Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Pengelolaan Air

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
     Air merupakan komponen utama yang dibutuhkan tanaman selain unsur hara, cahaya, dan udara. Kebutuhan air tanaman yang tidak didapat melalui hujan dapat dicukupi melalui pemberian air irigasi. Selama proses penyaluran air di saluran primer, sekunder maupun tersier, terjadi kehilangan air akibat penguapan ataupun rembesan di dasar dan di samping saluran. Perlu diidentifikasi berapa besarnya tingkat kehilangan air di saluran atau efisiensi dari saluran irigasi dapat dilakukan dengan menggunakan current meter dan menggunakan pelampung.Penurunan kualitas air sungai terjadi didaerah hilir samap daerah hulu, oleh karena itu diperlukan uji kualitas air. Kualitas air adalah mutu air yang memenuhi standar untuk tujuan tertentu. Kualitas air dapat diketahui nilanya dengan mengukur peubah fisika, kimia, dan biologi. 
     Kebutuhan air tanaman adalah banyaknya air yang dibutuhkan untuk menggantikan air melalui evapotranspirasi pada tanaman. Kebutuhan tanaman berbeda – beda berdasarkan unsur – unsur yang mempengaruhi evapotranspirasi tanaman. Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur air irigasi yang diperlukan oleh tanaman adalah lisimeter. Pemberian air irigasi dikatan efisien apabila jumlah air yang diberikan lebih rendah dari kapasitas lapang, tetapi pertumbuhan dan produksi tanamannya tidak berbeda dengan kapasitas lapang. 
   Praktikum pengelolaan air diharapkan mahasiswa dapat terampil dalam menghitung efisiensi penyaluran air irigasi, mahasiswa dapat menghitung dan mengetahui suatu kualitas air irigasi, dan mahasiswa terampil mengaplikasikan tindakan yang efisien dalam pemberian air irigasi. Mahasiswa diharapkan setelah diadaknnya praktikum ini dapat mengaplikasikan untuk pertanian kedepannya berdasarkan ilmu yang telah didapatkan. Mahasiswa juga diharapkan dapat membagi ilmu dengan petani agar menggunakan air dengan seefisien mungkin.

II. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1. Acara 1 Efisiensi Saluran Irigasi
2.1.1. Tempat, Alat, danBahan
a. Tempat
    Praktikum acara 1 (Efisiensi Saluran Irigasi)dilaksanakan pada tanggal 13 November 2017 di dekat Desa Palur, Mojolaban. Lokasi praktikum berupa saluran irigasi yang terbagi menjadi 2 irigasi, yaitu sekunder, dan tersier. 

b. Alat
  1. Current meter
  2. Sepatu boot
  3. Tali
  4. Meteran
  5. Stopwatch
  6. Pelampung

c. Bahan
  1. Saluran irigasi sekunder 
  2. Saluran irigasi tersier

2.1.2. Metode Praktikum
  1. Memilih 2 saluran terbuka, masing – masing pada saluran sekunder dan tersier
  2. Mengukur kecepatan aliran air saluran sekunder (V dalam m/det) menggunakan current meter di titik awal (Qin) dan debit di titik berikutnya yang diasumsikan sebagai titik akhir (Qout) saluran. Mengukur dan mencatat jaraknya.
  3. Mengukur kecepatan aliran pada tiga titik (tengah dan 2 pada pinggir saluran), lakukan sebanyak 3 kali ulangan, menghitung rata – ratanya.
  4. Mengukur kecepatan aliran pada saluran tersier menggunakan metode pelampung.
  5. Mencatat ketinggian penampang melintangnya (d rata – rata) dan lebar saluran (w). Luas penampang basah saluran (A) dihitung dengan rumus :

A (m2) = d rata – rata x w
Dimana d rata – rata (m) = (d1 + d2 + d3)/3

2.2. Acara 2 Kualitas Air Irigasi
2.2.1. Tempat, Alat, dan Bahan
a. Tempat
    Praktikum acara 2 Kualitas Air Irigasidilaksankan pada tanggal 13 November 2017 di dekat Desa Palur, Mojolaban. Lokasi praktikum berupa saluran irigasi primer. Praktikum laboratorium dilaksanakan pada tanggal 15 November 2017 di Laboratorium Fisika Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.  

