Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Ekonomi Pertanian


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
    Ilmu ekonomi pertanian adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan upaya manusia dalam persoalan ekonomi yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan produksi, pemasaran, dan konsumsi petani atau kelompok-kelompok petani. Indonesia sebagai negara agraris mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan bekerja sebagai petani. Kegiatan pertanian yang berbasis pada agribisnis di pedesaan kurang dapat berkembang, hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan petani yang rendah serta kepemilikan modal yang terbatas bagi petani untuk mengembangkan usaha taninya. Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap perekonomian masyarakat desa, sebab para petani mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan bangsa Indonesia karena telah membantu masyarakat dalam memenuhi hidupnya.
    Pengembangan dari ilmu ekonomi pertanian diharapkan mampu mengubah pandangan para petani dan pola hidup mereka, misal dengan menerapkan teknologi tepat guna, pengelolaan yang lebih modern, memaksimalkan hasil manajemen pertanian, dan sebagainya. Diharapkan dengan menerapkan ilmu ekonomi pertanian mampu meningkatkan kesejahteraan dan mampu membangun perekonomian masyarakat di pedesaan, khususnya bagi para petani. Kebanyakan petani di pedesaan memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai pengelolaan lahan sehingga pendapatan mereka cukup rendah dan kebanyakan dari pendapatan tersebut digunakan semua untuk konsumsi, sehingga peluang untuk menabung dan melakukan investasi sangat kecil. Tolok ukur dari kemajuan sektor pertanian di suatu daerah ditentukan oleh keadaan ekonomi masyarakat petani.
    Praktikum Ekonomi Pertanian ini akan menganalisis berbagai hal dalam kehidupan para petani, antara lain biaya yang dikeluarkan dalam usaha tani, pendapatan rumah tangga, peluang untuk menabung, dan peluang untuk melakukan investasi. Hasil analisis tersebut, diharapkan petani dapat meningkatkan usaha pengelolaan lahan untuk mencapai peningkatan hasil pertanian dan juga dapat memberikan gambaran bahwa petani memiliki peluang yang cukup besar untuk menabung dan melakukan investasi.

B. Rumusan Masalah
    Ekonomi Pertanian merupakan bagian ilmu ekonomi umum yang mempelajari fenomena-fenomena serta persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pertanian baik mikro maupun makro. Sumberdaya ekonomi pertanian meliputi lahan pertanian, rumah tanggapertanian, dan pendapatan petani.Desa Blorong merupakan salah satu Desa di Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar yang mayoritas penduduknya adalah petani. Dari gambaran tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik desa serta rumah tangga di Dusun Pandakan Desa Blorong?
2. Bagaimana karakteristik rumah tangga petani di Dusun Pandakan Desa Blorong?
3. Berapa besar penerimaan, konsumsi, pendapatan, dan tabungan rumah tangga di Dusun Pandakan Desa Blorong?

C. Tujuan Praktikum Ekonomi Pertanian
Tujuan dari di adakannya praktikum ekonomi pertanian ini adalah :
1. Mengenalkan kepada mahasiswa mengenai kehidupan dan karakteristik rumah rumah tangga petani di pedesaan.
2. Melatih mahasiswa menganalisis secara ekonomi mengenai pendapatan  rumah tangga petani baik dari usahatani maupun dari luar usahatani.
3. Melatih mahasiswa menganalisis konsumsi, tabungan, serta investasi rumah tangga petani. 

D. KegunaanPraktikum Ekonomi Pertanian
Praktikum Ekonomi Pertanianini diharapkan mempunyai kegunaan sebagai berikut :
1. Bagi Mahasiswa 
    Praktikum ini dapat menambah wawasan tentang Ekonomi Pertanian dan sebagai persyaratan mata kuliah Ekonomi Pertanian. Aplikasi mata kuliah Ekonomi Pertanian melalui Praktikum Ekonomi Pertanian akan memperdalam pemahaman materi yang diajarkan oleh dosen. Pembelajaran di dalam kelas belum tentu langsung dipahami oleh mahasiswa, sehingga dalam melakukan praktikum diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap Ilmu Ekonomi Pertanian. Selain itu, Praktikum Ekonomi Pertanian juga merupakan prasyarat mata kuliah Ekonomi Pertanian.

