Laporan Praktikum Uji Daya Kecambah Benih

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
    Perkecambahan biji yaitu pengaktifan kembali aktivitas pertumbuhan embriio di dalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit (seedling). Biji agar dapat tumbuh dan berkcambah memerlukan persyaratan baik dalam biji itu sendiri maupun dalam persyaratan lingkungan. Persyaratan untuk berkecambah berbeda-beda dari macam-macam biji adalah penting untuk diketahui untuk pedoman penanaman biji, penentuan treatmen tertnetu, dan pengontrolan pertumbuhan.
    Pengujian daya kecambah benih sangatlah penting untuk diketahui karena mempunyai beberapa fungsi yaitu untuk menguji kesehatan beni, selain itu untuk menentukan jumlah benih yang akan digunakan pada suatu lahan. Beberapa metode pengujian dibuat untuk mendeteksi parameter viabilitass benih. Pengujian daya kecambah benih digunakan untuk mendeteksi parameter viabiliitas potensial benih. Daya kecambah atau daya tumbuh benih adalah tolak ukur bagi kemampuan benih untuk tumbuh normal dan bereproduksi normal pada kondisi lingkungan yang optimum.
   Tujuan pengujian yaitu untuk mendeteksi viabilitas benih dalam kondisi optimum, kondisi pengujian daya berkecambah benih dibuat serba optimum dan standar. Media untuk menumbuhkan benih digunakan: kertas, merang, dan pasir, kertas koran atau kertas saringbila kertas dikecambahkan dalam alat pengecambah benih. Media pasir, serbuk gergaji, atau arang sekam digunakan apabila benih ditumbuhkan di ruang persemaian (leathouse). Ukuran media kertas atau boks plastik standar untuk menanam sejumlah benih tertentu, pelembaban media harus optimum karena media terlalu kering/basah menyebabkan kondisi tidak optimum
    Tujuan dari pengujian daya kecambah adalah memperoleh informasi nilai penanaman benih di lapangan, membandinngkan kuaalitas benih antar seed lot (kelompok benih). Menduga storabilitas (daya ssimpan) benih, memenuhi apakah nilai daya berkecambah benih telah memenuhi peraturan yang berlaku. Metode penanaman benih yang digunakan aadalah pada kertaas (PK), pada pasir (PP), dalam pasr (DP), antar kertas (AK), dan pada kertas digulung dalam pasir (PKDP). 

1.2. Tujuan  
    Praktikum Teknologi Benih Acara Uji Daya Kecambah Benih bertujuan untuk mengetahui daya kecambah benih dan mengetahui kecepatan kecambah benih.

II. TINJAUAN PUSTAKA
   Benih adalah biji yang dipersiapkan untuk tanaman, telah melalui proses seleksi sehingga diharapkan dapat mencapai proses tumbuh yang besar. Benih disini dimaksudkan sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan penanaman. Biji merupakan bentuk tanaman mini (embrio) yang masih dalam keadaan perkembangan yang terkekang (Sutopo 2012). 
Tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan tanaman yang berasal dari benua Amerika khususnya daerah Brazilia (Amerika Selatan). Awalnya kacang tanah dibawaa dan disebarkan ke benua Eropa kemudian ke Asia dan sampai ke Indonesia, kacang tanah diklasifikassikan sebagai berikut (Latada et al, 2013) :

Kingdom : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Subdivisi : Angiospermae 
Klas         : Dicotyledoneae 
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae
Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogeae
 
     Benih kacang tanah adalah benih ortodoks dengan kandungan lemak dan protein tinggi, sehingga memiliki daya simpan yang rendah. Benih bersifat higroskopis dan kadarairnya selaalu berkeseimbangan dengan kelembaban tempat penyimpanan. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan benih adalah kondisi ruang simpan dan kemasan yangdigunakan. Penggunaan abu sekam padi dapat menjaga kelembaban sekitar benih sehingga kadar benih relatif stabil (Destriani, 2016).
     Jagung merupakan tanaman semusim determinat, dan satu siklus hidupnnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua adalah generatif. Klasifikasi tanaman jagung sebagai berikut (Iriany, 2012) :

