Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Komunikasi Bisnis


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Praktikum
    Komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia, melalui komunikasi manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Komunikasi secara efektif akan memudahkan kegitan-kegitan yang dilakukan manusia sehingga dapat berjalan dengan lancar, baik itu di rumah maupun dalam suatu organisasi, perusahaan dan dimana pun manusia itu berada. Kegiatan komunikasi dalam suatu organisasi sangat diperlukan karena berguna untuk saling bertukar ide/gagasan, memberikan informasi hingga berkoordinasi dalam membuat sebuah keputusan. Komunikasi bisnis merupakan hal yang penting dalam sebuah organisasi, karena digunakan untuk memberikan instruksi kerja, memimpin dan menghadiri rapat, wawancara calon karyawan, presentasi bisnis hingga menyusun laporan bisnis.
    Komunikasi dalam bisnis menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan sebuah bisnis. Pengusaha bisa menjual produk yang dimiliki dengan lebih baik melalui komunikasi bisnis yang baik dan juga bisa menghindari terjadinya kesalahpahaman antara sesama pihak internal perusahaan maupun dengan pihak eksternal. Kegiatan bisnis seperti pemasaran pastinya membutuhkan komunikasi yang baik terutama kepada konsumen agar produk yang dimiliki bisa diterima sepenuhnya. Komunikasi pemasaran merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan memperkuat strategi pemasaran. Munculnya berbagai inovasi pada perangkat komunikasi, pesan, dan khalayak memaksa perusahaan menoleh pada komunikasi pemasaran terpadu atau Integrated Marketing Communication (IMC). Penerapan IMC sangat penting digunakan dalam pemasaran, karena saat ini konsumen dibombardir dengan ribuan pesan dari ribuan pengiklan yang berbeda setiap hari sehingga mereka terbiasa untuk menyaring pesan-pesan yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau kepentingan, sedangkan perusahaan perlu memastikan untuk menjangkau konsumen agar mereka tertarik pada produk yang ditawarkan. Oleh karena itu, pesan yang disebarkan harus selalu tepat sasaran kepada konsumen yang membutuhkan.
    Perkembangan komunikasi yang menyangkut kehidupan sosial organisasi/ perusahaan dengan masyarakat ditandai dengan adanya Public Relation (PR), yaitu suatu lembaga yang bertugas menjalin dan menjaga baik dengan publik internal ,ekternal, dan stakeholder perusahaan. Public Reltion berperan dalam proses yang kontiyu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh good will (kemauan baik) dan pengertian dari pelanggan, pegawai dan publik yang lebih luas. Public Relation timbul karena adanya ketergantungan antara perusahaan atau pun organisasi dengan masyarakat. Kualitas informasi dan keintensifan komunikasi yang terjadi membuat hubungan dengan publik menjadi sesuatu yang sangat penting demi kelangsungan perusahaan/ organisasi.  Hubungan yang sehat terjadi bilamana terdapat kepercayaan dari publik-publik atas keterbukaan dan kejujuran sebuah perusahaan/ organisasi.
Berbagai kegiatan komunikasi dalam organisasi bisnis terjadi setiap hari, baik lisan maupun tertulis. Semua kegiatan komunikasi saling bersaing untuk memperoleh perhatian penerima, sehingga pesan bisnis diupayakan selalu lebih menarik dibandingkan yang lain atau lebih baik dibandingkan sebelumnya. Menyusun pesan bisnis yang menarik perhatian, mudah dibaca, dan mudah dipahami memerlukan kreativitas. Desain pesan harus memperhatikan prinsip-prinsip, diantaranya perhatian, persepsi, dan daya serap agar pesan tersebut dapat diterima dan dipahami oleh penerima pesan. Pesan dapat berupa pola-pola isyarat atau simbol, tulisan, atau isi pembicaraan secara langsung. Penyampaian pesan dengan menggunakan media harus disesuaikan dengan pesan yang akan disampaikan. Pesan bisnis yang dibuat tetap berpusat pada penerima dan memiliki tujuan yang jelas.
    Integrated Marketing Communication (IMC), Public Relation (PR), dan desain pesan memiliki peran yang sangat penting dalam komunikasi bisnis yang berlangsung di perusahaan atau pun organisasi. Praktikum Komunikasi Bisnis dilaksanakan untuk mengimplementasikan pengetahuan komunikasi bisnis dalam pelaksanaan komunikasi bisnis pada perusahaan maupun organisasi. Praktikum Komunikasi Bisnis dilaksanakan dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi tindak komunikasi bisnis dalam organisasi di Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Sinar Mas.

B. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
Tujuan umum Praktikum Komunikasi Bisnis agar mahasiswa mampu mengimplementasikan pengetahuan komunikasi bisnis sebagai landasan dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi tindak komunikasi bisnis dalam organisasi.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus Praktikum Komunikasi Bisnis agar mahasiswa diharapkan mampu:
a. Mengidentifikasi berbagai fenomena komunikasi bisnis kaitannya dengan desain pesan bisnis, Integrated Marketing Communication (IMC) dan tindak komunikasi Public Relations (PR) yang dilakukan oleh lembaga profit dan non profit baik pertanian ataupun non pertanian termasuk oleh pemerintah. Mengembangkan instrumen untuk mengidentifikasi berbagai fenomena komunikasi bisnis baik dari aspek desain pesan bisnis, Integrated Marketing Communication (IMC) ataupun tindak komunikasi PR.
b. Mengobservasi untuk menemu kenali berbagai fenomena komunikasi bisnis baik dari aspek desain pesan bisnis, Integrated Marketing Communication (IMC) ataupun tindak komunikasi PR.
c. Memberikan alternatif pemecahan masalah dari berbagai masalah komunikasi bisnis yang diamati.
d. Membuat (create) bisnis dan mengkomunikasikannya pada end-users skala besar.

C. Waktu dan Tempat
Praktikum Komunikasi Bisnis dilaksanakan pada 28 November-30 November 2018 di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Sinar Mas yang bertempat di DKI Jakarta.

II. LANDASAN TEORI
A. Komunikasi Bisnis
    Komunikasi bukanlah sekadar transmisi pesan atau pesan itu sendiri, tetapi pertukaran pemahaman bersama antara komunikator dan penerima. Komunikasi adalah inti dari manajemen dan harus efektif dalam bisnis. Fungsi dasar manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staf, pengarahan dan pengendalian) tidak dapat dilaksanakan dengan baik tanpa komunikasi yang efektif. Komunikasi bisnis selalu terlibat dalam penyampaian informasi. Umpan balik merupakan bagian dari komunikasi bisnis. Organisasi-organisasi saat ini benar-benar hebat, dan berhubungan dengan sejumlah orang. Komunikasi bisnis berorientasi pada tujuan dengan peraturan dan kebijakan perusahaan untuk dikomunikasikan kepada orang-orang di dalam dan di luar organisasi (Mannan, 2014).
    Semakin terbukanya peluang perusahaan multinasional masuk ke wilayah suatu negara dan didorong dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, komunikasi bisnis menjadi semakin penting, artinya terlebih apabila dalam budaya organisasinya melibatkan komunikasi konteks tinggi maupun rendah. Jauh sebelum praktik komunikasi bisnis menjadi landasan dalam berbisnis telah menggambarkan budaya konteks-tinggi (high-context culture) dengan budaya konteks-rendah. Budaya konteks-rendah ditandai dengan komunikasi konteks rendah. Pesan yang disampaikan cenderung verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas dan berterus terang. Komunikator lebih mengatakan maksud (they say what they mean) dan memaksudkan apa yang dikatakan (they mean what they way) pada budaya konteks-rendah. Sifat dari komunikasi konteks-rendah adalah cepat dan mudah berubah karena itu tidak menyatukan kelompok (Rozalena, 2014).
    Komunikasi bisnis yang efektif sangat tergantung pada keterampilan seseorang dalam mengirim atau menerima pesan. Secara umum untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis, seseorang dapat menggunakan tulisan dan lisan. Sedangkan untuk menerima pesan-pesan bisnis, seseorang dapat menggunakan pendengaran dan bacaan. Komunikasi verbal (verbal communicaton) merupakan salah satu salah satu bentuk komunikasi yang lazim di gunakan untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis kepada pihak lain melalui tulisan maupun lisan. Komunikasi nonverbal menggunakan gerakan-gerakan tubuh dan bahasa tubuh (body language) sebagai alat komunikasi dengan orang lain (Ramadanty, 2014).
    Komunikasi bisnis adalah keterampilan yang sangat penting karena kelancaran perencanaan, pengorganisasian, memonitor, dan memfasilitasi semuanya dapat terlaksana dengan baik melalui komunikasi. Ketika semua aktivitas manajerial itu harus dilakukan bersama-sama dengan rekan bisnis terkadang ada hambatan dalam proses encoding dan decoding pesan agar makna dapat diinterpretasikan dengan tepat. Walaupun pesan verbal adalah adalah cara utama dalam menyandi pesan, pesan-pesan nonverbal seperti nada suara, ekspresi wajah, postur tubuh, bahasa tubuh, jarak, dan kontak mata mengandung makna yang lebih luas dan kompleks. Justru pesan-pesan nonverbal ini yang sering kali ambigu dan dapat menimbulkan kesalahpahaman (Luthfia, 2014).