2. Bagi Fakultas Pertanian UNS
    Hasil praktikum ini diharapkan dapat mendukung penerapan kurikulum di Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian UNS. Penyelenggaraan Praktikum Ekonomi Pertanian untuk menganalisis kondisi ekonomi masyarakat pedesaan, khususnya petani. Hasil dari praktikum ini bisa meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai Ilmu Ekonomi Pertanian dan diharapkan dapat mendukung penerapan kurikulum di Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian UNS. Penerapan kurikulum yang tepat dapat memajukan mahasiswa dan ilmu pengetahuan secara umum.

3. Bagi pemerintah Kabupaten Karanganyar
    Hasil praktikum ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dari mahasiswa mengenai kondisi dan karakteristik pedesaan serta kehidupan rumah tangga petani di Kabupaten Karanganyar. Praktikum Ekonomi Pertanian menganalisis rumah tangga petani secara rinci untuk mengetahui penerapan Ilmu Ekonomi Pertanian pada keseharian petani di pedesaan. Hasil praktikum yang berupa analisis ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran dari mahasiswa mengenai kondisi dan karakteristik pedesaan serta kehidupan rumah tangga petani di Kabupaten Karanganyar. Sumbangan pemikiran tersebut bisa digunakan untuk pembangunan ekonomi dan pertanian.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Karakteristik Pedesaan
    Masyarakat pedesaan pada setiap wilayah mempunyai karakter yang sering heterogen sifatnya, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam proses pembangunannya. Pendapatan yang berbeda ini mengisyaratkan perlunya partisipasi masyarakat yang mewakili kepentingan “dari bawah” (self-help), yang dalam hal ini adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan, implementasi, dan evaluasi program. Masyarakat pedesaan umumnya memiliki keanekaragaman, baik tingkat kemampuan sumber daya manusianya maupun aspek sosial budaya masyarakat tersebut sehingga pendekatan bottom-up dalam pelaksanaan program perlu diterapkan melalui pengenalan kebutuhan masyarakat sebagai sasaran pembangunan (Sitompul, 2009).
    Gambaran yang dikemukakan Roucek dan Warren (1962) misalnya salah satu contoh dari gambaran karakteristik yang bersifat kontras antara desa dan kota. Menurut mereka, masyarakat desa memiliki karakteristik berikut ini, besarnya peranan kelompok primer, faktor geografik yang menentukan sebagai dasa pembentukan kelompok/asosiasi, hubungan lebih bersifat intim dan awet, homogen, mobilitasi sosial rendah, keluarga lebih ditekankan fungsinya sebagai unit ekonomi, dan populasi anak dalam proporsi yang lebih besar. Jenis mata pencaharian merupakan faktor pembeda yang pokok dan penting. Pertanian dan usaha-usaha kolektif merupakan ciri kehidupan ekonomi pedesaan (Rahardjo, 2014). 
    Perdesaan (rural) dapat diartikan sebagai bentuk daerah otonom yang terendah sesudah kota. Pemakaian sehari-hari istilah desa sering disamakan dengan perdesaan yaitu kawasan yang memiliki karakteristik desa. Karakteristik yang menonjol pada perdesaan yang masih asli (tradisional) diantaranya mengenai pola-pola interaksi sosial yang sangat erat, perilaku individu dan masyarakat yang masih tergantung kepada alam sehingga kebudayaan yang mereka ciptakan masih sederhana serta aktivitas ekonominya didominasi oleh sifat agraris yang subsisten.Perkembangannya, perdesaan akan mengalami perubahan-perubahan sosial (socialchanges) dalam berbagai aspek kehidupan yang disebabkan oleh pengaruh faktor eksternal maupun faktor internal. Pengaruh kebudayaan dari luar yang masuk kedalam masyarakat perdesaan akan menyebabkan terjadinya difusi kebudayaan yang dapat mengubah sifat-sifat masyarakat yang tradisional menjadi modern. Perkembangan perdesaan di Inonesia terpola dalam tahapan-tahapan perkembangan yang disebut tipologi desa dimulai dari desa yang masih sangat tradisional yaitu pradesa, swadaya, swakrya, dan desa swasembada yang sudah maju (Santoso, 2007).
    Desa dalam pengertian secara umum adalah desa sebagai suatu gejala yang bersifat universal, terdapat dimanapun di dunia ini. Sebagai suatu komunitas kecil yang terikat pada lokalitas tertentu baik sebagai tempat tinggal (secara menetap) maupun bagi pemenuhan kebutuhannya dan terutama yang tergantung kepada pertanian. Desa-desa dimanapun cenderung memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang sama. Desa dalam definisi lainnya adalah suatu tempat atau daerah dimana penduduk berkumpul dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat untuk mempertahankan, melangsungkan dan mengembangkan kehidupan mereka. Desa adalah pola permukiman yang bersifat dinamis, dimana para penghuninya senantiasa melakukan adaptasi spasial dan ekologis yang sederap kegiatannya bersifat agraris. Istilah desa semula hanya dikenal di Jawa, Madura dan Bali. Desa dan dusun berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti tanah air, tanah asal,atau tanah kelahiran. Ciri utama yang terlekat pada desa adalah fungsinya sebagai tempat tinggal (menetap) dari suatu kelompok masyarakat yang relatif kecil. Dengan kata lain suatu desa ditandai oleh keterikatan warganya terhadap suatu wilayah tertentu. (Ariani, 2012).
    Zimmerman yang mengemukakan faktor-faktor yang menjadi dasar penentuan karakteristik masyarakat desa dan kota yaitu mata pencaharian,ukuran komunitas, tingkat kepadatan penduduk, lingkungan, diferensiasi social, stratifikasi social, solidaritas social. Karakteristik desa sangat diperlukan adanya pembagian desa atau biasa disebut dengan tipologi desa. Tipologi desa itu sendiri akan mudah diketahui jika dihubungkan dengan kegiatan pokok yang ditekuni oleh masyarakat itu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (Syafruddin, 2007). 