b. Alat
  1. Water sampler
  2. Thermometer
  3. Ember kapasitas 10 liter
  4. Botol 1,5 liter 
  5. Pengaduk
  6. Oven
  7. Cawan alumunium
  8. Timbangan analitik

c. Bahan
  1. Sampel air saluran irigasi primer 

2.2.2. Metode Praktikum
  1. Pengambilan sampel air pada saluran irigasi primer dan saluran drainase. Pada saluran primer sampel air diamblik di tiga titik, yaitu pada bagian tengah dan 2 pada bagian tepi saluran, masing – masing tepi kanan dan kiri.
  2. Mengambil contoh air di masing – masing titik dengan menggunakan water sampler. Mencatat ketinggian air di saluran dan turunkan water sampler sampai 1/2 ketinggian air. 
  3. Setelah pengambilan sampel air dilakukan pengukuran suhu di Laboratorium Fisika Tanah. Cara membaca suhu yaitu : 1) Catat suhu udara sebelum mengukur suhu dalam air. 2) Masukkan termometer ke dalam air selama 1 – 2 menit. 3) Baca suhu saat termometer masih di dalam air, atau secepatnya setelah dikeluarkan dari dalam air.
  4. Mengomposit air yang diambil dari ketiga titik ke dalam ember dan setelah diaduk kemudian dimasukkan kedalam botol kapasitas 1,5 liter.
  5. Membawa ke laboratorium untuk dianalisi kandungan sedimennya.
  6. Air diaduk (dikocok) selama ± 30 menit.
  7. Menimbang berat cawan alumunium sebelum digunakan (a).
  8. Air yang telah homogen kemudian diambil ± 100 ml dimasukkan kedalam cawan alumunium kemudian dioven pada suhu 105°C sampai mengering (sekitar 24 jam).
  9. Menimbang berat keseluruhan setelah dioven (b).
  10. Menghitung berat sedimen (b – a) (gram).
  11. Menghitung konsentrasi dengan persamaan :

Konsentrasi sedimen (gram/I) = berat sedimen (gram)/ volume air (l)
l. Mengukur DHL air pada saluran primer

2.3. Acara 3 Efisiensi Pemberian Air Irigasi
2.3.1. Tempat, Alat, danBahan
a. Tempat
    Lokasi praktikum acara 3 (Efisiensi Pemberian Air Irigasi) dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2017 sampai 7 Desember 2017 di Rumah Kaca dan Laboratorium Fisika Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.  

b. Alat 
  1. Polibag
  2. Penggaris (rol meter)
  3. Gelas ukur plastik (250 ml)
  4. Alat tulis
  5. Cangkul
  6. Cetok 

c. Bahan
  1. Tanah
  2. Air
  3. Pupuk organik (kompos)
  4. Bibit tanaman : 1 -2 bibit per ember (jagung, kacang hijau, dan cabe)

2.3.2. Metode Praktikum
  1. Tanah disaring dengan saringan diameter 1 cm (sarigan pasir).
  2. Tanah diaduk dengan pupuk organik (fine compost) dengan dosis 20 ton/ha.
  3. Bibit ditanam (2 – 3 bbit per ember), kemudian tanah pada semu ember dijenuhi.
  4. Setiap hari, tanah diirigasi (disiram) dengan ketentuan sebagai berikut: Ember 1 : sebesar 120% dari Etc hari sebelumnya. Ember 2 : sebesar 100% dari Etc hari sebelumnya Ember 3 : sebesar 75% dari Etc hari sebelumnya. Ember 4 : sebesar 50% dari Etc hari sebelumnya. Eto dihitung dengan software Cropwat 8.0 dari data cuaca Jumantono.
  5. Setiap 7 hari sekali pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan jumlah daun dicatat)
  6. Pada akhir pengamatan, berat kering semua tanaman ditimbang.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Acara 1 Efisiensi Saluran Irigasi
3.1.1. Debit Pada Saluran Sekunder
##Analisis Data
  • Kedalaman rata-rata (in) = (0,51+0,68+0,67) / 3 = 0,62 m
  • Kedalaman rata-rata (out) = (0,48+0,47+0,45) / 3 = 0,467 m
  • Kecepatan rata-rata (in) = (0,35+0,36+0,36+0,23+0,33+0,33)/6 = 0,32 m/s
  • Kecepatan rata-rata (out) = (0,31+0,30+0,45+0,46+0,39+0,44)/6 = 0,39 m/s
  • Luas permukaan (in) = d x l = 0,62 x 1,615 = 1,0013 m^2
  • Debit rata-rata (in) = A x v = 1,0013 x 0,32 = 0,320 m^3 /s
  • Luas permukaan (out) = d x l = 0,467 x 1,41 = 0,6584 m^2
  • Debit rata-rata (out) = A x v = 0,6584 x 0,39= 0,256 m^3 /s
  • Efisiensi = (Qin-Qout)/Qin  x 100% = (0,320-0,256)/0,320  x 100% = 0,2 %