B. Desain Pesan
    Desain pesan melibatkan strategi selektif untuk memilih bahan substantif dan produksi kreatif fitur gaya. Desainer kampanye berusaha untuk menekankan satu atau lebih dari lima kualitas pesan yang berpengaruh dalam mengembangkan kombinasi komponen pesan. Pertama, kredibilitas utama disampaikan oleh kepercayaan dan kompetensi sumber dan penyediaan bukti yang meyakinkan. Kedua, gaya dan ide-ide harus disajikan dalam cara yang mengasyikkan melalui pemilihan konten substantif yang menarik atau membangkitkan kombinasi dengan eksekusi gaya yang menarik dan menghibur. Ketiga, menekankan pemilihan material dan perangkat gaya yang secara pribadi melibatkan dan relevan, sehingga penerima menganggap rekomendasi perilaku yang berlaku untuk situasi dan kebutuhan mereka. Unsur keempat adalah dimengerti dengan presentasi konten yang sederhana, eksplisit, dan rinci yang komprehensif dan dapat dipahami oleh penerima. Faktor kelima untuk pesan persuasif adalah insentif motivasi seperti yang dijelaskan di atas (Rice dan Atkin, 2013).   
    Desain secara etimologi berasal dari beberapa serapan bahasa yang diambil dari bahasa Italia yaitu “Designo” yang secara gramatikal berarti gambar. Kata desain tersebut dapat digunakan pada berbagai kalimat, baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Apabila sebagai kata kerja, istilah “desain” dapat diartikan sebagai proses dalam membuat atau menciptakan sebuah objek baru, sedangkan dalam kata benda istilah “desain” dapat digunakan sebagai hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk karya nyata. Perencanaan Pesan adalah proses komposisi penyusunan pesan bisnis. Konsep kreatif pada desain pesan bisnis dengan mencoba menuangkan ide-ide kreatif berdasarkan data-data yang diperoleh, kemudian diolah dalam sebuah desain sesuai dengan alur proses kreatif yang ada pada setiap lembar halaman dan disesuaikan dengan kebutuhan (Hidayat et al, 2018).
    Pesan adalah informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain, dapat berupa ide, fakta, makna, dan data. Perancangan pesan yang melibatkan pihak komunikan (penerima) dan komunikator, komunikator (penyampai pesan) harus menyadari kemampuan komunikan sesuai dengan tingkat umur, kognisi, afeksi, dan psikomotoriknya. Desain pesan berkaitan dengan hal-hal mikro, seperti bahan visual, urutan, halaman, dan layar secara terpisah. Desain pesan harus bersifat spesifik, baik tentang media maupun tujuan pesan, artinya bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda, tergantung pada jenis medianya apakah bersifat statis, dinamis, atau kombinasi keduanya dan apakah tujuan pesan tentang pembentukan konsep, pengembangan sikap atau pengembangan keterampilan (Wiyana et al, 2013).
    Proses penyusunan pesan dibuat dengan tepat dan berdasarkan visi dan misi perusahaan secara user generated content, dimana pesan informasi yang disajikan adalah hasil dari keterlibatan publiknya juga, yaitu influencers, fashion fotografer, illustrator, beauty expert, stylist juga followers lainnya. Namun, tentunya masih sesuai dengan selera dan gaya perusahaan/ organisasi, sehingga pesan dalam bentuk konten dapat dinikmati bersama-sama baik dari komunikator maupun komunikannya. Berdasarkan penyusunan pesan ini perusahaan/ organisasi dengan rekan bisnis maupun pihak yang bekerjasama dapat memiliki karakter publik yang sama pula. Proses penyusunan pesan dapat disebut sebagai kolaborasi konten untuk dinikmati publik secara keseluruhan dengan efek yang serempak 
(Putri dan De Mormes, 2017).
    Model adalah representasi suatu fenomena dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting guna mempermudah penjelasan tetang fenomena tersebut. Model komunikasi mempresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Fungsi utama model komunikasi, meliputi menyederhanakan teori, mengorganisasikan cara berpikir, membuat abstrak atau meringkas, dan mendorong pemikiran pengirim dan penerima. Model komunikasi yang telah dibuat para pakar sampai sekarang ini jumlahnya ratusan. Kekhasan suatu model komunikasi juga dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan (pembuat) model tersebut, paradigma yang digunakan, kondisi teknologi, dan semangat zaman yang melingkunginya (Rustan dan Hakki, 2017).

