Laporan praktikum PENANAMAN, PEMELIHARAAN, DAN PANEN

I. PENDAHULUAN 

1.1. Latar Belakang 
      Penanaman adalah kegiatan menempatkan bahan tanam yang berupa benih atau bibit pada media yang akan digunakan untuk menanam dapat berupa tanah maupun bukan tanah. Penanaman ini dilakukan dengan alasan untuk menumbuhan kembangkan benih atau bibit yang akan ditanam sampai dapat berproduksi. Produksi akan optimal jika dalam penanaman dilakukan dengan cara yang benar contohnya dengan mengatur jarak tanam, waktu tanam dan pola tanam. 
    Pemeliharaan tanaman adalah semua tindakan manusia yang bertujuan untuk memberi kondisi lingkungan yang menguntungkan sehingga tanaman tetap tumbuh dengan baik dan mampu memberikan hasil yang optimal.  Pemeliharaan tanaman dapat dilakukan dengan berbagai macam tindakan antara lain: pemberantasan hama dan penyebab penyakit, penyiangan, pemupukan, irigasi. Pemeliharaan tanaman ini merpakan salah satu kunci yang harus dilakukan sesudah menanam karena selama pertumbuhannya tanaman akan mengalami kondisi-kondisi kurang menguntungkan, antara lain: adanya gangguan hama dan penyakit, gangguan gulma, kekurangan air dan ganggan alam, maka dari itu tanaman yang ditanam perlu melakukan pemeliharaan untuk mengatasi kondisi-kondisi tidak menguntungkan tersebut. 
   Pemanenan merupakan sebuah kegiatan yang meliputi pemetikan hasil, pembersihan lahan, pengangkutan hasil, penyimpanan. Pemanenan sangat penting dilakukan untuk memperoleh hasil dari kegiatan budidaya yang telah dilakukan. Pembersihan lahan juga dilakukan karena agar lahan bersih dan siap  diolah  untuk kegiatan  penanaman selanjutnya. 

1.2. Tujuan
    Praktikum penanaman, pemeliharaan dan pemanenan dilakukan bertujuan agar mahasiswa memiliki pengalaman budidaya tanaman. Budidaya tanaman yang meliputi penanaman, pemeliharaan dan pemanenan yang berguna untuk menghasilkan produk pertanian untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Mahasiswa akan lebih mengetahui bagaimana penanaman, pemeliharaan dan pemanenan dilakukan. 

II. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1. Waktu dan Tempat Praktikum
    Praktikum Agroteknologi ini dilaksanakan di Laboratorium FakultasPertanian UNS, DesaSukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar, padatanggal 10 Maret 2018 sampaidengan 12 Mei 2018. Praktikum ini dilaksanakan pada pukul 06.30-09.00 WIB.

2.2. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Meteran
2) Penggaris 
3) Tugal
4) Tali raffia
5) Ember
6) Gembor 
7) Cethok kebun
8) Papan nama kelompok
9) Gunting
10) Trashbag
11) Pisau 
12) Koran

b. Bahan
1) Benih jagung (Zea mays)
2) Benih kacang tanah (Arachishypogeae)
3) Pupuk daun

III. CARA KERJA
3.1. Penanaman 
1) Jagung
Luas petakan tiap kelompok 2 x 2 m
a) Membuat lubang tanam dengan tugal sedalam 5 cm. Jarak tanam =40 x 50 cm (20 tanaman/petak).
Pupuk daun : P0 = (kontrol)
P1 = 14 hari setelah tanam
P2 = 21 hari setelah tanam
P3 = 28 hari setelah tanam
Masing-masing perlakuan sebanyak 6 kali sehingga terdapat 24 petak.
b) Menanam benih jagung pada lubang tanam, kemudian menutupnya dengan tanah.

2) Kacang Tanah
Luas petakan tiap kelompok 2 x 1,8 m
a) Membuat lubang tanam sedalam 3 cm
b) Menanam benih kacang tanah pada lubang yang tersedia kemudian menutupnya dengan tanah.