Kingdom : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Subdivisi : Angiospermae 
Klas   : Monocotyledoneae 
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays 

    Kriteria dan struktur kecambah normal untuk benih jagung adalah sebagai berikut (Kartahadimaja et al. 2013): 
  1. Akar :  akar seminal primer tumbuh dengan kuat dengan akar-akar sekunder.  Akar seminal sekunder yang  tumbuh dengan kuat, 2-3 akar. Akar seminal primer ada kalanya tidak tumbuh, tetapi paling sedikit 2 akar seminal sekunder harus tumbuh dengan kuat. 
  2. Plumula:  daun primer tumbuh sepanjang koleoptil dan  telah tersembul keluar dari koleoptil.  Daun harus kelihatan sehat dalam keadaan demikian. Plumula dapat pula melengkung tumbuhnya asal tidak busuk .
   Salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya hasil tanaman jagung adalah penggunaan benih yang bermutu baik. Benih jagung bermutu atau benih yang bersertifikat adalah benih yang mempunyai daya tumbuh besar, tidak tercampur dengan benih/verietas lain, tidak mengandung kotoran. Ciri-ciri benih jagung yang bersitifikat yaitu wadah berlabel, label berwarna biru bertuliskan benih bersetifikat dan berisikan tentan produsen, tanggal berlakunya label dan keterangan mutuh benih lainnya. Benih ini dapat di peroleh di Balai Benih, Dinas Pertanian atau tempat-tempat penjualan benih yang resmi (Gifelem et al. 2016).
     Daya berkecambah benih adalah tolok ukur bagi kemampuan benih untuk tumbuh normal. Uji daya kecambah dilakukan untuk mengetahui potensi benih yang dapat berkecambah dari suatu kelompok atau satuan berat benih. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya kecambah benih adalah kemasakan benih, kadar air, dormansi, oksigen, temperatur, cahaya, dan zat penghambat perkecambahan (Mulyana 2012).
    Daya berkecambah suatu benih dapat diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian – bagian penting dari suatu embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Pengujian daya kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berupa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan. Perbedaan daya kecambah antar varietas dapat disebabkan karena masing-masing benih mempunyai ukuran yang berbeda-beda, kandungan zat makanan serta umur panen yang berlainan. Perbedaan sifat terebut disebabkan oleh faktor genetik masing-masing benih. Faktor genetik yang dimaksud adalah varietas-varietas yang mempunyai genotype baik (good genotype) seperti produksi tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, responsif terhadap kondisi pertumbuhan yang lebih baik (Sunarto 2012).
     Kecepatan tumbuh benih  merupakan proses reaktivasi benih cepat apabila kondisi sekeliling untuk tumbuh optimum dan proses metabolisme tidak terhambat.  Kecepatan tumbuh  dapat diungkapkan sebagai tolok ukur waktu yang diperlukan untuk mencapai perkecambahan satu ethmal 50 persen. Sedangkan keserempakan tumbuh mengindikasikan vigor daya simpan, karena keserampakan tumbuh menunjukkan korelasi dengan daya simpan  (Lesilolo et al. 2012).
     Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk berkembang menjadi kecambah normal. Kecambah di bawah ini digolongkan ke dalam kecambah abnormal adalah kecambah rusak (kecambah yang struktur pentingnya hilang atau rusak berat. Plumula atau radikula patah atau tidak tumbuh). Kecambah cacat atau tidak seimbang adalah kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya cacat atau tidak proporsional. Plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh sebaliknya. Kecambah lambat adalah kecambah yang pada akhir pengujian belum mencapai ukuran normal. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kecambah benih normal kecambah pada benih abnormal ukurannya lebih kecil (Rejesus 2012).