C. IMC (Integrated Marketing Communication)
    Perkembangan teknologi dan pemasaran yang bergeser dari pemasaran massal ke pemasaran yang dibidik secara akurat, menimbulkan permasalahan bagi para pemasar. Konsumen dihadapkan pada berbagai komunikasi pemasaran yang lebih beragam. Dengan demikian, telah terjadi satu tren aplikasi dengan istilah komunikasi pemasaran terpadu (Integrated Marketing Communication/ IMC). Konsep Integrated Marketing Communication (IMC), perusahaan secara seksama memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasinya untuk menyampaikan pesan yang jelas, konsisten dan berpengaruh kuat tentang organisasi dan produk-produknya. Integrated Marketing Communication (IMC) adalah proses pengembangan dan implementasi berbagai bentuk program komunikasi persuasif kepada pelanggan dan calon pelanggan secara berkelanjutan. Tujuan dari Integrated Marketing Communication (IMC) adalah untuk mempengaruhi atau memberikan efek langsung kepada perilaku khalayak sasaran yang dimilikinya (Chrismardani, 2014).
    Adanya Intergrated Marketing Communication (IMC), sebuah perusahaan dapat menyasar pangsa pasar dengan efektif dan tepat. Beberapa komponen intergrated marketing communication untuk memperlancar proses pemaaran. Pertama adalah iklan (advertising) yaitu presentasi dan promosi ide, produk dan jasa yang teridentifikasi misalnya: radio, televisi, brosur, dan katalog. Kedua ada Personal selling yaitu sebuah proses yang membantu dan membujuk pelanggan yang berprospek untuk membeli suatu barang atau jasa melalui presentasi lisan misalnya: rapat penjualan, sampel, telemarketing. Ketiga ada sales promotion yaitu baik media maupun nonmedia komunikasi yang digunakan dalam waktu yang telah ditentukan, terbatas bertujuan untk meningkatkan permintaan konsumen end-user serta merangsang permintaan pasar dari sebuah perusahaan untuk meningkatkan ketersediaan produk misalnya: kupon, undian. Keempat ada  Public Relation yaitu pengelolaan informasi antara individu atau organisasi/perusahaan dan masyarakat misalnya berbicara di konferensi. Kelima ada Direct marketing adalah bentuk saluran iklen yang memungkinkan perusahaan dan organisasi nirlaba untuk berkomunikasi langsung kepada pelanggan, dengan teknik iklan seperti mobile messaging, email, website (Kamarga, 2013).
    Integrated Marketing Communication (IMC) adalah merupakan suatu pendekatan penyelesaian permasalahan yang berhubungan dengan proses pemasaran, komunikasi dan organisasi secara bersepadu. Perkembangan teknologi yang begitu pesat memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih baik dan lebih tepat pada sasaran (publik) yang ingin kita tunjukan. Publik biasanya bersifat sensitif dan juga interaktif, tidak kaku dan lesu seperti apa yang kita fikirkan selama ini. Oleh sebab itu sebuah perusahaan atau organisasi harus dapat beroperasi di bawah tekanan publik tersebut dengan pantas dan cepat. Konsep IMC ini mengenal pasti keadaan seperti itu, serta mengambil segala perkiraan yang akan selalu berubah-ubah (Anis, 2013).
    Integrated Marketing Communication (IMC) atau komunikasi pemasaran terpadu adalah satu dari sekian proses yang tersedia guna membina hubungan dengan customer. IMC berusaha untuk memaksimalkan pesan positif dan meminimalkan pesan negatif dari suatu brand, dengan sasaran menciptakan dan menyokong brand relationship. Membangun hubungan jangka panjang, IMC juga digunakan untuk membangun dan memperkuat brand. Brand relationship yang positif juga akan menghasilkan keuntungan dan meningkatkan nilai dari pemegang saham perusahaan tersebut (Effendy, 2009).