Jarak tanam :
J1 = 25 x 15 cm (96 tanaman/petak)
J2 = 25 x 20 cm (72 tanaman/petak)
J3 = 25 x 25 cm (56 tanaman/petak)
J4 = 25 x 30 cm (48 tanaman/petak)
Mengulangi masing-masing perlakuan sebanyak 6 kali sehingga terdapat 24 petak .

3.2. Pemeliharaan
1) Menyirami tanaman setiap hari, setelah 1 minggu, setelah tanaman hidup, dilakukan penyiraman bila tanah dalam keadaan kering.
2) Melakukan penyiangan dan pendangiran dengan menggunakan cethok.
3) Melakukan pengendalian hama/penyakit secara mekanik 

3.3. Pemanenan
Melakukan pemanenan tanaman setelah memasuki criteria masak sesuai jenis tanaman (jagungtongkol berwarna coklat dan biji keras).

3.4. Pengamatan
1) Pengamatan bagian vegetatif tanaman meliputi tinggi tanaman dan saat muncul bunga (untuk jagung dan kacang tanah)
2) Pengamatan saat panen meliputi:
a) Jagung: berat kering tanaman, berat tongkol dengan dan tanpa kelobot
b) Kacang tanah: berat kering tanaman, berat polong isi dan berat polong hampa
Data yang diperoleh dari pengamatan bagian vegetatif maupun saat panen dianalisis statistik dengan sidik ragam.