B. Pertanian dan Produktivitas Usahatani
    Produktivitas adalah rasio dari total output dengan input yang dipergunakan dalam produksi (Heady, 1952; Doll dan Orazem, 1976; Halcrow, 1981; Samuelson dan Nordhaus, 1992, Pindyck, R.S and D.L. Rubinfeld, 2001).Lebih lanjut Pindyck, R.S and D.L. Rubinfeld(2001) mengungkapkan bahwa pengukuran produktivitas input sebagai jumlah output per unit input, produktivitas tenaga kerja sebagai jumlah output per unit tenaga kerja. Heady (1952) menjelaskan bahwa berkenaan dengan lahan, produktivitas lahan berkesesuaian dengan kapasitas lahan untuk menyerap input produksi dan menghasilkan output dalam poduksi pertanian (Suwarto, 2012).
    Sifat khusus dari masyarakat petani adalah mempunyai hubungan dengan tanah dengan ciri spesifik produksi pertanian berakar pada keadaan khusus petani. Usahatani keluarga merupakan satuan dasar pemilikan, produksi, konsumsi dan kehidupan sosial petani, kepentingan pokok pekerjaan dalam menentukan kedudukan sosial, peranan, serta kepribadian petani dikenal secara baik oleh masyarakat bersangkutan. Struktur sosial desa merupakan keadaan khusus bagi daerah tertentu dan waktu tertentu; masyarakat petani merupakan sebuah kesatuan sosial pra-industri yang memindahkan unsur-unsur spesifik struktur sosial-ekonomi dan kebudayaan lama ke dalam masyarakat kontemporer (Triyono, 2002).
    Usaha tani memiliki tiga komponen biaya yang cukup besar, yaitu komponen pupuk (organik maupun buatan), pestisida dan komponen tenaga kerja mencakup pemeliharaan, panen dan pasca panen. Ketiga komponen tersebut, pupuk merupakan komponen biaya tertinggi dari total biayaproduksi. Dibanding pupuk organik, pupuk buatan seperti urea, TSP, KCl, NPK dan beberapa jenis pupuk memiliki harga tiga kali lipat lebih tinggi. Jenis pupuk lain ini seringkali kurang dikenal oleh petani karena hasil oplosan dari pedagang saprodi (Nurasa, 2003).
    Definisi produktivitas sebagai perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil, juga merupakan perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satuan-satuan umum (unit) (Sinungan, 2005). Gaspersz (2001) menyatakan bahwa peroduktivitas merupakan suatu sikap mental yang selalu berpandangan bahwa apa yang didapat hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Ungkapan tersebut mencerminkan produktivitas yang positif, namun pengertian teknik produktivitas total adalah perbandingan jumlah yang dihasilkan (output) suatu unit kegiatanproduksi terhadap jumlah keseluruhan sumber daya yang digunakan oleh unit tersebut (Palazuelos, 2008). Penenelitian terdahulu yang dilakukan oleh Agus Wisnu S. P dan I Ketut Sutrisna (2013) serta yang dilakukan oleh Ayu Adiati dan Dwi Setyadi menyatakan bahwa peningkatan produktivitas merupakan hal yang penting karena akan berpengaruh terhadap peningkayan pendapatan (Septiani, et al 2013).
    Produktivitas ialah kuantitas atau volume dari produk atau jasa yang dihasilkan. Banyak pandangan menyatakan bahwa produktivitas bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas produk yang dihasilkan, yang harus dipakai sebagai pertimbangan mengukur tingkat produktifitas. Untuk menentukan produktivitasnya tidak hanya dilihat dari faktor kuantitas saja, tetapi juga kualitasnya. Sebagai contoh seseorang menghasilkan 20 unit produk bulan yang lalu, tetapi dalam kualitas yang lebih baik, maka dikatakan produktivitasnya juga meningkat (Alma, 2010).

