Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kependudukan - Pertambahan, Kepadatan, dan Keadaan Penduduk



Kependudukan - Pertambahan, Kepadatan, dan Keadaan Penduduk 

     Terdapat perbedaan antara negara yang sedang berkembang (miskin) dengan negara industri (kaya) berkaitan dengan masalah kependudukan. Negara miskin dan negara kaya keduanya tetap menghadapi masalah kependudukan. Masalah kependudukan negara miskin terpusat pada masalah sosial, ekonomi, dan demodernisasi, akibat dari struktur penduduk yang kurang menguntungkan. Kondisi ini akan mengkekalkan kemiskinan.  Masalah kependudukan negara kaya 8 hanya terpusat pada ruang hidup, konflik sosial, dan kebutuhan psikologis, misalnya stress, dan weakness (Widodo, 2011).
     Penduduk merupakan penggerak laju pembangunan. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai pertumbuhan penduduk, komposisi penduduk, dan persebaran penduduk sangat diperlukan untuk perencanaan pembangunan. Pengetahuan penduduk menyangkut tentang kualitas dan kuantitas penduduk.Kualitas penduduk menyangkut tentang tingkat pendidikan dan keahlian, sedangkan pengetahuan tentang kuantitas penduduk dapat memberikan gambaran tentang jumlah, pertumbuhan, dan persebaran penduduk suatu wilayah (Pinem, 2014).
      Semakin meningkatnya laju pertumbuhan penduduk maka semakin banyak terjadinya mobilitas. Mobilitas itu sendiri ada dua macam, yaitu mobilitas penduduk non permanen, atau dikenal pula dengan mobilitas sirkuler secara umum diartikan sebagai perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain dengan tidak ada maksud untuk menetap di daerah tujuan. Mobilitas sirkuler menurut Zelinsky dicirikan oleh perpindahan jangka pendek, berulang atau dilakukan secara teratur, tetapi tidak ada maksud untuk berpindah tempat tinggal meskipun kegiatan mobilitas telah dilakukan dalam jangka waktu lama. Mobilitas sirkuler mencakup pola mobilitas harian (commuting), periodik, musiman, dan jangka panjang (Romdiati et al., 2016).
     Kita semua menyadari bahwa Indonesia adalah Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di seluruh dunia setelah Cina, India dan Amerika. Jumlah penduduk yang besar ini membawa konsekuensi terhadap besarnya kebutuhan penduduk terhadap sumberdaya alam. Hal ini membawa akibat pada besarnya tingkat kerusakan lingkungan hidup karena ulah perilaku manusia. Kenyataan bahwa pertumbuhan penduduk yang besar tidak diiringi baiknya kualitas lingkungan, dikhawatirkan kerusakan lingkungan akan semakin menjadi (Husin, 2013).
     Komposisi penduduk sangat diperlukan untuk mengetahui rasio jenis kelamin (sex ratio) dan angka ketergantungan (depency ratio) suatu wilayah atau negara. Rasio jenis kelamin (sex ratio) merupakan perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan dikalikan 100 disebut rasio jenis kelamin atau sex ratio. Angka beban ketergantungan (dependency ratio) adalah beban terhadap penduduk usia muda yang belum produktif atau belum bekerja dan penduduk yang sudah tidak produktif atau usia tua yang harus ditanggung oleh penduduk usia dewasa (usia produktif) (Haryono, 2011).
       Para Demografer menyatakan bahwa perbandingan antara bayi laki-laki dengan bayi perempuan pada waktu lahir berkisar antara 103-105 bayi laki-laki per 100 bayi perempuan (LDUI, 2010 Hal. 32). Berdasarkan hasil sensus penduduk rasio jenis kelamin meningkat dari 97,18 orang laki-laki berbanding 100 orang perempuan pada tahun 1971 menjadi 101 orang laki-laki berbanding 100 orang perempuan pada tahun 2010. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah laki-laki di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan jumlah perempuan. Besar kecilnya Rasio Jenis kelamin pada suatu daerah dipengaruhi oleh pola. Mortalitas atau pola Migrasi. Provinsi Papua dengan Rasio Jenis Kelamin tertinggi tahun 2010 yakni 113 orang laki-laki berbanding 100 orang perempuan, diperkirakan terjadi karena banyaknya penduduk laki-laki yang masuk untuk bekerja pada sektor pertambangan. Sedangkan pada Provinsi NTB dengan Rasio Jenis Kelamin terendah tahun 2010 yakni 94 orang laki-laki per 100 orang perempuan, diperkirakan terjadi karena banyaknya penduduk laki-laki yang keluar dari wilayah tersebut untuk bekerja sebagai TenagaKerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri (Hartanto, 2013).