IV. PEMBAHASAN 

4.1. Jagung 
     Menurut Bakhri (2007 ) penanaman benih jagung ditanam dengan cara ditugal dengan kedalaman kurang lebih 3 cm, tiap lubang tugalan ditanam 2 butir benih dengan jarak tanam 40 X 50 cm. sebelum penanaman dilakukannya pengolahan lahan. Dalam pengolahan lahan, kegiatan pertama yang dilakukan yaitu pembersihan lahan dari jenis tumbuhan lain. Kemudian, dilanjutkan dengan pengolahan lahan areal tanam, baik secara manual, semimekanis, atau mekanis sesuai kondisi lahan serta pertimbangan nilai ekonomisnya. Pengelohan lahan oleh petani biasanya hanya dicangkul atau dibajak. 
  Pemeliharaan meliputi kegiatan penyiraman, penjarangan, penyiangan, pembumbunan dan pengendalian hama penyakit. Penyiraman dilakukan sekali per hari tetapi bila hujan dan tanah cukup basah maka penyiraman tidak perlu dilakukan. Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah tanam yaitu dengan meningalkan satu tanaman yang tumbuh dengan baik. Menurut Prahasta (2009), Penyiangan dilakukan dengan cara manual dengan mencabut gulma yang ada disekitar tanaman jagung. Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur satu minggu setelah tanam atau tergantung kondisi pertumbuhan gulma di lapangan.
   Pemanenan dilakukan setelah tanaman memenuhi kriteria panen yaitu kelobot tongkol sudah berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan. Menurut Purwono (2009), Bila kelobot tongkol dikupas akan tampak biji jagung berwarna kuning, bijinya sudah cukup keras dan mengkilap. Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 85 – 90 hari setelah tanam.
   Pengamatan tinggi tanaman dari pangkal batang atau permukaan tanah sampai ke ujung daun terpanjang karena batang yang terlihat di permukaan tanah merupakan batang semu, batang sejatinya kecil (roset). Sebenarnya batang jagung yang terlihat dipermukaan tanah itu merupakan pelepah daun, jika kita mengukur dari titik tumbuh berarti kita hanaya mengukur panjang batang sejati dan batang sejati kebanyakan di dalam tanah. Penjelasan di atas sama dengan pernyataan Sitompul (2009) bahwa, jagung merupakan tanaman monokotil sehingga pada proses pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada bagian bawah batang hingga ujung daun teratas. Menurut Bakhri (2007), Untuk memudahkan pengukuran tanaman sampel dibuat patok standar dengan tinggi 3 – 5 cm dekat pangkal batang di permukaan tanah dan pengukuran dilakukan dari ujung patok dengan menggunakan meteran. Pengukuran tinggi tanaman dimulai setelah tanaman berumur dua minggu sampai tanaman berbunga dengan interval pengamatan dua minggu sekali. 
    Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jagung diantaranya adalah kondisi lahan, varietas benih, pupuk, pestisida, gulma, jarak tanam, pengairan, guludan, dan sebagainya. Tanah yang cocok untuk tanaman jagung adalah tanah yang gembur dengan pH optimal yang mendekati netral, jagung tidak bisa tumbuh optimal dalam kondisi yang masam. Jarak tanam pada jagung juga perlu diperhatikan, jagung ditanam dengan jarak 40 cm x 50 cm supaya tidak saling berebut nutrisi antara satu tanaman jagung dengan tanaman jagung lain. Varietas yang digunakan harus varietas unggul supaya pertumbuhan jagung optimal. Menurut Seriminawati dkk. (2009) menyatakan bahwa pertumbuhan yang baik ditunjang oleh penyerapan unsur hara yang cukup mengakibatkan fotosintat yang dihasilkan akan meningkat dan tersimpan dalam jaringan penyimpanan sehingga mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan bagian-bagian tanaman yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil jagung secara nyata. Pemberian unsur hara dilakukan sesuai dosis yang dibutuhkan jagung. Pupuk yang diberikan pada jagung adalah pupuk organik sebanyak 4 kg pada awal penanaman dan pupuk daun pada pekan ketiga setelah penanaman. Pemeliharaan dilakukan secara rutin, yaitu satu pekan sekali. Pemeliharaan berupa pengairan dan pemberantasan organisme pengganggu, yaitu hama dan gulma yang mempengaruhi laju pertumbuhan jagung.
   Persiapan lahan sebelum penanaman telah diberi pupuk, sehingga unsur hara didalam tanah mencukupi untuk pertumbuhan tanaman. Unsur hara digunakan oleh tanaman untuk proses fotosintesis, jika unsur hara tercukupi maka proses fotosintesis dapat berjalan dengan baik, sehingga pertumbuhan tanaman juga dapat tumbuh dengan optimal. Namun, apabila tanaman kekurangan unsure hara maka akan mengalami kekahatan. Menurut Sasongko dan Astiti (2010), gejala kahat hara yang timbul disebabkan karena kebutuhan hara tidak terpenuhi baik dari tanah maupun dari pemberian pupuk. Tanaman kekurangan unsur hara tertentu, maka gejala defisiensi yang spesifik akan muncul. 