    Definisi IMC adalah proses pengembangan dan implementasi berbagai bentuk program komunikasi persuasif kepada pelanggan dan calon pelanggan secara berkelanjutan. Terdapat lima cirri IMC yaitu (1) Mempengaruhi perilaku, tujuan IMC adalah untuk mempengaruhi khalayak sasarannya. Hal ini berarti komunikasi pemasaran harus melakukan lebih dari sekedar mempengaruhi kesadaran merek atau “memperbaiki” perilaku konsumen terhadap merek. (2) Berawal dari pelanggan dan calon pelanggan (prospect), prosesnya diawali dari pelanggan atau calon pelanggan kemudian berbalik kepada komunikator merek untuk menentukan metode yang paling tepat dan efektif dalam mengembangkan program komunikasi persuasif. (3) Menggunakan satu atau segala cara untuk melakukan ‘kontak’. IMC menggunakan seluruh bentuk komunikasi dan seluruh ‘kontak’ yang menghubungkan merek atau perusahaan dengan pelanggan mereka, sebagai jalur penyampai pesan yang potensial. (4) Berusaha menciptakan sinergi, dalam definisi IMC terkandung kebutuhan akan sinergi (kesinambungan). Semua elemen komunikasi (iklan, tempat pembelian, promosi penjualan, event, dan lain-lain) harus berbicara dengan satu suara; koordinasi merupakan hal yang amat penting untuk menghasilkan citra merek yang kuat dan utuh, serta dapat membuat konsumen melakukan aksi. (5) Menjalin hubungan, karakteristik IMC yang kelima adalah kepercayaan bahwa komunikasi pemasaran yang sukses membutuhkan terjalinnya hubungan antara merek dengan pelanggannya (Terence, 2009).

D. Public Relations (PR)
    Divisi atau Public Relations (PR) idealnya menjalankan peran manajerial dalam organisasi. PR idealnya berperan sebagai fasilitator komunikasi, menjamin terjalinnya komunikasi dua arah simetris antara organisasi dengan publik, terlibat dalam penyelesaian masalah yang dihadapi organisasi, menjembatani kepentingan antara organisasi dengan publik, memberikan masukan bagi organisasi untuk keputusan-keputusan strategis, berada dalam koalisi dominan (yakni pihak-pihak yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan organisasi), serta menjamin organisasi melakukan hal-hal yang etis terhadap publik. Namun faktanya PR lebih sering berperan sebagai juru bicara organisasi, menjadi tameng ketika organisasi tengah berhadapan dengan masalah, bahkan dalam beberapa situasi PR justru memposisikan diri berhadap-hadapan dengan publik, serta hanya sebagai penyebar/penyampai informasi belaka (Prastya, 2016).   .
    Public Relations merupakan suatu ilmu atau seni berkomunikasi. Selain seni berkomunikasi, PR diyakini merupakan sebuah ilmu yang mendasarkan diri pada manajemen sebagai acuannya. Setiap kegiatan yang dilaksanakan harus melalui proses manajemen. Proses manajemen tersebut diadaptasi dengan menyebut sebagai Proses PR. Selain seni berkomunikasi dan manajemen, PR pun menganggap dasar setiap pekerjaan yang dilakukannya adalah opini publik, karena opini publiklah yang akan menggiring orang berpendapat, berekspresi, bersikap, bahkan berperilaku terhadap organisasi/perusahaan. Untuk menjadi seorang PR setidaknya ada lima kemampuan yang harus dimiliki yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, kemampuan manajerial, kemampuan melakukan jejaring sosial, berkepribadian dan jujur, banyak ide dan kreatif (Purwaningwulan, 2013).
    Public Relation (PR) ini banyak sekalai dibutuhkan di setiap segi kehidupan. Baik dari pemerintahan hingga organisasi kecil menganggap penting peranan dari Public Relation (PR). Public Relation (PR) mengangkat permasalahan-permasalahan penting seperti keadilan sosial, lingkungan, kebijakan pemerintah, perdagangan, serta agama pada masyarakat. Public Relation (PR) memandang suara-suara mereka yang tidak di dengar dan membuka perdebatan umum mengenai signifikansi perubahan dalam kehidupan. Public Relation (PR) dapat menyatukan mereka yang berlawanan serta mencari jalan untuk menengahi perbedaan serta menyelesaikan konflik. Secara samar-samar, Public Relation (PR) juga dapat berfungsi sebagai agen perubahan dalam sebuah organisasi yang tidak vokal, yang secara perlahan dapat mengubah kultur sebuah organisasi dengan membentuk konteks komunikasi serta membantu menginterpretasikan perubahan stakeholder organisasional (Gregory, 2014).

E. Hambatan IMC dan PR
    Struktur organisasi adalah hambatan utama untuk mengimplementasikan komunikasi pemasaran terintegrasi. Repotnya lagi hambatan ini sulit untuk disingkirkan begitu saja. Adanya pemisahan personil yang bertanggung jawab untuk periklanan, public relations atau pensponsor, integrasi makin sulit. Oleh karena itu, manajemen puncak harus mendefinisikan tanggungjawab untuk integrasi. Hambatan lainnya seperti budaya dan pribadi, ini yang menyebabkan masih banyak perusahaan yang tidak melihat persoalan komunikasi ini dari perspektif strategis. Penerapan komunikasi pemasaran terintegrasi memerlukan proses. Kesungguhan dari manajemen puncak perusahaan untuk mendukung konsep ini sangatlah diperlukan. Ini harus diikuti dengan keinginan untuk terus belajar dari berbagai sumber sehingga akan diperoleh kristalisasinya berupa konsep pemasaran terintegrasi yang handal (Afdhal, 2008).