3.1.2. Debit Pada Saluran Tersier

##Analisis Data
  • Kedalaman rata-rata (in) = (0,12+0,12+0,14)/3 = 0,126 m
  • Kedalaman rata-rata (out) = (0,14+0,16+0,15)/3 = 0,15 m
  • Kecepatan rata-rata (in) = (0,34+0,38+0,32)/63 = 0,34 m/s
  • Kecepatan rata-rata (out) = (0,34+0,38+0,32)/3 = 0,34 m/s
  • Luas permukaan (in) = d x l = 0,126 x 0,55 = 0,069 m^2
  • Debit rata-rata (in) = A x v = 0,069 x 0,34 = 0,023 m^3 / s
  • Luas permukaan (out) = d x l = 0,15 x 0,53 = 0,079 m^2
  • Debit rata-rata (out) = A x v = 0,079 x 0,34 = 0,027 m^3 / s
  • Efisiensi = (Qin-Qout)/Qin  x 100% = (0,023-0,027)/0,023  x 100% = -0,17 %

3.1.3. Pembahasan 
   Saluran air irigasi sekunder memiliki kedalaman yang lebih dalam daripada saluran air irigasi tersier. Hal ini dikarenakan saluran tersier merupakan saluran cabang dari saluran air irigasi sekunder dan memiliki luas permukaan yang lebih kecil daripada saluran air irigasi sekunder. Kecepatan air dalam saluran air irigasi sekunder lebih kencang daripada saluran air tersier. Hal ini dikarenakan saluran air irigasi sekunder memiliki lebar saluran yang luas dan mampu menampung jumlah air yang lebih besar jika dibandingkan dengan saluran air irigasi tersier. Kedalaman saluran air irigasi dan kecepatan air mempengaruhi debit air dalam saluran irigasi, seperti saluran air irigasi sekunder memiliki debit air yang lebih besar daripada saluran air tersier.
    Analisis data pada saluran sekunder didapatkan bahwa Kecepatan rata-rata (in) yaitu 0,32 m/s sedangkan kecepatan rata-rata (out) yaitu 0,39 m/s. Debit rata-rata (in) diperoleh 0,320 m3/s sedangkan debit rata-rata (out) 0,256 m3/s. kesimpulannya bahwa pada awal saluran ukuran debitnya lebih besar dari akhir saluran. Efisiensi yang didapat dari perhitunan tersebut yaitu 0,2 %.  
     Menurut Hariany (2011) mengatakan bahwa irigasi merupakan mengalirkan air dari sumber air yang tersedia kepada sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Irigasi diartikan sebagai kegiatan – kegiatan yang bertalian dengan usaha mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan dan lain – lain usaha pertanian. Jaringan irigasi merupakan prasarana irigasi yang terdiri atas bangunan dan saluran air beserta perlengkapnya. Sistem jaringan irigasi dapat dibedakan antara jaringan irigasi utama dan jaringan irigasi tersier. Jaringan irigasi utama meliputi bangunan – bangunan utama yang dilengkapi dengan saluran pembawa, saluran pembuang. dan bangunan pengukur. Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur. Terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang. Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier. Tujuan dari pengaturan tersebut adalah untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil.  Menurut Sri Harto (2012), ada beberapa cara untuk menentukan distribusi kecepatan secara vertikal yaitu dengan menempatkan baling – baling current meter pada kondisi kedalaman, yaitu :
  1. Pengukuran pada 1 (satu) titik, umumnya dilakukan apabila kedalaman air kurang dari 1  (satu) meter, penempatan baling – baling pada kedalaman 0,60 h diukur dari muka air. 
  2. Dalam praktek umumnya, pengukuran kecepatan aliran dilakukan lebih dari 1 (satu) titik sehingga diharapkan dapat memberikan pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga ketinggian yang dipakai adalah 0,2 h dan 0,8 h.