       Kriteria untuk kecambah normal diantaranya kecambah dengan pertumbuhan sempurna, ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik. Kecambah dangan cacat ringan pada akar, hipokotil/ epikotil, kotiledon, daun primer, dan koleoptil. Kecambah dengan infeksi sekunder tetapi bentuknya masih sempurna (Bewley 2015). 
    Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk berkembang menjadi kecambah normal. Kecambah yang termasuk ke dalam kecambah abnormal kecambah rusak, yaitu kecambah yang struktur pentingnya hilang atau rusak berat. Plumula atau radikula patah atau tidak tumbuh. Kecambah cacat atau tidak seimbang adalah kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya cacat atau tidak proporsional. Plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh sebaliknya. Pertumbuhan kecambah benih normal kecambah pada benih abnormal ukurannya lebih kecil (Harrington 2012).
      Masa kadaluarsa benih yan semakin lama, akan  menghasilkan nilai viabilitas dan vigor yang kecil. Hal ini disebabkan oleh ketidaknormalan fisiologis dan perubahan struktur benih, yang meliputi perubahan-perubahan pada protoplasma, inti sel, mikondria, plastid ribosom dan lisosom yang menyebabkan terjadinya kemunduran benih. Benih yang tua atau telah mengalami kemunduran benih (deteriorasi) maka laju perkecambahan dan pertumbuhan menjadi lambat dan umumnya tidak merata (Putra et al. 2016).
     Benih yang baik akan menghasilkan kecambah normal, sebaliknya benih yang rusak, rendah kualitasnya menghasilkan kecambah atau bibit yang tidak normal atau abnormal. Kerusakan benih dapat terlihat nyata dimana benih retak, kulit mengelupas atau biji pecah. Benih abnormal memiliki kerusakan pada bagian dalam benih. Kerusakan benih dapat diketahui setelah benih berkecambah abnormal. Kecambah bibit abnormal adalah bibit yang tidak mempunyai syarat sebagai bibit normal. Abnormalitas dapat terjadi pada planula terbelah, kerdil, akar tumbuh lemah atau tidak tumbuh sama sekali, koleoptil kosong atau tidak keluar seluruhnya. Pada legume abnormalittas berupa tidak ada epikotil, hypocotil pendek, menjadi tebal atau belah, dan akar terlambat perkembangannya (Agustin 2016). 
     Kecambah normal yaitu kecambah yang menunjukkan potensi untuk berkembang lebih lanjut menjadi tanaman normal. Ciri-ciri kecambah normal meliputi kecambah memiliki perkembangan sistem perakaran yang baik, terutama akarprimer dan akar seminal paling sedikit dua, perkembangan hipokotil baik dan sempurna tanpa ada kerusakan pada jaringan, pertumbuhan plumula semprna dengan danhijau tumbuh baik. Epikotil tumbuh sempurna dengan kuncup normal dan memiliki satu kotiledon untuk kecambah dari monokotil dan dua bagi dikotil. Kecambah abnormal yaitu kecambah yang tidak menunjukkan adanya ponsi untuk berkembang menjadi tanaman normal jika ditambahkan  pada tanah berkualitas baik dan di bawah kondisi yang sesuai bagi pertumbuhannya. Ciri-ciri kecambah abnormal meliputi kecambah rusak tanpa kotiledon, embrio pecah, dan akar primer pendek, bentuk kecambah cacat, perkembangan bagian-bagian penting lemah dan kurang seimbang. Plumula terputar, hipokotil, epikotil, kotiledon membengkok, akar pendek, kecambah kerdil, kecambah tidak membentuk klorofil dan kecambah lunak (Bajang et al 2015). 

III. METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat 
     Pratikum Teknlogi Benih Acara Uji Daya Kecambah Benih dilaksanakan pada Kamis, 10 Oktober 2019 pukul 15.30 – 17.15 WIB. Praktikum acara ini bertempat di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Produksi Tanaman (EMPT) Fakultas Pertanian UNS.