    Faktor penghambat Public Relations dalam menjaring pemasang iklan diantaranya (1) Minimnya dana perawatan sarana dan prasarana. Alat-alat yang digunakan seperti peralatan elektronik yaitu komputer adalah alat-alat yang sudah tua yang membutuhkan dana perawatan yang cukup. Bila terjadi kerusakan pada alat elektronik dan tidak bisa diperbaiki karena dana perawatan tidak cukup maka akan menghambat kelancaran tugas dari karyawan, (2) Program pengembangan serta pendidikan latihan untuk meningkatkan sumber daya manusia belum dilaksanakan secara terpadu, (3) Masih terbatasnya pengetahuan dan kemampuan tim kerja Public Relations dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab, dan (4) Minimnya kemampuan pengetahuan, keterampilan yang dimiliki karyawan sehingga dapat menghambat pelaksanaan kegiatan (Putri, 2015).
    Komunikasi pemasaran terpadu adalah suatu konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah dari satu rencana komprehensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplin komunikasi-misalnya, iklan umum, respon langsung, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat-dan menggabungkan berbagai disiplin tersebut guna memberikan kejelasan, konsistensi, serta dampak komunikasi yang maksimal. Faktor penghambat komunikasi pemasaran terpadu yaitu, a) Anggaran promosi yang minim. b) Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang baik. c) Perilaku konsumen. d) Toko/kios yang dibuka tidak secara merata e) Lokasi yang harus bersaing dengan pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan showrom- showroom besar pada area yang berdekatan (Inanah et al, 2017).
    Komunikasi akan mengalami kendala bila stereotip muncul di tengah komunikasi yang berlangsung antara publik dan suatu organisasi. Misalnya stigma bahwa usia muda belum memiliki banyak pengalaman dibanding usia tua sering memunculkan kesan ‘ragu’ dari publik terhadap personal organisasi. Tentu saja hal ini harus diantisipasi sehingga personal organisasi tetap memiliki kredibilitas di hadapan publiknya walaupun usia personal organisasi lebih muda dari usia publiknya. Apabila komunikator kurang mahir dalam menyampaikan pesan, maka komunikan akan gagal menangkap pesan yang disampaikan dan dampaknya dapat terjadi miss communication. Bahkan apabila komunikator dalam menyampaikan pesan tidak memperhatikan kesantunan dalam berbahasa, maka bisa terjadi komunikan akan memberikan reaksi atau tanggapan negatif karena komunikator tidak menggunakan etika dalam berkomunikasi. Public relations berkaitan dengan bentuk komunikasi yang berlaku untuk semua organisasi, Artinya public relations jauh lebih luas dibanding dengan pemasaran dan periklanan atau propaganda (Sumarto, 2016).

F. Produk
    Definisi produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan. Produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, properti, organisasi,informasi, dan ide. Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan konsumen baik berwujud maupun tidak berwujud yang diterima oleh pembeli agar dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan konsumen dalam hal ini konsumen terpuaskan ketika ia mengkonsumsi produk tersebut dan kebutuhannya dapat terpenuhi. Produk memiliki arti penting bagi perusahaan karena tanpa adanya produk, perusahaan tidak akan dapat melakukan apapun dari usahanya. Pembeli akan membeli produk kalau merasa cocok, karena itu produk harus disesuaikan dengan keinginan ataupun kebutuhan pembeli agar pemasaran produk berhasil. Pembuatan produk  lebih baik diorientasikan pada keinginan pasar atau selera konsumen  (Riyono dan Gigih, 2016).
    Produk adalah unsur yang paling penting, karena produk mencakup, seluruh perencanaan yang mendahului produksi aktual, produk mencakup riset dan pengembangan, dan produk mencakup semua layanan yang menyertai produk seperti instalisasi dan pemeliharaan. Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kondisi saat ini apabila terdapat beberapa barang atau jasa yang akan dikonsumsi, pertimbangan pertama yang dilakukan konsumen adalah membandingkan nilai-nilai atribut pada masing-masing produk. Pengertian atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan yang dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian produk. Atribut produk dapat dikelompokkan dalam tiga unsur penting, yaitu kualitas produk (product quality), fitur produk (product features) dan desain produk (product design). Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk dalam memberikan kinerja sesuai dengan fungsinya (Suatma, 2013).