C. Pendapatan Petani Pedesaan
    Pendapatan petani dalam kegiatan usaha taninya tergantung atau dipengaruhi olehbeberapa komponen antara lain pendidikan formal, luas garapan, umur dan lain-lain. Analisisregresi linear ganda merupakan metode statistik yang digunakan untuk menentukankemungkinan bentuk hubungan antara variabel-variabel dan tujuan untuk meramalkan atauuntuk memperhatikan nilai dari suatu variabel dalam variabel yang diketahui.Keberhasilan suatu kegiatan usahatani diukur dari jumlah pendapatan yang diperolehpetani dari usahatani tersebut. Pendapatan usahatani yang dimaksud disini adalah seluruhnilai produksi usahatani dikurangi dengan biaya-biaya produksi yang dikeluarkan (Purwanti, 2007).
    Pendapatan petani merupakan salah satu gejala dari masalah usahatani yang penting adalah pendapatan yang rendah. Disparitas pendapatan antara sektor pertanian dan sektor industri mengakibatkan adanya upaya untuk menyetarakannya, sesuai dengan peranannya dalam produksi nasional. Salah satu ukuran adalah bagian pendapatan masing-masing sektor yang sebanding dengan banyaknya penduduk yang bekerja. Income parity (paritas pendapatan) adalah salah satu konsep untuk pembagian pendapatan yang wajar dari pendapatan nasional, yaitu dengan menyamakan pendapatan per tenaga kerja di masing-masing sektor (Widodo, 2012).
    Konsekuensi dari rendahnya pendapatan masyarakat adalah: cenderung semakinrusaknya sumber daya hutan, masyarakat semakinsulit mengembangkan potensi diri, standar minimal kebutuhan masyarakat sulit terpenuhi,dan pada akhirnya, masyarakat kurangdapat berpastisipasi dalam program pembangunan. Pada umumnya pendapatanmasyarakat yang berbasis lahan berasal daripengelolaan lahan pertanian di lahan negara yangberupa kebun campuran, lahan pertanian miliksendiri berupa sawah dan kebun, dan pendapatantidak berbasis lahan seperti usaha perdagangan(warung), profesional (guru, perawat), buruh, danlain-lain (Mulyadin, et al., 2016).
    Menstabilkan harga dan pendapatan petani, negara-negara di berbagai pelosok dunia banyak melakukan campur tangan dalam penentuan produksi dan harga. Campur tangan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain, membatasi jumlah produksi, menstabilkan harga dengan campur tangan dalam jual beli, dan menstabilkan pendapatan dengan subsidi. Membatasi (menentukan kuota) tingkat produksi yang dapat dilakukan tiap-tiap produsen. Melakukan pembelian barang yang ingin distabilkan harganya di pasaran bebas. Memberikan subsidi kepada para produsen apabila harga pasar lebih rendah daripada harga yang dianggap layak oleh pemerintah (Firdaus, 2008).
    Cara mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi kita harusmembandingkan pendapatan nasional dari tahun ke tahun. Membandingkannya harus disadaribahwa perubahan nilai pendapatan yang nasionalyang terjadi dari tahun ke tahun disebabkan oleh duafaktor yaitu perubahan tingkat kegiatan ekonomi danperubahan harga-harga. Adanya pengaruh dari faktoryang kedua tersebut disebabkan oleh penilaianpendapatan nasional menurut harga yang berlakupada tahun yang bersangkutan. Suatu perekonomiandikatakan mengalami pertumbuhan atau perkembanganjika tingkat kegiatan ekonomi yang dicapailebih tinggi dari waktu sebelumnya (Prishardoyo, 2008).

