Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Pupuk dan Pemupukan

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
  Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Khusus pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen. Pengaplikasian pupuk harus diperhatikan kebutuhan hara tanaman, agar tanaman tidak mendapatkan suplai hara secara berlebihan. Suplai hara yang terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat membahayakan pertumbuhan tanaman. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke permukaan daun. Pemupukan yang dilakukan pada satu pertanaman berarti menambahkan / menyediakan hara bagi tanaman. Program pemupukan berimbang dapat saja menggunakan pupuk tunggal (Urea/ZA, TSP/SP-36 dan KCl) dan atau pupuk majemuk. Pupuk organik merupakan pupuk yang dihasilkan secara alamiah dari berbagai bahan atau residu tanaman, sedangkan pupuk anorganik merupakan pupuk yang dihasilkan secara buatan dari berbagai bahan kimia. Praktikum Pupuk dan Pemupukan ini penting agar kita sebagai mahasiswa pertanian khususnya ilmu tanah mengetahui bagaimana proses pembuatan pupuk organik dan anorganik.

1.2. Tujuan
Praktikum pupuk dan pemupukan bertujuan :
  1. Mahasiswa bisa membuat pupuk organik dan mengukur kualitasnya
  2. Mahasiswa bisa membuat pupuk anorganik sederhana dan melihat kadarrnya

II. METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1. Waktu Dan Tempat
2.1.1. Pembuatan Pupuk Organik
     Praktikum Pupuk dan Pemupukan mengenai pembuatan Pupuk Organik dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 11 Oktober 2018 pukul 07.00 – 08.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di Rumah Kompos, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2.1.2. Pembuatan Pupuk Anorganik
      Praktikum Pupuk dan Pemupukan mengenai Pembuatan Pupuk Anorganik dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 29 November 2018 pukul 07.00 – 08.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

2.1.3. Analisis Kadar Pupuk
     Praktikum Pupuk dan Pemupukan mengenai Analisis Kadar Pupuk dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 13 Desember 2018 pukul 07.00 – 12.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
2.2. Alat, Bahan dan Cara Kerja
2.2.1. Alat
2.2.1.1. Pembuatan Pupuk Organik
  • Keranjang
  • Sekop
  • Plastik penutup
  • Gembor
  • Ember
  • Alat penggiling
  • Timbangan
  • Thermometer

2.2.1.2. Pembuatan Pupuk Anorganik
  • Alat pembuatan pellet
  • Alat pembuat granul
  • Alat bantu yang lain (ember, cetok)
2.2.1.3. Analisis Kadar Pupuk
  • C. Organik/Bahan Organik (Walkley and Black)

  1. Labu takar 50 mL
  2. Erlenmayer 50 mL
  3. Gelas ukur 25 mL
  4. Botol semprot
  5. Buret 50 mL

  • N Total tanah (Kjeldhal)

  1. Tabung Kjeldhal
  2. Destruktor
  3. Destilator
  4. Labu godog/tabung destilasi
  5. Erlenmayer 50 mL
  6. Gelas ukur
  7. Buret

  • P Tersedia (Bray I dan II)

  1. Erlenmater 50 mL
  2. Beker glas 50 mL
  3. Gelas ukr 10 mL
  4. Pipet ukur 10 mL
  5. Spectrophotometer 600 nm
  6. Tabung reaksi

  • P Total (Pupuk Organik)

  1. Timbang 0,2 g sampel pupuk dan masukkan kedalam tabung reaksi
  2. Tambahkan 2 ml HNO3pekat dan 0,6 ml HClO
  3. Dipanaskan sampai jernih
  4. Lalu diencerkan aquadest 10 ml
  5. Kemudian ditunggu sampai dingin
  6. Saring larutan kemudian ambil ekstrak jernih sebanyak 2 ml
  7. Tambahkan 5 ml aquadest, 2 ml HNO3 2N, dan 1 ml heptamolibdat
  8. Lakukan penembakan

2.2.2. Bahan
2.2.2.1. Pembuatan Pupuk Organik
  • Jerami padi
  • Enceng gondok
  • Seresah daun
  • Pupuk kandang
  • Dekomposer (EM4)
  • Air gula jawa
  • Tetes tebu
  • Air
  • Kapur/dolomit