     Menurut Purbaningtyas (2012) mengatakan bahwa irigasi merupakan kegiatan penyediaan dan pengaturan air untuk memenuhi kepentingan pertanian dengan memanfaatkan air yang berasal dari permukaan dan air tanah. Pengaturan pengairan bagi pertanian tidak hanya tertuju untuk penyediaan air. Tetapi juga untuk mengurangi berlimpahnya air hujan di daerah-daerah yang kelebihan air dengan maksud mencegah peluapan air dan kerusakan tanah. Dengan demikian pengaturan irigasi (pengaturan air) akan menjangkau beberapa teknis sebagai berikut: 
  1. Pengembangan sumber air dan penyediaan air bagi keperluan usaha tani
  2. Penyaluran air irigasi dari sumbernya ke daerah/lahan usaha tani 
  3. Pembagian dan pemberian air di daerah/lahan usaha tani 
  4. Pengalihan dan pembuangan air yang melimpah dari daerah pertanian

     Menurut Pasandaran (2011) menjelaskan bahwa jaringan irigasi yaitu prasarana irigasi, yang terdiri dari bangunan air dan saluran pemberi air pengairan pertanian beserta pelengkapnya.. Dari segi konstruksi jaringan irigasinya, mengklasifikasikan, sistem irigasi menjadi: 
  1. Irigasi Sederhana adalah sistem irigasi yang sistem konstruksinya dilakukan dengan sederhana, tidak dilengkapi dengan pintu pengatur dan alat pengukur sehingga air irigasinya tdak teratut dan tidak terukur, sehingga efisiensinya rendah. 
  2. Irigasi Teknis adalah suatu sistem irigasi yang dilengkapi dengan alat pengatur dan pengukur air pada bangunan pengambilan, bangunan bagi dan bangunan sadap sehingga air terukur dan teratur sampai bangunan bagi dan sadap, diharapkan edisiensinya tinggi. 
  3. Irigasi Teknis Maju adalah suatu sistem irigasi yang airnya dapat diatur dan terukur pada seluruh jaringan dan diharapkan efisiensinya tinggi sekali.