D. Konsumsi, Tabungan dan Investasi Pertanian
    Konsumsi merupakan salah satu komponen permintaan agregat yang dapat digerakan oleh pengeluaran konsumsi. Konsumsi dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, tabungan, pendapatan disposibel dan konsumsi periode sebelumnya. Konsumsi hampir dapat di prediksi dengan sempurna dari konsumsi periode sebelumnya. Barang-barang yang diproduksi digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi. Berbagai jenis barang dan jasa diproduksi dan ditawarkan kepada masyarakat untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Munculnya kegiatan produksi disebabkan adanya kegiatan konsumsi. Sebaliknya, kegiatan konsumsi ada karena ada yang memproduksi. Kegiatan produksi itu tentu akan dapat memicu pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya produksi akan meningkatkan pendapatan. Peningkatan pendapatan itu merupakan salah satu indicator meningkatnya pertumbuhan ekonomi (Ningsih, Elfrida et al, 2013).
    Beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi. Diantaranya menyatakan bahwa konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan disposibel. Pendapatan disposibel adalah pendapatan setelah dikurangi pajak dan merupakan pendapatan yang siap dibelanjakan. Pendapatan disposibel yang digunakan untuk menabung merupakan pendapatan yang tersisa karena tidak habis digunakan untuk konsumsi (Ernita,et al, 2013).
    Pola pengeluaran konsumsi penduduk merupakan informasi untuk melihat kesejahteraan penduduk. Besarnya nilai nominal (dapat diukur dalam satuan uang) yang dibelanjakan baik dalam bentuk pangan maupun non pangan, secara tidak langsung dapat mencerminkan kemampuan ekonomi rumah tangga, untuk mencukupi kebutuhan yang mencakup barang dan jasa. Berdasarkan sensus 1990, lebih dari 60% pengeluaran dikonsumsikan untuk kebutuhan pangan, dimana padi-padian merupakan 23% dari total konsumsi rumah tangga pedesaan dan 11% bagi rumah tangga perkotaan. Telah lebih jauh dengan memisahkan kelompok pendapatan menunjukkan bahwa konsumsi padi-padian kelompok 40% penduduk berpendapatan terendah masih sangat menonjol, yaitu 30% dari total pengeluaran (Anwar, 2002).
    Tabungan masyarakat secara tidak langsung ditentukan oleh besarnya pendapatan dan juga besarnya konsumsi. Tabungan ini juga ditentukan oleh tingkat suku bunga. Apabila tingkat suku bunga naik, maka masyarakat akan cenderung untuk menabung dan mengurangi konsumsinya dan sebaliknya. Konsumsi dan tabungan memang saling mempengaruhi satu sama lain. Pendapatan disposibel yang ada pada dasarnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran konsumsi dan sebagian lain digunakan untuk menabung. Namun sesungguhnya banyak faktor lain yang mempengaruhi konsumsi dan tabungan masyarakat selain pendapatan disposibel. (Ernita, et al, 2013).
    Proses pembentukan modal secara teoritis setiap anggota masyarakat memerlukan modal dalam meningkatkan kegiatan produksinya. Modal tersebut dihimpun dari tabungan yang diperoleh dari surplus pendapatan setelah dikurangi untuk konsumsi jangka pendek dan konsumsi sehari-hari. Tabungan yang dipupuk kemudian ditingkatkan menjadi investasi dan kemudian digunakan sebagai pembentukan modal. Salah satu peran strategis di dalam memupuk, mengembangkan atau menghimpun dana tabungan adalah perbankan. Peran tersebut terutama disebabkan oleh fungsi utama bank sebagai suatu lembaga keuangan yang dapat menghimpun dana melalui giro, deposito berjangka dan tabungan dan menyalurkan dana masyarakat secara efektif dan efisien melalui investasi jangka pendek dengan berasaskan demokrasi ekonomi yang mendukung pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya. Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak (Muchtolifah, 2007).