2.2.2.2. Pembuatan Pupuk Anorganik
  • Batuan fosfat alam
  • Asam sulfat 1 N
  • Asam fosfat 1 N
  • Asam sitrat 1 N
  • Analisis Kadar Tersedia
  • C. Organik/Bahan Organik (Walkley and Black)

  1. H2SO4 pekat
  2. K2Cr2
  3. Larutan standar 5000 ppm C

  • N Total (Kjeldhal)

  1. H2SO4 pekat
  2. Campuran garam K2SO4: CuSO4 (20:1)
  3. NaOH 45%
  4. H3BO3 1%
  5. Indikator Campuran
  6. HCL 0,1 N
  7. Butir Zn

  • P Tersedia

  1. Larutan Bray I/II
  2. Amonium Hepta Molybdat
  3. Stanao Clorid (SnCl)
  4. Larutan Standar 10 ppm P
  5. Aquades
  6. Kertas Saring

2.2.3. Cara Kerja

2.2.3.1. Pembuatan Pupuk Organik
  1. Menyiapkan bahan seresah daun, pupuk kandang, sekam dan starter
  2. Menggiling bahan: seresah daun hingga berukuran kecil.
  3. Membuat MOL dengan bahan aktif (air gula jawa, tetes tebu, EM4 dan air ) dicampur dan diaduk sampai rata sampai volume 20 L.
  4. Menimbang seresah daun 8 kg. Pupuk kandang yang digunakan sebesar 4 kg dan sekam 2 kg.
  5. Bahan diletakkan di lantai kemudian dicampur dengan pupuk kandang, setelah itu dituangkan bahan aktif (MOL) 5 liter dan diaduk hingga homogen dengan menggunakan sekop.
  6. Mengadonankan pupuk yang sudah jadi kemudian dipinggirkan dan ditutupi dengan menggunakan plastik penutup agar terlindungi dari hujan dan panas.
  7. Melakukan pemeliharaan 2 hari yang dilakukan dengan cara menjaga kelembaban pupuk agar kadar airnya 60 – 80% dengan cara menyiram/memercikkan air selain itu juga pupuk di bolak – balik agar pupuk matang secara merata. Pengukuran suhu pupuk juga dilakukan menggunakan alat termometer.
  8. Menyiapkan kompos untuk digunakan setelah 3 – 4 minggu.


2.2.3.2. Pembuatan Pupuk Anorganik
  1. Menyiapkan batuan fosfat alam 1 kg.
  2. Menyaring dengan saringan lolos 100 mesh.
  3. Menimbang sebanyak 200 gram tepung fosfat alam tersebut.
  4. Menambahkan air/asam sulfat/asam fosfat/asam sitrat (sesuai perlakukan) hingga BFA jenuh dengan cairan perlakukan.
  5. Menginkubasi selama 1 minggu.
  6. Mengeringkan pada kadar tertentu sehingga mudah dibuat pellet atau dibuat granul.
  7. Pembuatan pellet/granul tersebut.
  8. Mengeringkan dengan cara dijemur atau dioven hingga kadar air 15%.
  9. Melakukan analisi kadar P tersedia.
  10. Mengambil secara acak 3 butir pupuk yang telah dibuat tersebut dan memasukkan dalam petridish yang berisi air.
  11. Mecatat wakatu hingga butiran tersebut pecah.


2.2.3.3. Analisis Kadar Tersedia
  • C. Organik/Bahan Organik (Walkley and Black)

  1. Menimbang 0,25 gram bahan masukkan dalam labu takar 50 ml.
  2. Menambahkan 2,5 ml K2Cr2O7 1 N dan 3.75 ml H2SO4 pekat.
  3. Mendiamkan selama 30 menit (dingin).
  4. Membuat juga Blangko sebagai pembanding (0 ppm dan 250 ppm).

## Perhitungan :
Kadar C-Organik (%)
= ppm kurva x ml ekstrak 1.000 ml-1 x 100 mg contoh -1 x fk
= ppm kurva x 100 1.000-1 x 100 500-1 x fk
= ppm kurva x 10 500-1 x fk
Bahan Organik : C.Organik x 100/58
*Keterangan:
Ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaannya setelah
100 = konversi ke %
Fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 - % kadar air)
  • N Total Total (Kjeldhal)

(a) Destruksi
  1. Menimbang 0,5 gram bahan (ctka) dan memasukkan dalam tabel jeldhal.
  2. Menambahkan 1 gram campuran garam dan 3 ml H2SO4 pekat.
  3. Memanaskan hingga larutan berwarna putih (tak berasap).
  4. Dinginkan dan menambahkan aquades sebanyak 50 ml.
  5. Membuat blangko.
(b) Destilasi
  1. Memasukkan larutan (4) kedalam tabung destilasi.
  2. Menambahkan 10 ml NaOH 45% dan 2 butir Zn.
  3. Memanaskan dengan penampung H3BO3 1% dan 2 tetes indikator campuran hingga volume 40 ml.