3.2. Alat dan Bahan
A. Alat
  1. Petridish
  2. Bak perkecambahan
  3. Kertas perkecambahan
  4. Media pasir
B. Bahan
  1. Benih tanaman pangan : jagung dan kacang tanah

3.3. Langkah Kerja
  1. Menyiapkan media perkecambahan berupa kertas dan pasir.
  2. Menyecambahkan benih pada media perkecambahan Dalam Pasir (DP), Antar Kertas (AK), dan Pada Kertas Digulung Dalam Pasir (PKDP).
  3. Menempatkan substratum perkecambahan pada bak perkecambahan.
  4. Menjaga kelembaban.
  5. Mengamati :Kecambah normal, abnormal dan yang mati. Perbandingan dilakukan sejak hari pertama hingga terakhir.
  6. Menghitung daya kecambah.
  7. Menggambar kecambah normal beserta bagian-bagiannya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil 
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Jumlah Benih Berkecambah pada Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
Gambar 4.1. Diagram Daya Kecambah Benih Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
Gambar 4.2. Diagram Tinggi Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

Gambar 4.3. Diagram Panjang Akar Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

4.2. Pembahasan
      Faktor perkecambahan benih terdiri dari faktor dalam dan luar. Faktor dalam yang mempengaruhi benih dapat berkecambah normal adalah kualitas benih yang ditentukan oleh tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan zat penghambat perkecambahan. Faktor luar yang mempengaruhi benih dapat berkecambah normal adalah air, suhu, oksigen, cahaya, dan media tanam. Menurut Mudiana (2017) Faktor lingkungan tempat penyemaian dapat berpengaruh terhadap proses perkecambahan. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap biji-biji yang tidak berkecambah, umumnya mereka rusak karena biji-biji tersebut hancur berbentuk bubuk menyerupai tepung. Terdapat  dua faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih., yaitu : i. kondisi benih yang meliputi : kemasakan biji/benih, kerusakan mekanik dan fisik, serta kadar air biji. ii. faktor luar benih, yang meliputi : suhu, cahaya, oksigen, kelembaban nisbi serta komposisi udara di sekitar biji. Kehadiran jamur patogen yang mengkontaminasi biji/benih pun dapat menurunkan viabilitas biji serta menurunkan daya kecambah benih tersebut.
    Menurut Mewangi et al (2019) kriteria kecambah normal merupakan indikator penting untuk penentuan periode (hari) pengamatan. Ciri kecambah normal pada benih turi adalah apabila benih telah memiliki kotiledon utuh, hipokotil dan akar panjangnya minimal dua kali dari ukuran kotiledon. Kecambah dikategorikan abnormal apabila struktur kecambah tidak lengkap, panjang akar dan hipokotil kurang dari dua kali panjang kotiledon. Kecambah ada juga yang berpenyakit. Ciri kecambah berpenyakit di antaranya kecambah terlihat rusak pada bagian tertentu seperti kotiledon, hipokotil, atau bagian yang lain. Selain itu, terdapat bercak-bercak bahkan warnanya dapat berubah seperti kecoklatan. Ciri-ciri benih kacang tanah yang tumbuh dengan normal yaitu kecambah utuh, bagian akar sekunder terlihat jelas, batang berkembang dengan baik, dan daunya utuh. Sedangkan yang abnormal yaitu daun rusak/tidak utuh, batang busuk/rebah.
     Pengujian viabilitas benih dapat dilakukan secara langsung, yaitu dengan cara menilai struktur-struktur penting kecambah dan secara tidak langsung, yaitu dengan melihat gejala metabolismenya. Pada pengujian secara langsung, beberapa substrat pengujian yang dapat digunakan seperti kertas, kapas, pasir, tanah, dan lainlain. Menurut Purbojati (2016) substrat kertas lebih banyak digunakan karena lebih praktis dan memenuhi persyaratanpersyaratan dalam prosedur pengujian mutu benih secara modern Substrat kertas dapat digunakan untuk berbagai metode uji viabilitas benih, yaitu : 