3.2. Acara 2 Kualitas Air Irigrasi
3.2.1. Hasil Pengamatan 

3.2.2. Pembahasan       
       Air yang berada pada saluran air irigasi primer diambil secara rata mulai dari tepi kiri, tengah dan tepi kanan kemudian dikompositkan. Hasil dari analisis kandungan sedimennya, air pada saluran irigasi primer memiliki pH 8, suhu 27,8 ° C serta daya hantar listrik 0,195. DHL 0,195 menandakan bahwa DHL tersebut sangat bagus untuk pertumbuhan tanaman dalam pertanian. Dalam tahap perhitungan sedimen, dilakukan penimbangan cawan aluminium sebelum digunakan dan diperoleh berat 38,093 gram. Berat cawan aluminium keseluruhan setelah dioven yaitu 37,953 gram. Dari perolehan hasil yang didapat berat sedimen yaitu sekitar -0,14 yang berarti bahwa pengaruhnya terhadap pertanian tidak terlalu signifikan. Kualitas air ditentukan oleh kandungan sedimen tersuspensi dan bahan kimia yang terlarut di dalam air tersebut. Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion), air (water erosion), pengolahan tanah (tillage erosion), dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian, sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut. Konsentrasi garam total atau salinitas merupakan kriteria paling penting karena mempengaruhi langsung kualitas tanah. Tingkat konsentrasi garam yang tinggi sampai batas tertentu akan meningkatkan tekanan osmotic tanaman, sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Kriteria air irigasi berdasarkan nilai konduktivitas listrik antara lain : 1. 2. 3. Kelas pertama (sangat bagus) dengan DHL kurang dari 0,25 dS/m. Kelas kedua (bagus) dengan DHL 0,25 dS/m-0,75 dS/m. Kelas ketiga (tingkat toleransi yang diperbolehkan) dengan DHL 0,76 dS/m-2 dS/m. 4. 5. Kelas keempat (sangat bagus) dengan DHL kurang dari 2,1-3 dS/m. Kelas kelima (sangat bagus) dengan DHL lebih dari 3 dS/m. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas air adalah kedalaman permukaan air tanah artinya bahwa permukaan tertinggi dari air yang naik ke atas suatu sumuran atau tempat yang rendah. Ketinggian air tanah antara lain dipengaruhi oleh jenis tanah, curah hujan, penguapan, dan kedalaman aliran perkukaan terbuka (sungai). Kedalaman permukaan air tanah akan berpengaruh pada penyebaran bakteri coliform secara vertikal. Curah Hujan,  air hujan yang mengalir di permukaan tanah dapat menyebabkan bakteri coliform yang ada di permukaan tanah terlarut dalam air tersebut. Meresapnya air hujan ke dalam lapisan tanah mempengaruhi bergeraknya bakteri coliform di dalam lapisan tanah. Semakin banyak air hujan yang meresap ke dalam lapisan tanah semakin besar kemungkinan terjadinya pencemaran. Jenis Tanah, jenis tanah berbeda mempunyai daya kandung air dan daya melewatkan air yang berbeda pula. Daya kandung atau kemampuan tanah untuk menyimpan air disebut porositas, yaitu rasio antara pori-pori tanah dengan volume total tanah dan biasannya dinyatakan dalam satuan persen, sedangkan kemampuan tanah untuk melewatkan air disebut permeabilitas, yaitu jumlah air yang dapat dilewatkan oleh tanah dalam satuan waktu per satuan luas penampang. Porositas dan permeabilitas tanah akan berpengaruh pada penyebaran bakteri coliform, mengingat air merupakan alat tranportasi bakteri dalam tanah. Makin besar permeabilitas tanah, makin besar kemampuan melewatkan air yang berarti jumlah bakteri yang dapat bergerak mengikuti aliran juga makin besar.
     Menurut Agustiningsih (2012) mengatakan bahwa parameter yang mempengaruhi kualitas air irigasi untuk tanaman adalah:
(1) Salinitas
    Masalah  salinitas  terjadi  jika  kuantitas  garam  pada  air  irigasi  cukup  besar sehingga akumulasi garam di daerah perakaran tanaman akan sedemikian rupa sehingga  tanaman  tidak  mampu  lagimengisap  air  (lengas)  tanah  di  daerah perakaran.  Penurunan  isapan  air  oleh  akar  menyebabkan  terganggunya pertumbuhan tanaman sehingga gejala nya seperti kekurangan air (tanaman layu). Tanaman mengisap sebagian besar air dari bagian atas zone perakaran, sehingga kondisi salinitas di bagian ini sangat berpengaruh daripada di bagian bawah zone perakaran. Mengelola bagian atas perakaran dengan proses pencucian (leaching) menjadi sangat penting untuk lahan berkadar garam tinggi.

(2) Permeabilitas
    Laju infiltrasi tanah akan berkurang akibat dari kandungan garam tertentu atau kekurangan garam tertentu dalam air irigasi.  Faktor yang berpengaruh adalah:
a) Kandungan Na relatif  terhadap Ca dan Mg
b) Kandungan bikarbonat dan karbonat
c) Total kandungan garam dalam air

(3) Toksisitas atau keracunan terhadap Boron (B), Chlorida (Cl) dan Natrium (Na)
     Menurut Muzamil (2010), kualitas air irigasi adalah kesesuaian air untuk memenuhi fungsi bagi tanamam. Kualitas air yang baik tidak akan menimbulkan masalah dan menimbulkan keluhan petani karena tidak berpengaruh buruk pada pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Makin buruk kualitas air makin berat masalah yang di timbulkan dan makin sulit pula masalah diatasi. Kualitas air di suatu tempat tidak selalu tetap, melainkan dapat berubah oleh adanya pencemaran. Kualitas air yang tadinya memenuhi syarat-syarat untukdipakai sebagai suatu kebutuhan, seperti air irigasi pada suatu saat kualitas tidakmemenuhi syarat lagi. Oleh sebab itu kualitas air perlu di lindungi dari pencemaran.
       Menurut Siti (2011), kualitas air yang meliputi karakteristik fisik air diantaranya : (1) Kekeruhan. Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahananorganik dan organik yang terkandung dalam air seperti lumpur dan bahan yang dihasilkan oleh buangan industri. (2) Temperatur. Kenaikan temperatur air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akanmenimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobic yang mungkin saja terjadi. (3) Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme. Bahan- bahan tersuspensi yang ber!arna dan oleh ekstrak senyawa – senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan. (4) Solid (Zat padat). Kandungan zat padat menimbulkan bau busuk dan jugadapat meyebabkan turunnya kadar oksigen terlarut. Zat padat dapatmenghalangi penetrasi sinar matahari kedalam air. (5) Bau dan rasa. Bau dan rasa dapat dihasilkan oleh adanya organismedalam air seperti alga serta oleh adanya gas seperti yang terbentuk dalam kondisi anaerobik dan oleh adanya senyawa-senyawa organik tertentu.