(c) Titrasi
  1. Melakukan titrasi dengan HCL 0,1 N hingga terjadi perubahan warna dari biru – kehijauan – kuning.

## Perhitungan:
% N = [((b-a) × 0,1 × 14)) / {(100/ (100+ka)) × berat sampel (mg)}]×100%

  • P Tersedia (Bray I dan II)
  1. Menimbang 1 gram tanah kering angin.
  2. Memasukkan dalam erlenmeyer 50 ml dan menambahkan 7 ml larutan Bray I/II.
  3. Menggojog satu menit dan menyaringnya.
  4. Mengambil sebanyak 2 ml ekstrak jernih dan memasukkan dalam tabung reaksi.
  5. Menambahkan 5 ml aquades, 2 ml amonium heptamolibdat dan 1 ml SnCl encer.

## Perhitungan:
Kadar P2O5 tersedia (ppm)
= ppm kurva x ml ekstrak/1.000 ml x 1.000g/g contoh x fp x 142/190 x fk
= ppm kurva x 7/1.000 x 1.000/1 x fp x 142/190 x fk
= ppm kurva x 7 x fp x 142/190 x fk

III. HASIL PENGAMATAN 
Tabel 3.1. Suhu dan pH Pupuk Organik Perlakuan Bahan Seresah, Pupuk Kandang, EM4

Tabel 3.2. Hasil Analisis Pupuk Organik (Rekapan Kelompok 1-6)