    Tabungan adalah sumber pembiayaan investasi. Suatu negara, tabungan merupakan gabungan dari tabungan domestik dan tabungan asing. Tabungan domestik terdiri dari tabungan pemerintah  dan tabungan swasta. Tabungan pemerintah terdiri dari tabungan sisa anggaran atau tabungan budgeter dan tabungan perusahaan milik pemerintah. Ketergantungan pada berbagai sumber tabungan tersebut sangat bervariasi diantara negara-negara berkembang, dipengaruhi berbagai faktor seperti tingkat pendapatan per kapita, kepemilikan sumber daya alam, serta kebijakan mobilitas tabungan yang diadopsi oleh pemerintah negara tersebut. (Hakim, 2002)
    Investasi merupakan suatu faktor yang penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Mankiw (2007 :447) mengatakan bahwa pengeluaran untuk barang-barang investasi bertujuan meningkatkan standard hidup untuk tahun-tahun mendatang. Investasi dapat ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan. Selain itu faktor lain yang dapat mempengaruhi kegiatan investasi yaitu suku bunga. Suku bunga yang terlalu tinggi akan mempengaruhi nilai sekarang aliran kas perusahaan, sehingga kesempatan-kesempatan investasi yang ada tidak akan menarik lagi. Suku bunga yang tinggi juga akan meningkatkan biaya modal yang harus ditanggung perusahaan. Rendahnya suku bunga akan meningkatkan investor karena kredit yang diberikan bank masih menguntungkan untuk melakukan investasi. Ketika suku bunga rendah, investasi akan meningkat. Hal ini berarti menunjukkan bahwa dengan tingginya suku bunga dapat menurunkan minat individu untuk berinvestasi (Siregar, Enni et al  2013).
    Kenaikan investasi akan memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi karena kenaikan investasi mengindikasikan telah terjadinya kenaikan penanaman modal atau pembentukan modal. Kenaikan penanaman modal atau pembentukan modal akan berakibat terhadap peningkatan produksi barang dan jasa di dalam perekonomian. Peningkatan produksi barang dan jasa ini akan menyebabkan peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan investasi maka PDB juga akan mengalami penurunan karena penurunan investasi mengindikasikan telah terjadinya penurunan penanaman modal atau pembentukan modal. Penurunan penanaman modal atau pembentukan modal ini akan mengakibatkan perekonomian menurunkan produksi barang dan jasa. Penurunan produksi barang dan jasa akan menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi. Investasi merupakan suatu hal penting dalam membangun ekonomi karena dibutuhkan sebagai faktor penunjang di dalam peningkatan proses produksi (Ernita, et al, 2013).
    Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang. Lebi jauh ekonom asal Amerika Paul R. Krukman dan Maurice Obstfeld mengatakan bahwa bagian output yang digunakan oleh perusahaan pertanian-perusahaan pertanian swasta guna menghasilkan output di masa mendatang bisa di sebut sebagai investasi. Tentunya proses pencarian keuntungan dengan melakukan investasi ini adalah sesuatu yang membutuhkan analisis dan penghitungan mendalam dengan tidak mengesampingkan prinsip kehati-hatian (prudent principle). Pentingnya sikap kehati-hatian merupakan modal penting bagi seorang investor (Fahmi, 2012).