3.3. Acara 3 Efisiensi Pemberian Air Irigrasi
3.3.1. Volume Pemberian Air 

3.3.2. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman 

Grafik 3.1. Hubungan Tinggi Tanaman dengan Volume Pemberian Air

3.3.3. Hasil Pengamatan Jumlah Daun 

Grafik 3.2. Hubungan Jumlah Daun dengan Volume Pemberian Air

3.3.4. Pembahasan 
     Hasil pengamatan diatas menunjukkan bahwa kadar penyiraman sangat berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun jagung. Tanaman dengan kadar penyiraman 120% memiliki tinggi tanaman pada 2 MST yaitu 53 cm, 3 MST yaitu 85 cm dan pada 4 MST 100 cm. Sedangkan dengan tanaman jagung yang mendapat volume penyiraman 100% yaitu pada 2 MST yaitu 45 cm, 3 MST yaitu 74 cm dan pada 4 MST hanya 97 cm. Tanaman jagung dengan volume penyiraman 75 % pada 2 MST yaitu 43,5 cm, 3 MST 68 cm dan 4 MST 95 cm. terakhir tanaman jagung dengan volume penyiraman 50 % tinggi tanaman pada 2 MST yaitu 40 %, 3 MST 63 %, 4 MST 87,5 cm. Jumlah daun pada tanaman jagung paling banyak pada penyiraman 120 % yaitu pada 2 MST 6 daun, 3 MST 8 daun dan 4 MST 9 daun. Jumlah daun paling sedikit pada volume penyiraman 50 % dengan memperoleh 4 daun pada 2 MST, 5 daun pada 3 MST dan 4 MST. Kesimpulannya bahwa jumlah air yang diberikan pada tanaman sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tersebut.
      Menurut Ciptaningtyas (2012), air berperan penting dalam proses fotosintesis sehingga tanaman jagung yang kekurangan air akan membuat proses fotosintesisnya terganggu sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. pendapat tersebut sesuai dengan hasil pengamatan yaitu pada tanaman dengan volume 50% memiliki tinggi yang pendek karena kekurangan air untuk proses fotosintesis. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman tertinggi yaitu pada volume penyiraman 120% kemudian 100%, 75% dan yang terakhir dengan volume penyiraman 50%. Sama halnya dengan pengaruh volume penyiraman air terhadap tinggi tanaman, volume penyiraman juga berpengaruh terhadap jumlah daun. Menurut Ciptaningtyas (2012), air berpengaruh dalam pembentukan jaringan baru. Berdasarkan hasil pengamatan, tanaman dengan volume penyiraman 50% memiliki jumlah daun yang lebih sedikit dari pada tanaman dengan volume penyiraman yang lebih besar dikarenakan pembentukan jaringan baru kurang optimal. 
     Efisiensi irigasi didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah air yang diberikan dikurangi kehilangan air dengan jumlah yang diberikan. Kehilangan air irigasi yang terjadi selama pemberian air disebabkan terutama oleh perembesan (seepage) di penampang basah saluran, evaporasi (umumnya relatif kecil) dan kehilangan operasional (operational losses) yang tergantung pada sistem pengelolaan air irigasi. Kehilangan air irigasi dari pintu sadap tersier sampai petakan sawah biasanya disebut sebagai ”efisiensi pemberian tersier”, sedangkan kehilangan air dari sadap bendung sampai ke sadap tersier dinyatakan sebagai efisiensi pemberian air di jaringan utama. Manfaat pengukuran efisiensi pada jaringan irigasi adalah : (a) Untuk menghasilkan penggunaan air irigasi yang efisien di tingkat petani yang disesuaikan dengan kebutuhan air tanaman. (b) Untuk penelitian terapan dalam evaluasi tingkat efisiensi penggunaan air irigasi permukaan, misalnya rembesan/bocoran di saluran, debit yang diperlukan, panjang alur (furrow) dan sebagainya. (c) Untuk keperluan iuran pelayanan air irigasi diperlukan alat ukur untuk menetapkan jumlah air yang telah digunakan dan besarnya iuran air yang harus dibayar oleh pemakai air tersebut (Sumandiyono, 2015). 
      Tanaman sangat membutuhkan air dalam jumlah yang teratur untuk mendukung pertumbuhannya, sehingga pemberian air yang merata sepanjang pertumbuhan tanaman akan selalu ideal untuk tanaman tersebut. Penyiraman yang sedikit-sedikit namun sering dan teratur memungkinkan air selalu ada sehingga dapat selalu tersedia bagi, karena hal yang paling penting dari jumlah air yang ada dalam tanah adalah ketersediaannya. Ketersediaan air tanah ditentukan oleh banyaknya air kapiler yaitu air yang berada di antara kapasitas lapang dan layu permanen (Harjadi, 2008).
Menurut (Mulyana, 2011) mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman perlu penyiraman sesuai kebutuhan air. Penyiraman dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: mengganti air yang telah menguap, memberi tambahan air yang dibutuhkan oleh tanaman, dan mengembalikan kekuatan tanaman. dapat tumbuh lurus meninggi tanpa cabang.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. KESIMPULAN
     Hasil pengamatan dan perhitungan efisiensi pada saluran sekunder menunjukkan efisiensi saluran irigasi sebesar 0,2 % sedangakan pada saluran tersier -0,17% karena debit air hulu (Qin) lebih kecil daripada debit air hilir (Qout)  . Kualitas air irigasi pada saluran primer cukup baik karena pH mendekati netral, suhu normal dan tidak berbau. Efisieinsi pemberian volume penyiraman sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan jumlah daun. Berdasarkan hasil pengamatan, pemberian volume penyiraman sebanding dengan pertumbuhan tanaman dan jumlah daun pada tanaman jagung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa volume penyiraman 120% lebih baik daripada volume penyiraman 100%, 75% dan 50%