  1. Uji Diatas Kertas (UDK), digunakan untuk benih-benih berukuran kecil yang membutuhkan cahaya dalam perkecambahannya. 
  2. Uji Antar Kertas (UAK), digunakan untuk benih-benih yang tidak peka cahaya dalam perkecambahannya.
  3. Uji Kertas Digulung (UKD), digunakan untuk benih-benih berukuran besar yang tidak peka cahaya dalam perkecambahannya.  
    Menurut Marom et al (2017) menyatakan bahwa pengujian daya berkecambah benih menggunakan metode dalam pasir dengan menjumlah persentase kecambah normal pada hari ke-5 (first count) dan hari ke-10 (final count). Menurut Mohammadi (2012).  Perlakuan PK (Pada Kertas), AK (Antar Kertas), PKDP (Pada Kertas Dalam Pasir), PP (Pada Pasir), DP (Dalam Pasir) akan menghasilkan perkecambahan yang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa perlakuan PK dan AK pada benih kacang tanah memiliki nilai DK sebesar 0%. Perlakuan PKDP pada benih kacang tanah memiliki nilai  DK sebesar 60%. Perlakuan DP pada benih kacang tanah memiliki nilai  DK sebesar 60%. Perlakuan PP pada benih kacang tanah memiliki nilai  DK sebesar 0%.  Uji PKDP  dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat kertas substrat agar tidak tembus oleh akar yang dapat mengakibatkan kertas substrat menjadi rusak sehingga pengamatan menjadi sulit dilakukan menurut Kamil (2013). Perlakuan PKDP menghasilkan daya kecambah baik dengan rata-rata 60%.  
     Menurut Ridha (2017) Benih bermutu tinggi dapat dicirikan dari viabilitas dan vigoritas yang tinggi. Sebagian besar ahli teknologi benih mengartikan viabilitas sebagai kemampuan benih untuk berkecambah dan menghasilkan kecambah secara norma. Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat ditunjukkan melalui gejala metabolisme dengan gejala pertumbuhan, selain itu daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih. Pada umumnya viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi kecambah normal. Perkecambahan benih mempunyai hubungan erat dengan viabilitas benih dan jumlah benih yang berkecambah dari sekumpulan benih merupakan indeks dari viabilitas benih. Viabilitas potensial menunjukkan kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal dan berproduksi normal pada kondisi alam yang optimum. Daya berkecambah merupakan tolok ukur viabilitas potensial. Daya Berkecambah (DB) merupakan tolok ukur viabilitas potensial yang merupakan simulasi dari kemampuan benih untuk tumbuh dan berproduksi normal dalam kondisi optimum.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
  1. Daya kecambah benih adalah kemampuan benih pada kondisi yang sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih tersebut secara normal dari sejumlah benih pada jangka waktu yang telah ditentukan lalu menghitung presentase daya berkecambahnya.
  2. Kecambah normal ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik.
  3. Perlakuan uji daya kecambah yang paling baik adalah PKDP (Perlakuan Ketas digulung dalam pasir) karena memiliki daya kecambah, tinggi tanaman, dan panjang akar paling tinggi.
5.2.Saran 
    Praktikum acara 2 tentang Uji Daya Kecambah Benih sudah berjalan dengan baik. Praktikan perlu melakukan perawatan benih lebih rajin sehingga benih dapat tumbuh dengan baik. 