    Produk merupakan hasil dari proses produksi perusahaan yang nantinya akan dijual perusahaan atau barang yang dibeli untuk dijual kembali kepada konsumen akhir (bagi perusahaan dagang). Pengertian barang atau produk adalah suatu sifat yang komplek baik yang dapat diraba ataupun tidak termasuk bungkus, warna, mutu, harga, prestise perusahaan dan pengecer, pelayanan pengecer dan perusahaan yang diterima pembeli untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan. Sifat produk juga merupakan pertimbangan produsen yang tidak kalah pentingnya. Misalnya, apakah barang tersebut mudah rusak atau tidak, bagaimana ukurannya, bagaimana kualitas barang kalau dilihat dari konsumen, harganya dan sebagainya. Kesemuanya itu perlu untuk dijadikan bahan pertimbangan yang penting juga (Sattar, 2017).
    Produk adalah sesuatu yang ditawarkan oleh produsen pada konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya (need and wants). Produk bisa berbentuk barang (sesuatu yang berujud atau tangible), yaitu sesuatu yang berbentuk fisik yang dihasilkan dari proses produksi pada suatu organisasi atau perusahaan. Disamping itu, produk juga bisa berupa jasa (sitanya non-fisik atau intangible). Perlu ditekankan juga bahwa konsumen tidak hanya membeli produk sekedar memuaskan kebutuhan (need), akan tetapi juga bertujuan memuaskan keinginan (wants) (Heryanto, 2015).

Untuk mendapatkan hasil & pembahasan lengkap secara gratis : Hubungi SUPERMIPA sekarang!! 

DAFTAR PUSTAKA

Afdhal AF. 2008. Tips & Trik Public Relations. Jakarta: Grasindo.
Alfiansyah AR, Diana TC, Djuwityastuti. 2015. Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero). Privat Law 3(2): 67-74.
Andretti YR. 2014. Integrated Marketing Communications dalam Komunikasi Pemasaran PT. DBL Indonesia. Jurnal Kommas hal: 1-14.
Anis S. 2013. Peranan Hubungan Awam dalam Pengurusan Masa Kini: Satu Penilaian Semula. Jurnal Komunikasi. 9 (1): 37-54.
Bungin B. 2018. Komunikasi Politik Pencitraan: The Social Construction of Public Administration (SCoPA). Jakarta: Prenadamesia Group.
Chrismardani Y. 2014. Komunikasi Pemasaran terpadu: Implementasi untuk UMKM. Jurnal NeO-Bis. 8(2): 176-190.
Damarjati IH, Kusumawati A, Mawardi MK. 2016. The Influence of Integrated Marketing Communications (IMC) on Brand Equity and Purchase Decision. Jurnal Administrasi Bisnis 34(1): 29-37.
Dedi, Waluyo ETB, Setiawati E. 2016. Implementasi E-commerce dengan Menggunakan Metode B2C (Business to Customer). J Sisfotek Global 6 (2): 97-103.
Effendy. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fajar A. 2017. Implementasi Integrated Marketing Communication (IMC) pada PT Tokopedia dalam Mempertahankan Pelanggan. Jurnal Komunikasi 8(3): 210-214.
Gregory A. 2014. Public Relation dalam Praktik. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Heryanto I. 2015. Analisis Pengaruh Produk, Harga, Distribusi, dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian serta Implikasinya pada Kepuasan Pelanggan. Jurnal Ekonomi, Bisnis, dan Entrepreneurship. 9 (2): 80-101. 
Hidayat W, Andriansyah, Wulandari R. 2018. Rancang Bangun Media Desain Katalog Penunjang Informasi dan Promosi PT Global Bangun Mandiri. Jurnal Cerita. 4 (1): 44-52.
Inanah, Rahmat H, Farida N. 2017. Komunikasi Pemasaran Terpadu yang Dilakukan Departemen Perindustrian dan Perdagangan dalam Meningkatkan Jumlah Kunjungan Pasar Batik Trusmi di Kabupaten Cirebon. Jurnal Signal. 5(2): 1-8.
Kamarga A. 2013. Pengaplikasian Integreted Marketing Communication (IMC) pada Peningkatan Penjualan Ekspor Perusahaan Manufaktur. Jurnal JIBEKA. 7(2): 20-24.
Kholisah N, Yenita. 2015. Strategi Komunikasi Public Relations dan Citra Positif Organisasi (Kasus Public Relations Rumah Sakit “X” di Jakarta). Jurnal Ilmu Komunikasi 13(3): 195-209.  
Luthfia A. 2014. Pentingnya Kesadaran Antarbudaya dan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya dalam Dunia Kerja Global. Jurnal Humaniora. 5 (1): 9-22.