III. METODOLOGI
A. Penentuan Sampel
1. Sampel Desa
    Penentuan sampel desa ditentukan secara purposive (sengaja), yaitu Kecamatan Andong. Penentuan desa dan kebayanan dilakukan dengan metode sensus, yaitu semua desa atau kebayanan yang ada di Kecamatan Andong. Pada praktikum kali ini dipilih Desa Seruni , Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Diadakan di Kecamatan Musuk karena mayoritas penduduk bekerja sebagai petani.

2. Sampel Responden
    Dalam hal ini penentuan responden dengan cara clustersampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara mewawancarai rumah tangga petani untuk setiap kebayanan. Rumah tangga petani yang dijadikan responden terdiri dari rumah tangga petani miskin dan rumah tangga petani tidak miskin. Jumlah petani yang diwawancarai dalam praktikum ini adalah 25 orang. Wawancara dilakukan dengan menggunakan lembar kuisioner yang telah dipersiapkan. 

B. Data yang Dikumpulkan
1. Data Primer
    Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden atau petani sampel, meliputi hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi pertanian di daerah penelitian.
2. Data Sekunder
    Data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari suatu instansi terkait (misalnya Kelurahan, Dinas Pertanian, Kantor Statistik, Kecamatan, dan lain-lain), dengan melakukan pencatatan, yang meliputi keadaan alam, kependudukan, keadaan pertanian, sarana dan prasarana sosial ekonomi yang ada.

C. Metode Analisis Data
1. Tabulasi silang
    Tabulasi silang merupakan pengelompokan data berdasarkan kritria tertentu serta perluasan dari analisis distribusi relatif dengan menyajikan hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya.
2. Angka rata-rata
    Angka rata-rata adalah angka untuk mengetahui taksiran secara kasar untuk melihat gambaran dalam garis besar dari suatu karakteristik yang ada.Angka rata-rata ini didapat dari awal penjumlahan data-data kemudian dihitung rata-rata setiap kolom.
3. Analisis Persentase
    Analisis Persentase adalah analisis mengenai data yang dibagi dalam beberapa kelompok yang dinyatakan dan diukur dalam persentase. Cara ini dapat diketahui kelompok yang paling banyak jumlahnya yaitu ditunjukkan  dengan persentase yang paling tinggi.
4. Analisis Usahatani
    Biaya usahatani merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pengelolaan usahatani. Biaya usahatani meliputi biaya tetap dan biaya tidak tetap, sedangkan pendapatan usahatani (Y) adalah total yang diterima (TR) dikurangi total biaya yang dikeluarkan untuk proses usahatani (TC). Rumus penghitungan pendapatan usahatani adalah Y = TR – TC.

