel dan frekuensi genotip dalam suatu populasi akan tetap konstan, yaitu berada dalam kesetimbangan dari satu generasi ke genarasi berikutnya kecuali apabila terdapat pengaruh-pengaruh tertentu yang mengganggu kesetimbangan tersebut. Pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu kesetimbangan antara lain perkawinan tak acak, mutasi, seleksi, ukuran populasi terbatas, dan aliran gen (Panggabean 2016).
    Syarat berlakunya asas Hardy-Weinberg yaitu: (1) Setiap gen mempunyai viabilitas dan fertilitas yang sama, (2) Perkawinan terjadi secara acak, (3) Tidak terjadi mutasi gen atau frekuensi terjadinya mutasi, sama besar, (4) Tidak terjadi migrasi, (5) Jumlah individu dari suatu populasi selalu besar. Jika lima syarat yang diajukan dalam kesetimbangan Hardy-Weinberg tadi banyak dilanggar, jelas akan terjadi evolusi pada populasi tersebut, yang akan menyebabkan perubahan perbandingan alel dalam populasi tersebut. Hukum Hardy-Weinberg dapat terpenuhi jika di dalam populasi tidak terjadi aliran gen atau migrasi, mutasi, seleksi, dan kawin acak (Perdanawati 2017). Hukum Hardy-Weinberg ini berfungsi sebagai parameter evolusi dalam suatu populasi. Bila frekuensi gen dalam suatu populasi selalu konstan dari generasi ke generasi, maka populasi tersebut tidak mengalami evolusi. Bila salah satu saja syarat tidak dipenuhi maka frekuensi gen berubah, artinya populasi tersebut telah dan sedang mengalami evolusi (Muhsinin 2014).
    Penyerbukan silang adalah peristiwa menempelnya serbuk sari dari suatu bunga pada kepala putik yang lain, bisa berada pada tumbuhan lain yang sejenis atau dari tanaman itu sendiri. Suatu varietas tanaman yang menyerbuk silang pada dasarnya merupkaan populasi yang mempunyai frekuensi gen teretntu (Syukur et.al 2012). Penyerbukan silang biasa disebut persilangan. Perbaikan sifat kuantitatif dan kualitatatif tanaman secara genetik dapat dilakukan melalui persilangan. Persilangan bertujuan untuk menggabungkan sifat kedua tetua sehingga diperoleh varietas unggul yang diinginkan. Keragaman genetik dapat dipertahankan dari generasi ke generasi selanjutnya karena adanya perkawinan acak secara terus menerus (Haqiqi et.al 2015).
    Kelompok tanaman penyerbuk silang bentuk populasinya di alam ditandai dengan tingkat keaneragaman tinggi dan bentuk genotip individunya heterozigot. Persilangan buatan merupakan suatu teknik perbanyakan generatif yang paling tepat, terutama dalam kegiatan pemuliaan untuk menghasilkan biji F1 hibrida yang selanjutnya merupakan langkah untuk melahirkan jenis baru yang lebih bervariasi dan unggul sesuai dengan keinginan pemulia (Djoar dan Nandariyah 2011). Keturunan selanjutnya mungkin dilakukan seleksi Tujuan persilangan buatan adalah untuk menciptakan populasi baru dimana sebagian besar individu anggotanya memiliki karakter keturunan yang baik. Melalui persilangan buatan arah pemuliaan dapat dirancang lebih baik dibandingkan dengan seleksi pohon induk terhadap tanaman asal biji yang masing-masing tetuanya tidak diketahui secara jelas (Khomaeni dan Sriyadi 2011).