DAFTAR PUSTAKA

Agustin H. 2016. Optimalisasi media perkecambahan dalam uji viabilitas benih selada dan bawang merah. J Agrin 20(2): 100 – 112.
Bajang, Marsel E, Rumambi, Kaunang et al. 2015. Pengaruh media tumbuh dan lama perendaman terhadap perkecambahan sorgum varietas numbu. J Zootek 35(2): 302 – 311.   
Bewley B. 2015. Potensi perkecambahan di lapang. Sumatera(ID): Universitas Sumatera Utara.
Destriani, Anisa. 2016. Penggunaan abu sekam padi dan macam-macam kemasan simpan untuk memperpanjang masa simpan benih kacang tanah (Arachis hypogaea). Yogyakarta : Skripsi
Gifelem C, Kaunang R, Ruauw E. 2016. Perbandingan pendapatan usahatani jagung manis dan jagung biasa di Desa Tontalete Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara. J Agri sosioekonomi 12(2): 41 – 54.
Harrington JF. 2012. Seed storage and longevity, in : seed biology vo. iii. ed.by tt. kozlowski. New York(AS): Academic Press.
Iriany, RNGM, Yasin H, dan M Andi Takdir. 2012. Asal, Sejarah, dan Taksonomi Tanaman Jagung. Maros: Balai Penelitian Tanaman Serealia.
Kartahadimaja J, Syuriani E, Hakim NA. 2013. Pengaruh  penyimpanan jangka panjang (long term) terhadap viabilitas dan vigor empat galur benih inbred jagung. J Penelitian Pertanian Terapan 13(3): 168 – 173.
Latada, KY, Bahua ML, dan Jamin FS. 2013. Respon pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah (arachis hypogaea) melalui pemberian pupuk phonska. J Agroteknologi. Vol 4(1) : 1-20
Lesilolo MK, Patty J, Tetty N. 2012. Penggunaan desikan abu dan lama simpan terhadap kualitas benih jagung (Zea mays L.) pada penyimpanan ruang terbuka. J Agrologia 1(1): 51 – 59.
Marom N, Rizal, Bintoro M. 2017. Uji efektivitas waktu pemberian dan konsentrasi pgpr  (plant growth promoting rhizobacteria) terhadap produksi dan mutu  benih kacang tanah (Arachis hypogaea L.). J of Applied Agricultural Sciences 1(2): 174 – 184.
Mewangi, Jawa Arum, Tatiek Kartika Suharsi. Dan Memen Surahman.  2019. Uji daya kecambah pada benih turi putih. J Bul. Agrohorti. Vol 7(2) : 130-137
Mohammadi SS. 2012. Effects of seed aging on subsequent seed reserve utilization and seedling growth in soybean. International journal of plant production 5(1): 65 – 70.
Mudiana, Deden. 2017. Perkecambahan Sygium cumini L Skeeels. J Biodiversitas. Vol 8 (1). 39-42
Mulyana. 2012. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung(ID): PT. Remaja.
Purbojati, Lingga. 2016. Studi Alternatif Substrat Kertas Untuk Pengujian Viabilitas Benih dengan Metode Uji diatas Kertas. J Bul. Agron. Vol 34 (1): 55-61
Putra Y, Rusbana TB, Anggraeni W. 2016. Pengaruh kuat medan magnet dan lama perendaman terhadap perkecambahan padi (Oryza sativa L.)  kadaluarsa varietas ciherang. J Agroekotek 6(2): 157 – 168.
Rejesus BM. 2012. Botanical pest control research in the Philippines. Los Banos(PH): University of Philippines.
Ridha, Risky, M Syahril, dan Boy Riza Juanda. 2017. Viabilitas dan Vigoritas benih Kedelai (Glycine maxL Merill) Akibat CekaPerendaman dalam Ekstrak Telur Keong Mas. J Penelitian AGROSAMUDRA. Vol 4(1) : 84-90
Sunarto H. 2012. Analisis korelasi dan koefisien lintasan hasil padi sawah pada lahan keracunan FE. J Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 18(2): 87 - 90.
Sutopo L. 2012. Teknologi benih. Jakarta(ID): PT Raja Grafindo Persada.

Posting Komentar

0 Komentar