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

DAFTAR PUSTAKA

Alma, Bochari. 2010. Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta
Anwar. 2002. Presentase pengeluaran. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada Press
Ariani, Desti. 2012. Domicile community orientation in remote village (Descriptive study in Negeri Gugung Village, Subdistrict Sibolangit, Deli Serdang Regency). Jurnal Universitas Sumatera Utara. Vol.1 No. 1
Astuti, Mudji, et al,. 2013. Peningkatan Produktivitas Usaha Kecil & Menengah (UKM) Berbasis Technology Content Untuk Mendukung Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (Mp3ei) 2011-20251. Bidang Studi Pembangunan. 381
Ernita, Dewi, et al,. 2013. Analisis pertumbuhan ekonomi, Investasi dan konsumsi di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi. Vol. 1 No. 02
Fahmi, Irham. 2012. Manajemen Investasi. Jakarta: Salemba Empat
Firdaus, Muhammad. 2008. Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara
Hakim, Abdul. 2002. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Ekonisia
Muchtolifah. 2007. Analisis beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah
tabungan masyarakat pada bank umum di kota Surabaya. Jurnal Kajian Ekonomi. Vol 7 No.2 Hal.20-29
Mulyadin, Radenet al. 2016. Kajian hutan kemasyarakatan sebagai sumber pendapatan: kasus di kabupaten Gunungkidul. Yogyakarta. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. Vol. 13.No. 1 Hal. 19
Ningsih,et al,. 2013. Analisis pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan tabungan di Sumatra Barat. Jurnal Kajian Ekonomi. Vol. 1 No. 02
Nurasa. 2003. Analisis usaha tani dan keragaman marjin pemasaran jeruk di kabupaten Karo. Jurnal Ekonomi Pertania. Vol. 36 No. 1 Hal. 72-94
Prishardoyo, Bambang. 2008. Analisis tingkat pertumbuhan ekonomi dan
potensi ekonomi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pati Tahun 2002-2005. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan. Vol. 1No. 1.Hal. 2
Purwanti, Rini. 2007. Pendapatan petani dataran tinggi Sub DAS Malino. Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan. Hal. 260-264 No. 3 Vol. 4
Rahardjo. 2014. Pengantar Sosiologi Pedesaan Dan Pertanian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Raharjo. 2014. Pengantar Sosiologi Pedesaan Dan Pertanian. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Santoso, Apik Budi. 2007. Peluang kerja non-farm di pedesaan (Kajian Teoritis Strategi Pengentasan Kemiskinan di Perdesaan). Jurnal Geografi. Vol. 4 No. 1
Sari Siregar, Enni et al,. 2013. Analisis investasi dan pendapatan daerah Sumatera. Vol. 2. No. 1. Hal. 1-2
Sitompul, Rislima. 2009. Merancang Model Pengembangan Masyarakat Pedesaan dengan Pendekatan System Dynamics. Jakarta: LIPI Press
Suwarto. 2012. Produktivitas lahan usahatani sesuai kelembagaan lahan.  Journal of Rural and Development. Vol 3 No. 1
Syafruddin, Mahmud. 2007. Penembangan desa. Jurnal Pedesaan dan Perkotaan. Vol 2No. 2 Hal 4
Triyono. 2002. Sifat Masyarakat Petani Pedesaan. Jakarta: Akademika Pressindo
Widodo, Sri. 2012. Politik Pertanian. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta


Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Ekonomi Pertanian"