4.2. SARAN
    Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum lapang waktunya lebih diatur lagi agar tidak terjadi kemoloran waktu dan tidak mengganggu aktivitas lainnya setelah praktikum lapang pengelolaan air ini. 

DAFTAR PUSTAKA

  • Agustiningsih, Dyah, et al. 2012. Analisis Kualitas Air dan Beban Pencemaran Berdasarkan Penggunaan Lahan di Sungai Blukar Kabupaten Kendal. J Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan : 30-37
  • Ciptaningtyas, Danti. 2012 Pengaruh Interval Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Dan  Hasil Empat Kultivar Jagung
  • Hariany, Susi et al. 2010. Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi Di Saluran Sekunder Pada Berbagai Tingkat Pemberian Air Di Pintu Ukur. J Rekayasa 15 (3) : 226-235
  • Harjadi, S.S.M.M. 2008. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
  • Mulyana, D., C. Asmarahman dan I. Fahmi. 2011. Mengenal Kayu Jabon Merah dan Putih (2-36 h). Panduan Lengkap Bisnis dan Bertanam Kayu Jabon. Agromedia Pustaka. Jakarta. 142 hal.
  • Muzamil. 2010. Dampak Limbah Cair Pabrik Tekstil Pt KenariaTerhadap Kualitas Air Sungai Winong Sebagai IrigasiPertanian Di Desa Purwosuman Kecamatan SidoharjoKabupaten Sragen. Universitas Sebelas Maret. Surakarta
  • Pasandaran, E. 2011, Irigasi di Indonesia, Strategi dan Pengembangan, LP3ES. Jakarta
  • Purbaningtyas, Daru. 2012. Analisis Efisiensi Saluran Di Daerah Irigasi Lempake Samarinda Analyze Of Irrigation Channel Efficiency At Daerah Irigasi Lempake Samarinda. J Aplika 12 (2) : 76-82
  • Siti. 2011. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sebagai Satuan Unit Perencanaan Pembangunan Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
  • Sri Harto, BR, 2012. Diktat Analisis Hidrologi, PAU Ilmu Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  • Sumandiyono, Agus. 2015. Analisis Efisiensi Pemberian Air Di Jaringan Irigasi Karau Kabupaten Barito Timur Provinsi Kalimantan Tengah. Jurusan Magister Pengelolaan Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung 


Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Pengelolaan Air"