Mannan Z. 2014. Bussiness Communication: Real World Focus 1st Impression. Dhanmondi: Saint Martin Publisher.
Ningrum ME. 2013. Peranan Komunikasi Internal di Lingkungan Kerja. Jurnal INDEPTI. 3 (1): 25-30.
Pienrasmi H. 2015. Pemanfaatan Social Media oleh Praktisi Public Relations di Yogyakarta. Jurnal Komunikasi 9 (2): 199-210.
Prastya NM. 2016. Problem Struktural dalam Praktek Peran Manajerial Public Relations: Kasus Indonesia. Jurnal Komunikasi 8(2): 107-119.
Priambada S. 2015. Manfaat Penggunaan Media Sosial pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Prosiding Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia.
Purwaningwulan M. 2013. Public Relations dan Manajemen Krisis. Majalah Ilmiah Unikom. 11 (2): 166-176.
Putri DW dan De Mormes M. 2017. Analisis Strategi Perencanaan Pesan pada Akun Instagram E-commerce @thekufed. Jurnal Messenger. 9 (1): 70-78.
Putri IDAH. 2015. Peranan Public Relations dalam Menjaring Pemasang Iklan pada Radio Republik Indonesia Cabang Madya-Denpasar. Jurnal Kajian Komunikasi. 3(2): 120-132.
Rahadhini MD. 2010. Peran Public Relations dalam Membangun Citra Perusahaan Melalui Program Corporate Social Responsibility. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan. 10 (12).
Ramadanty S. 2014. Penggunaan Komunikasi Fatis dalam Pengelolaan Hubungan di Tempat Kerja. Jurnal Ilmu Komunikasi. 5 (1): 1-18.
Rice RE dan Atkin CK. 2013. Public Communication Campaigns. California: Sage Publications.
Rismayanti R. 2016. Integrated Marketing Communications (IMC) di PT Halo Rumah Bernyanyi. Jurnal Ilmu Komunikasi 13(2): 253-266.
Riyono dan Gigih EB. 2016. Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Promosi, dan Brand Image terhadap Keputusan Pembelian Produk Aqua. Jurnal STIE Semarang. 8(2): 92-121.
Rozalena A. 2014. Model Budaya Organisasi Berbasis High and Low Context pada Kegiatan Komunikasi Bisnis Antar Budaya. Prosiding Seminar Bisnis dan Teknologi.
Rustan AS dan Hakki N. 2017. Pengantar Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Deepublish.
Sattar. 2017. Buku Ajar Pengantar Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
Satyatama HR, Sumantyo R. 2017. Performance Analysis of Indonesia’s Mining Sector Price Index. Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 6(2): 357-370.
Silintowe YBR, Pramudita MCC. 2016. Komunikasi Bisnis Lintas Budaya Sekretaris pada Atasan (Studi pada Alila Hotel Solo). Jurnal Komunikasi 8(2): 147-158. 
Suatma J. 2013. Analisis Strategi Inovasi Atribut Produk dan Pengaruhnya terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Skuter Matik Merek Honda Vario di Kota Semarang. Jurnal STIE Semarang. 5(2): 19-35.
Sumarto RH. 2016. Komunikasi dalam Kegiatan Public Relations. Jurnal Informasi Kajian Ilmu Komunikasi. 46 (1): 63-72.
Suprawoto. 2018. Government Public Relations: Perkembangan dan Praktik di Indonesia. Jakarta: Prenadamesia Group.
Terence AS. 2009. Integrated Marketing Communications in Advertising and Promotion. South-Western: Cengage Learning.
Thomas K. 2012. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Bandung: Refiko Aditama.
Umar SH, Nuryati, Solihatiningsih. 2016. Pengaruh Strategi Pemasaran B2B (Business to Business) dan B2C (Business to Customer) Terhadap Cara Pembelian Tiket Pesawat di Lingkungan Mahasiswa. J Flight Attendant Kedirgantaraan 3 (2): 1-12.
Wahyuningrum T dan Januarita D. 2014. Perancangan WEB e-Commerce dengan Metode Rapid Application Development (RAD) untuk Produk Unggulan Desa. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Terapan.
Wiyana H, Umar S, Usman A. 2013. Pengembangan Multimedia untuk Perolehan Belajar Konsep Reproduksi Manusia dalam Mata Pelajaran Biologi Kelas XI. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. 2 (3): 1-12.
Yulianati N, Fuady ME. 2015. Pendapat Pimpinan Universitas Swasta tentang Manfaat Media Sosial Bagi Kinerja Profesi Public Relations. Jurnal Communicate 1(1): 25-30.

Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Komunikasi Bisnis "