Pertambahan Penduduk
Pertumbuhan Penduduk ialah suatu perubahan populasi sewaktu-waktu, dan bisa dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi memakai “per waktu unit” untuk pengukuran. Adanya perubahan jumlah penduduk dipengaruhi oleh faktor demografi seperti kelahiran (fertilitas atau natalitas), kematian (mortalitas), imigrasi, dan emigrasi. Faktor kelahiran dan kematian disebut faktor alami sedangkan imigrasi dan emigrasi disebut faktor non alami.
Rumus untuk menghitung pertambahan penduduk total adalah :
T = (L – M) + (I-E)
Keterangan:
T : jumlah pertumbuhan penduduk per tahun
L : jumlah kelahiran per tahun
M : jumlah kematian per tahun
I : jumlah imigran 
E : jumlah emigran 

Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk per luas wilayah. Kepadatan penduduk dipengaruhi oleh fisiografis, keamanan, kebudayaan, biologis dan psikologis serta berkaitan erat dengan peningkatan jumlah penduduk. Kepadatan penduduk terbagi menjadi 2 yaitu kepadatan penduduk secara agraris dan kepadatan penduduk secara geografis. Kepadatan penduduk secara agraris adalah banyaknya jumlah penduduk per satuan luas lahan pertanian yang ada pada daerah tersebut. Kepadatan penduduk secara agraris dapat dihitung menggunakan rumus berikut :

KPA=(∑penduduk (jiwa))/(luas lahan di desa (Ha) )

Kepadatan penduduk secara geografis adalah banyaknya jumlah penduduk per satuan luas wilayah. Kepadatan penduduk secara geografis dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : 
KPG = (∑penduduk (jiwa)) / (luas wilayah (km^2) )

Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Jumlah penduduk dapat dilihat dari jenis kelaminnya. Sex ratio adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan. Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan wanita dapat dilihat dari angka sex ratio. 
Untuk mengetahui besarnya sex ratio maka dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
Sex ratio = ((∑penduduk laki-laki) / (∑penduduk perempuan)) x 100%

Keadaan Penduduk Menurut Umur
Berdasarkan umur, kita dapat mengetahui angka beban tahunan (ABT). Angka beban tahunan adalah perbandingan jumlah penduduk usia non produktif dengan jumlah penduduk usia produktif. Tujuan dari menghitung ABT adalah untuk mengetahui jumlah penduduk yang berada dalam usia masa aktif kerja dan jumlah penduduk yang tidak dalam usia aktif kerja. Usia produktif yaitu antara 16-59 tahun sedangkan usia non produktif yaitu antara 0-14 dan 60 tahun keatas. 
Perhitungan Angka Beban Tanggungan (ABT) menggunakan rumus : 
ABT=(Jumlah Penduduk Usia Non Produktif)/(Jumlah Penduduk Usia Produktif )  x 100%

Keadaan Penduduk menurut Tingkat Pendidikan
Keadaan penduduk berdasarkan tingkat pendidikan dapat digunakan sebagai parameter kemajuan suatu daerah. Suatu daerah yang rata-rata penduduknya telah berpendidikan biasanya sudah mengalami kemajuan (modern). Jenjang pendidikan yang ditamatkan akan mempengaruhi kualitas tenaga kerja yang dihasilkan. Pada saat ini tingkat kesejahteraan di Indonesia masih relatif rendah, salah satu buktinya adalah semakin meningkatnya angka kemiskinan terutama di wilayah pedesaan. Sebagian besar mayarakat desa dikatakan miskin karena memiliki ketidakberdayaan dalam beberapa aspek. 

Keadaan Penduduk menurut Mata Pencaharian
Banyaknya macam serta jumlah mata pencaharian dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan penduduk yang berada di suatu wilayah. 

Keadaan Penduduk menurut Agama
Keadaan penduduk menurut agama adalah jumlah penduduk pada suatu wilayah berdasarkan atas agama yang dipeluk oleh penduduk di wilayah tersebut. Agama yang dianut mempengaruhi kepribadian setiap individu di suatu daerah. 

Posting Komentar untuk "Kependudukan - Pertambahan, Kepadatan, dan Keadaan Penduduk "