    Penyerbukan silang ini memiliki manfaat untuk memperoleh sifat baru dari hasil persilangan antar dua sifat beda, dan dengan demikian dapat membantu pemulia untuk memperoleh varietas baru dan meningkatkan keragaman. Dari keragaman ini pemulia dapat memilih tanaman yang memilki sifat unggul untuk dibudidayakan. Teknik hibridisasi atau penyerbukan silang buatan adalah teknik yang dimaksudkan untuk menggabungkan sifat-sifat baik yang dimiliki oleh induk jantan dan induk betina, dengan harapan akan diperoleh keturunan yang memilikigabungan dari sifat-sifat baik tersebut. Setiap individu tanaman heterozigot ditemukan pada populasi tanaman menyerbuk silang, dan apabila ditanam di lapangan akan terjadi persilangan dari tanaman heterozigot di sekitarnya. Persilangan untuk menciptakan populasi baru untuk menggabungkan sifat-sifat baik yang diinginkan dari tetua yang diwariskan pada turunannya disebut hibridisasi. Teknologi hibrida memanfaatkan fenomena aksi gen yang disebut heterosis, yaitu gejala pertumbuhan dan kapasitas produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan non hibrida, yang diakibatkan oleh adanya gen-gen heterozigot ini diketahui pertama kali pada tahun 1920 pada tanaman jagung di Amerika Serikat. Gejala heterosis dan depresi inbreding ini secara nyata terjadi pada tanaman menyerbuk silang (seperti pada jagung), dan kurang nyata terjadi pada tanaman yang cara penyerbukannya tetutup atau menyerbuk sendiri seperti pada padi atau kacang-kacangan (Nugroho dan Budi 2014).
    Sudarka et al (2013) mengatakan tanaman allogam adalah tanaman yang melakakukan penyerbukan silang (cross pollination) yakni bersatunya tepung sari dengan putik, dimana tepung sari berasal dari tanaman lain yang sifatnya berbeda. Ciri-ciri tanaman menyerbuk silang yang pertama adalah secara morfologi/ fisik kedudukan putik (pistilum) dan benang sari (stament) sedemikian rupa sehingga mencegah penyerbukan sendiri (herkogamie), seperi pada tanaman panili. Kedua,  tepung sari dan sel telur berbeda masaknya (dichogamie). Protandris yaitu bila bungan jantan masak lebih dahulu dari bunga betina, dan protoginis bila bunga betina masak (putik) lebih dahulu dari bunga jantan. Ciri yang ketiga adalah adanya sifat inkompatibilitas yaitu terjadinya penyerbukan pada bunga tetapi tidak dilanjutkan pembuahan, karena adanya hambatan fisiologis. Hambatan fisiologi dapat berupa inaktifnya zat tumbuh (phytohormon) sehingga buluh serbuk sari tidak terbentuk, seperti pada kakao.  Keempat, self-sterility, adalah tidak terjadinya penyerbukan bunga karena bunga jantan tidak berfungsi (mandul) secara genetik. Kelima, tanaman menyerbuk sendiri merupakan tanaman berumah satu (monoecious), adalah tanaman dimana bunga jantan dan betina tumbuh pada satu tanaman, tetapi letaknya berbeda, seperti pada tanaman jagung. Terakhir, tanaman allogam merupakan tanaman berumah dua (dioecious) adalah tanaman dimana bunga jantan dan betina masing masing tumbuh pada tanaman berbeda, seperti pada tanaman pepaya. Populasi alami tanaman menyerbuk silang, terdiri atas individu-indidu yang secara genetik heterosigot untuk kebanyakan lokus. Secara genotipik pula berbeda dari satu individu ke individu lainnya, sehingga keragaman genetik dalam populasi sangatlah besar.
    Penyerbukan silang (cross pollination) adalah bersatunya tepung sari dengan putik yang berasal dari tanaman lain dan sifatnya berbeda. Contoh hasil persilangan dari tanaman menyerbuk silang yaitu jagung varietas Bisi 1, jagung varietas Bima 1, jagung varietas Bima 4, dan masih banyak lagi. Ciri-ciri tanaman menyerbuk silang adalah:  
1. Kedudukan putik dan benang sari sedemikian rupa sehingga mencegah 
penyerbukan sendiri. 
2. Tepung sari dan sel telur berbeda masaknya. 
3. Adanya sifat inkompatibilitas yaitu terjadinya penyerbukan pada bunga tetapi tidak dilanjutkan pembuahan, karena adanya hambatan fisiologis. 
4. Self-sterility adalah tidak terjadinya penyerbukan bunga karena bunga jantan tidak berfungsi (mandul).
5. Tanaman berumah satu (monoecious) adalah kondisi bunga jantan dan betina tumbuh pada satu tanaman, tetapi letaknya berbeda, seperti pada tanaman jagung.  