Tabel 3.3. Hasil Analisis Pupuk Anorganik 

IV. PEMBAHASAN
4.1. Pupuk Organik
  EM4 mengandung mikroba –mikroba antara lain Lactobacillus, ragi,bakteri fotosintetik , Actynomycetes  dan jamur pengurai selulosa, untuk memfermentasi bahan organic tanah menjadi senyawa yang mudah yang mudah diserap oleh tanaman (Suprapto, 2008). Pembutan pupuk organik menggunakan  teknologi EM4 pada dasarnya adalah proses pengomposan yang terjadi secara ferementatif.
  Penggunakan EM4 dalam pengomposan memiliki keunggulan antara lain cepat masa fermentasinya , irit biaya dan kompos yang dihasilkan memiliki karakter kompos yang baik misalnya bau warna dan C/N ratio kompos. Dari hasil percobaan kompos yang menggunakan bahan baku limbah tumbuhan kacang tanah menghasilkan kompos dengan mutu yang baik, jika dilihat dari tekstur, warna, bau, C/N ratio  dan hasil uji coba pada tanaman (Siti Umniyatie et al, 2009).
  Bahan organik dalam pupuk kompos merupakan bahan makanan utama bagi organisme dalam tanah. semakin baik kehidupan dalam tanah semakin baik pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman dan tanah itu sendiri. Stardec  bukannya  kompos,  melainkan  pemacu  atau  starter  mikroba pengomposan  khususnya  kotoran  ternak.  Stardec ini  diproduksi  dari  isolasi mikrobia  rumen  (lambung  pencernaan  pertama  sapi)  dan  tanah  hutan  yang diperkaya dengan rhizosphere dalam serta akar rumput Graminae. Stardec ini dapat  digunakan  untuk  mempercepat  pengomposan,  proses  pengomposan yang  biasa  berlangsung  3-4  bulan  dapat  dipercepat  menjadi  3-4  minggu. Bahan  utama  dalam  pembuatan  kompos  ini  biasanya  berupa  kotoran  ternak (Murbandono, 2010).
  Kompos  adalah  bahan-bahan  organik  yang  telah  mengalami  proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk) yang   bekerja   di   dalamnya.   Kompos   dialam   terbuka   bisa  terjadi  dengan sendirinya  lewat proses  alamiah,  namun  proses  tersebut  berlangsung  lama sekali  dapat  mencapai  bertahun-tahun.  Kebutuhan  akan  tanah  subur  padahal sudah  semakin  mendesa,  oleh  karenanya  proses  tersebut perlu  dipercepat dengan   bantuan   manusia.   Dengan   cara   yang   baik,   proses   mempercepat pembuatan   kompos   berlangsung   wajar   sehingga   diperoleh kompos   yang berkualitas baik (Murbandono, 2010).
  Proses pembuatan pupuk kompos yang dilakukan saat pratikum memakan waktu 8 minggu, lebih lama dari perkiraan yaitu 3-4 minggu. Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain pH, temperatur serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Suhu optimal yang dikehendaki dalam proses pengomposan yaitu 30-50°C. pada awal proses pengomposan akan terjadi kenaikan suhu yaitu sekitar 55-60°C sehingga dalam proses pengomposan perlu adanya pembalikan kompos untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi. Setelah proses pengomposan selesai dan kompos mencapai tingkat kematangan maka suhu kompos akan menurun (Indriani, 2012). Pada kompos yang dibuat menunjukkan perubahan suhu yang semakin lama menurun. Suhu terakhir yang didapat yaitu 29ÂșC. Pupuk organik yang dibuat oleh kelompok belum matang sempurna meskipun memiliki tekstur yang halus dan berwarna hitam. Hal ini dikarenakan pupuk organik tersebut memiliki pH yang semakin lama semakin tinggi. Perlakuan 1 yaitu Jerami+pupuk kandang+EM4 memiliki pH akhir mendekati netral sekitar 7,64 sedangkan perlakuan jerami+seresah daun+pupuk kandang+EM4, seresah daun+pupuk kandang+stardec, jerami+seresah daun+pupuk kandang+stardec, jerami+pupuk kandang+stardec memiliki pH akhir cenderung basa sekitar 9. Tingkat keasaman pada proses awal pengomposan biasanya asam dan apabila proses pengomposan berhasil maka pH dari kompos tersebut akan netral. Adapun standar tingkat keasaman yang terdapat pada proses pengomposan yaitu 6,5-7,5 (Indriani, 2012).
        Perlakuan terbaik dari keenam perlakuan yaitu perlakuan seresah daun+pupuk kandang+stardec. Hal ini dikarenakan perlakuan tersebut memiliki kadar C-organik yang rendah sebesar 0,60 dan nilai C/N ratio rendah sebesar 1 : 0,94. Semakin lama waktu pengomposan maka kadar karbon dalam pupuk kandang semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh mikroba yang menggunakan karbon untuk berkembangbiak (Murtalaningsih, 2011). Mikroba mengambil energi untuk penguraian bahan organik dari kalori yang dihasilkan dalam reaksi biokimia, seperti perubahan zat karbohidrat menjadi gas CO2 dan H2O yang terus menerus sehingga kandungan zat karbon dalam pupuk kandang turun semakin rendah (Subali, 2010). Berdasarkan penelitian Linda trivana et al (2017) menjelaskan bahwa pembuatan pupuk kandang dari kotoran kambing dengan cara fermentasi menggunakan EM4 akan menyebabkan penurunan rasio C/N. Hal ini disebabkan dalam proses fermentasi telah terjadi reaksi C menjadi CO2 dan CH4 yang berupa gas. Selain itu, C-organik dalam bahan organik juga digunakan mikroorganisme sebagai sumber makanan sehingga jumlahnya berkurang.
  Prinsip dari proses pengomposan adalah menurunkan C/N bahan organik hingga sama atau hampir sama dengan nisbah C/N tanah (< 20) engan demikian nitrogen dapat dilepas dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman (Indriani, 2012). Tujuan proses pengomposan ini yaitu merubah bahan organik yang menjadi limbah menjadi produk yang mudah dan aman untuk ditangan, disimpan, diaplikasikan ke lahan pertanian dengan aman tanpa menimbulkan efek negatif  baik pada tanah maupun pada lingkungan pada lingkungan. Proses pengomposan pada saat praktikum memiliki hasil C/N ratio yang tidak beda jauh sekitar 0,94 - 4,66. C/N ratio yang lebih rendah maka proses pengomposan semakin cepat. Perlakuan dengan proses pengomposan tercepat yaitu perlakuan Seresah daun+pupuk kandang+stardec karena memiliki C/N ratio 1 : 0,94. Menurut Gaur (2013) menjelaskan bahwa proses pengomposan nisbah C/N akan sangat mempengaruhi kecepatan dari pengomposan. Nisbah C/N yang tinggi maka proses pengomposan akan berlangsung lebih lama dan sebaliknya apabila nisbah C/N rendah maka proses pengomposan akan lebih cepat. Adapun nisbah C/N optimum untuk pengomposan yaitu 20-40. 