6. Tanaman berumah dua (dioecious) adalah kondisi bunga jantan dan betina masing-masing tumbuh pada tanaman berbeda, seperti pada tanaman pepaya (Tanto, 2012)
    Tanaman pepaya tergolong tanaman menyerbuk silang (cross pollinated crop), tetapi ada beberapa varietas yang menyerbuk sendiri. Penyerbukan silang terjadi apabila polen dari bunga jantan atau bunga hermaprodit menyerbuki bunga betina atau bunga hermaprodit lainnya. Pembentukan varietas pada pepaya yang bersifat cross pollinated diarahakan untuk menghasilkan hibrida. Awalnya, memilih bunga betina atau hermaprodit yang masih tertutup di dalam kelopak bunga. Bunga hermaprodit perlu dikastrasi (menghilangkan tepung sari) karena akan digunakan sebagai “tetua” betina. Bunga jantan yang sedang anthesis (bunga terbuka penuh dan fungsional) sebagai sumber polen, setalah diserbuki tutup kembali bunga betina dengan kertas polinasi (Gunawan 2014). Persilangan yang dilakukan antar tanaman dari genus yang berbeda. Beberapa contoh tanaman hasil persilangan ini adalah Raphanobrassica, Rabbage, Maize-teosinte, sugarcane-sorghum, dan lain-lain. Hibridisasi ini juga biasa digunakan untuk memindahkan sifat ketahanan penyakit, hama dan kekeringan dari genus tanaman liar ke tanaman budidaya (Yuniarti, dkk. 2011).
    Kentang merupakan salah satu tanaman yang menyerbuk silang dan saat ini banyak varietas unggul yang diciptakan dengan memanfaatkan persilangan. Beberapa varietas kentang yang dilepas oleh Balitsa merupakan hasil persilangan secara konvensional. Varietas Cipanas yang merupakan hasil persilangan antara Thung 151 C dan Desiree pada tahun 1980 telah dilepas. Tahun 2009 dilepas varietas GM 05, Ping 06, dan GM 08 hasil persilangan antara varietas Granola dan Michigan Pink. Persilangan antara varietas Atlantik dan klon introduksi 393280.64 (CIP-Peru) menghasilkan beberapa progeni, salah satunya dilepas dengan nama varietas Amabile, persilangan Atlantik x klon introduksi 393284.39 (CIP-Peru) menghasilkan varietas Medians, dan Atlantik x klon introduksi 391058.175 (CIP-Peru) menghasilkan varietas Maglia. Ketiga varietas tersebut merupakan varietas yang baru dilepas oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran tahun 2013 dengan keunggulan karakter kualitas olahan sebagai bahan baku keripik (chips), sesuai dengan karakter salah satu tetuanya yaitu Atlantik yang merupakan kentang olahan, dengan tambahan karakter daya hasil tinggi, melebihi Atlantik (Handayani 2014).
    Pemuliaan tanaman umumnya mencakup tindakan penangkaran, persilangan, dan seleksi. Program pemuliaan tanaman secara konvensional biasanya seleksi terhadap karakter-karakter yang menjadi target dilakukan atas dasar seleksi fenotip/morfologi, baik secara individu maupun populasi tanaman. Penentuan karakteristik merupakan hal yang krusial dalam deskripsi tanaman. Karakteristik yang paling tua dan paling umum digunakan adalah sifat morfologi dan fisiologi, seperti bentuk batang, bentuk daun, ketahanan terhadap penyakit dan lain-lain. Kerugian menggunakan tipe ini adalah ekspresinya sangat bervariasi terhadap kondisi lingkungan. Fenotip suatu karakter dipengaruhi tidak hanya oleh faktor genetik, tetapi juga oleh faktor lingkungan. Oleh karena itu, seleksi terhadap suatu karakter yang didasarkan pada penampakan/fenotip memiliki banyak kekurangan, diantaranya memberikan hasil yang tidak konsisten, terutama bila karakter tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan (heritabilitas rendah) dibandingkan faktor genetik. Selain hasilnya tidak konsisten waktu yang dibutuhkan juga relatif lama (Nuraida 2012).
    Faktor – faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan penyerbukan silang buatan adalah sebagai berikut: 
1. Internal 
a. Pemilihan Tetua 
    Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: varietas komersial, galur-galur elit pemuliaan, galur galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, spesies  introduksi tanaman dan  spesies liar. Peluang menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik. 
b. Waktu Tanaman Berbunga 
1) Penyesuaian waktu berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya bersamaan. 
2) Waktu emaskulasi dan penyerbukan. Tetua betina waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga (Syukur, 2012). 

2. Eksternal 
a. Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan 
    Hal yang paling mendasar dan yang paling penting diketahui penyerbukan ilang secara buatan adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Mengetahui organ reproduksi, dapat digunakan untuk menduga tipe penyerbukannya yaitu tanaman tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai berikut : 
1) secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu. 
2) waktu antesis dan reseptif berbeda. 
3)  inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin. 
4) adanya bunga monoecious dan dioecious. 
b. Cuaca Saat Penyerbukan 
    Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan. Kondisi panas dengan suhu tinggi dan elembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok. Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat. 
c. Pelaksana 
    Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal (Syukur, 2012). 

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

Daftar Pustaka 
Djoar JW dan Nandariyah. 2011. Perbaikan sifat tanaman (pemuliaan tanaman).Surakarta: UNS Press.
Gunawan E. 2014. Perbanyakan tanaman: cara praktis dan populer. Jakarta: (ID) AgroMedia Pustaka.
Handayani T. 2014. Persilangan untuk merakit varietas unggul baru kentang. J  IPTEK Tanaman Sayuran 4: 1-7.
Haqiqi I, Damanhuri, Kendarini N, dan Agisimanto D. 2015. Studi keberhasilan persilangan stroberi (Fragaria x ananassa Duch). J Produksi Tanaman 3(2): 107-112.
Khoiriyah YN. 2014. Karakteristik genetik populasi bedeng 61b Desa Wonokarto Kabupaten Lampung Timur Pasca Program Kolonisasi Pemerintah Belanda. J Ilmiah Biologi 2 (2): 132-137.
Khomaeni HS dan Sriyadi B. 2011. Variabilitas dan seleksi awal populasi tanaman teh hasil persilangan buatan. J Penelitian Teh dan Kina 14(2): 72-77.
Mariana. 2011. Analisis keragaman gen laktoferin pada sapi friesian-holstein dengan metode pcr-rflp. J Agripet 11 (1): 1-13.
Muhsinin, S. 2014. Biologi. Jakarta: Cmedia Imprint Kawan Pustaka.
Nugroho B dan Budi GP. 2014. Keragaan tanaman jagung (Zea mays L.) lokal Srowot Banyumas karena pengaruh selfing pada generasi f2 selfing. Prosiding Seminar Hasil Penelitian LPPM UMP.
Nuraida D. 2012. Pemuliaan tanaman cepat dan tepat melalui pendekatan marka molekular. J Pemuliaan Tanaman Cepat 2 (2): 97-103.
Panggabean, Terry. 2016. Analisis tingkat optimasi algoritma genetika dalam hukum ketetapan hardy-weinberg pada bin packing problem. Journal of Computer Engineering, System And Science 1(2): 12-18.
Perdanawati, Eka. 2017. Keragaan pertumbuhan dan keragaman genetik Acacia mangium willd. Umur 7 tahun hasil iradiasi sinar gamma (generasi m1). J Silvikultur Tropika 8(2): 88-95. 
Rahmawati D, Yudistira T, Mukhlis S. 2014. Uji inbreeding depression terhadap karakter fenotipe tanaman jagung manis (Zea mays var. Saccharata Sturt) hasil selfing dan open pollinated. J Ilmiah Inovasi 14 (2): 145-155,
Sudarka, Sarwadana, Wijana dan Pradnyawati 2013. Pemuliaan Tanaman. Universitas Udayana. Denpasar.
Syukur M, Sujiprihati S, Yunianti R. 2012. Teknik pemuliaan tanaman. Depok: (ID) Penebar Swadaya.
Tanto. 2012. Pemuliaan Tanaman dengan Hibridisasi (Allogam). PT  Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Yabe S, Ohsawa R, Iwata H. 2012. Potential of genomic selection for mass selection breeding in annual allogamous crop. J Crop Science 53: 95-105.
Yuniarti, R, dkk., 2011. Teknik Persilangan buatan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Populasi Tanaman Allogam (Menyerbuk Silang) "