4.2. Pupuk Anorganik
  Keunggulan pupuk anorganik yaitu mengandung unsur hara tertentu misalnya nitrogen (N) saja, NPK atau mengandung semua unsur sehingga penggunaanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, pupuk anorganik biasanya mudah larut sehingga bisa lebih cepat dimanfaatkan tanaman, pemakaiannya dan pengangkutannya lebih praktis, sedangkan kelemahan pupuk anorganik mudah tercuci ke lapisan bawah sehingga tidak terjangkau air.
  Asam fosfat yang berfungsi sebagai pelarut dan untuk meningkatkan kadar P. Asam sitrat memiliki kemampuan yang sedikit lebih rendah dalam pelarutan BFA namun ia dapat mengkhelat Al. Asam sulfat digunakan untuk melepas fosfor dari ikatan di dalam air dan tersedia bagi tanaman. Asam sitrat mempunyai kemampuan yang tinggi dalam melepas P. Menurut Supardi (2008) bahwa asam sulfat memiliki konsentrasi sangat kuat yang berpengaruh pada tingkat pelarutan P dari BFA. Batuan pelarut fosfat dapat larut sangat nyata menggunakan konsentrasi asam sulfat dan asam sitrat. Hal ini dikarekanakan asam sulfat memiliki tingkat disosiasi proton sangat kuat sehingga kemampuan mendesak atau bereaksi dengan BFA sangat tinggi. Asam sitrat memiliki kemampuan yang sedikit lebih rendah dalam pelarutan BFA namun ia dapat mengkhelat Al. Perlakuan yang memiliki kadar lengas paling tinggi yaitu asam sulfat sebesar 2,20 dan terendah yaitu asam fosfat sebesar 0,10. Kadar P tersedia paling tinggi yaitu asam sitrat sebesar 20,61 dan terendah perlakuan asam fosfat sebesar 11,19. Kemantapan agregat paling tinggi perlakuan asam sitrat sebesar 68,00 dan terendah perlakuan aquades sebesar 15,00.

4.3. Analisis Lab
  Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kandungan C organik tertinggi pada perlakuan jerami+seresah daun+pupuk kandang+stardec yaitu sebesar 18,50. Kandungan C organik terendah pada perlakuan bahan Seresah daun+pupuk kandang+stardec sebesar 0,60. Hasil N total tertinggi didapat dari perlakuan jerami+seresah daun+pupuk kandang+stardec yaitu sebesar 4,22. Hasil N total terendah didapat dari perlakuan bahan Seresah daun+pupuk kandang+stardec yaitu sebesar 0,68. Kadar P total terendah pada perlakuan jerami+seresah daun+pupuk kandang+EM4 yaitu sebesar 0,11. Kadar P total tertinggi pada perlakuan jerami+seresah daun+pupuk kandang+stardec yaitu sebesar 0,33. Hasil analisis laboratorium pupuk anorganik P tersedia tertinggi pada perlakuan asam sitrat yaitu 20,61. Kemantapan agregat tertinggi pada perlakuan asam sulfat  yaitu sebesar 68 detik dan terendah pada perlakuan aquades yaitu sebesar 15 detik. Kadar lengas pupuk anorganik tertinggi dari perlakuan asam sulfat sebesar 2,20. Kadar lengas pupuk anorganik terendah didapat dari perlakuan asam fosfat sebesar 0,10. P tersedia adalah P tanah yang dapat larut dalam air dan asam sitrat. Bentuk P dalam tanah dapat dibedakan berdasarkan kelarutan dan ketersediaannya di dalam tanah, P yang dapat larut dalam air adalah bentuk P yang dapat diserap tanaman. P tersedia dalam tanah dapat dianalisis dengan beberapa metode.  Menurut Rahman (2009),  metode-metode untuk menganalisis fosfat antara lain: Bray dan Kurtz,  Mehlich, dan Olsen.
  Kadar bahan organik dalam tanah sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan partikel yang ada di dalam tanah. Semakin tinggi bahan organik, ruang antar partikel nya semakin tinggi. Makin tinggi elevasi dan/atau makin rendah suhu, maka kadar bahan organik makin tinggi disertai dengan nisbah C/N makin besar. Kadar bahan organik akan semakin rendah ke arah bagian profil tanah. Sumber bahan organik yang terbanyak terutama ialah serasah dan akar tumbuhan berada di atas permukaan tanah. Faktor yang berpengaruh atas dekomposisi/mineralisasi bahan organik adalah suhu; makin rendah suhu, dekomposisi/mineralisasi makin lemah karena kegiatan jasad pengurai didalam tanah akan menurun. Hubungan antara elevasi dan kadar bahan organik bersifat tak langsung. Bahan organik tanah (BOT) meningkatkan struktur dan konsistensi tanah, dan dengan memperbaiki, aerasi, permeabilitas, dan daya tanah menyimpan air (Notohadiprawiro, 2008).

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
    Berdasarkan hasil pengamatan praktikum Pupuk dan Pemupukan yang telah dilaksanakan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Kompos adalah proses yang dihasilkan dari pelapukan (dekomposisi) sisa-sisa bahan organik secara biologi dan terkontrol (sengaja dibuat dan diatur) menjadi bagian-bagian yang terhumuskan. Pupuk yang sudah jadi memiliki ciri-ciri tidak berbau, warna coklat kehitaman dan tidak larut dalam air.
  2. Metode pembuatan pupuk fosfat secara kimiawai untuk mengefisiensikan superfosfat dan fosfat alam dapat dilakukan dengan pengasaman yaitu dengan pencampuran dengan aquadest, asam sulfat, asam fosfat, dan asam sitrat.
  3. Suhu saat pengomposan pun diatur dengan cara pembalikan dan penyiraman secara berkala sehingga tetap berada di suhu 35°C, 33° C,  31.5° C , 29.5°C, 28°C dan 29°C
  4. Pupuk organik dengan perlakuan jerami+pupuk kandang+seresah daun  memiliki kadar C organic tertinggi 18,50. Pupuk organik dengan perlakuan seresah daun+pupuk kandang+stardec memiliki kadar C organik terendah 0,60.
  5. Perlakuan jerami+seresah daun+pupuk kandang+stardec didapatkan nilai N total tertinggi. Kadar N total terendah pada pupuk organik perlakuan seresah daun+pupuk kandang+stardec
  6. Pengamatan pada pupuk anorganik perlakuan BFA dengan asam sitrat menghasilkan kadar P total tertinggi. P tersedia tertinggi pada pupuk anorganik yaitu pada perlakuan asam sitrat.

5.2. Saran
     Berdasarkan hasil praktikum yang sudah terlaksana, saran untuk praktikum Pupuk dan Pemupukan adalah sebaiknya lebih jelas terutama dalam hal pemberitahuan agenda dan perbaiki kembali ketepatan waktu praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Gaur, A. R. 2013. Manual of rural composting. FAO. USA.
Indriani, Y. H. 2012. Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta : PT. Penebar Swadaya.
Murbandono, 2010. Membuat Kompos. Jakarta: Peneber swadaya.
Murtalaningsih. (2011). Studi pengaruh penambahan bakteri dan cacing tanah terhadap laju reduksi dan kualitas kompos. Laporan Tugas Akhir. FTSP-ITS. Surabaya
Notohadiprawiro. T. 2008. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Siti Umniyatie,dkk. 2009. Pembuatan Pupuk Organik Menggunakan Mikroba Efektif  (Effective Microorganisms 4). Laporan PPM UNY: Karya Alternatif Mahasiswa.
Subali, B., Ellianawati. (2010). Pengaruh Waktu Pengomposan Terhadap Rasio Unsur C/N Dan Jumlah Kadar Air Dalam Kompos. Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang, 10 April 2010. p. 49-53.
Supardi. 2008. Pupuk Anorganik. Jakarta : Agromedia
Suprapto. 2008. Fermentasi Bahan Organik Dengan Teknologi Effective Mocroorganisme(EM4). Indonesiaan Kyusei Nature Farming Societies. Jakarta : PT. Songgolangit Persada..
Sutanto, Rahman. 2009. Pentingya Bahan Organik. Yogyakarta : Kanisus.
Trivana, Linda et al. 2017. Optimalisasi Waktu Pengomposan Pupuk Kandang Dari Kotoran Kambing Dan Debu Sabut Kelapa Dengan Bioaktivator Em4. J Sains dan Teknologi Lingkungan 9 (1) : 16-14

Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Pupuk dan Pemupukan"