    Pemupukan dengan pupuk organik untuk menambah hara dalam tanah seperti Urea, Sp36 dan KCL. Pupuk organik yang biasanya digunakan adalah pupuk kandang. Pemberian pupuk harus sesuai dengan dosis yang dibutuhkan oleh tanaman. Pemupukan dapat meningkatkan hasil panen secara kuantitas dan kualitas. Menurut Armando (2009) berpendapat bahwa pemberian pupuk organik dapat memperpanjang daya serap dan simpan air, menggemburkan lapiasan tanah sehingga dapat menigkatkan kesuburan tanah. Tanah yang subur dapat menyebabkan akar tanaman dapat menembus lebih dalam dan luas sehingga tanaman lebih kuat dan lebih mampu menyerap hara tanaman dan air lebih banyak sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman meningkat.
    Daun memiliki mulut yang dikenal dengan nama stomata. Sebagian besar stomata terletak di bagian bawah daun. Stomata akan membuka ketika udara tidak terlalu panas sehingga air yang ada di permukaan daun dapat masuk ke dalam jaringan daun. Dengan sendirinya, unsur hara yang disemprotkan ke permukaan daun juga masuk ke dalam jaringan daun. Novizan (2008), kandungan unsur hara pada pupuk daun identik dengan kandungan unsur hara pada pupuk majemuk. Bahkan pupuk daun sering lebih lengkap karena ditambah oleh beberapa unsur mikro yang berpengaruh bagi perkembangan tanaman dan peningkatan hasil panen. Manfaat dari penggunaan pupuk daun diantaranya adalah untuk memenuhi kebutuhan unsur hara mikro dan makro secara langsung kedaun, membantu pembentukan zat hijau daun (klorofil), merangsang pertumbuhan tunas baru, merangsang pembentukan bunga dan buah, serta mencegah daun kuning dan rontok.
    Penyemprotan pupuk daun idealnya dilakukan pada pagi atau pada sore hari karena bertepatan dengan saat membukanya stomata. Prioritaskan penyemprotan pada bagian bawah daun karena paling banyak terdapat stomata. Menurut Lingga dan Marsono (2013), penyemprotan pupuk daun harus ditentukan dosisnya. Menentukan dosis yang tepat untuk masing-masing tanaman memang sulit, cara paling tepat adalah mengikuti petunjuk pada kemasannya. Setelah kepekatan larutan sudah ditaati pembuatannya, larutan pupuk tersebut harus disemprotkan dengan nosel (nozzle) yang cukup halus tetapi jangan sampai keluar sebagai kabut (mist). Penyemprotan diusahakan jangan terlalu dekat dengan tanaman agar pendistribusian pupuk dapat merata ke seluruh permukaan daun. Patokan seberapa banyak penyemprotan pupuk yaitu ketika daun sudah Nampak basah. Dua jam setelah penyemprotan jangan sampai terkena hujan karena akan mengurangi efektivitas penyerapan pupuk juga penyemprotan tidak disarankan ketika suhu udara sedang panas karena konsentrasi larutan pupuk akan cepat meningkat sehingga daun dapat terbakar.
    Kelompok 26 mendapat perlakuan untuk mengaplikasikan pupuk daun pada pekan ke-2 setelah penanaman. Pengaplikasian pupuk daun dengan melarutkan ke dalam air di dalam semprotan kemudian menyemprotkan ke bagian bawah daun jagung. Penyemprotan dilakukan secukupnya untuk seluruh jagung di dalam lahan jagung berukuran 2 x 1,8 m. Pemberian pupuk daun dicukupkan setelah daun sudah terlihat cukup basah. 
  Jagung merupakan tanaman yang menyerbuk silang secara alami. Penyerbukan buatan baik penyerbukan sendiri (persilangan dalam) atau penyerbukan silang adalah kegiatan yang sangat erat kaitannya dengan pemuliaan tanaman jagung.  Hartono dan Purwono (2010) mengungkapkan bahwa penyerbukan pada jagung terjadi apabila serbuk sari dari bunga jantan jatuh dan menempel pada rambut tongkol. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasanya dibantu dengan angin. Penyerbukan pada jagung umumnya penyerbukan silang (cross pollinated crop). Sangat jarang terjadi penyerbukan yang serbuk sarinya berasal dari tanaman itu sendiri. Oleh karena itu penyerbukan yang tepat adalah hal yang sangat penting, jika penyerbukan dilakukan dengan baik maka proses pembuahan sampai terbentuknya biji akan berjalan dengan baik pula yang pada akhirnya diperoleh hasil biji yang tinggi dan panen yang baik.
   Panen merupakan kegiatan akhir yang mengumpulkan hasil usaha tani dari lahan budidaya. Menurut Wahyudin (2016) Panen dilakukan ketika tongkol jagung sudah matang. Ciri-ciri tongkol matang adalah daun sudah mulai menguning, kelobot berwarna kekuningan, dan rambut tongkol berwarna coklat. Pemanenan dilakukan dengan cara mematahkan tangkai tongkol jagung. Lain halnya dengan Rukmana (2009) yang menyatakan bahwa penentuan panen jagung yang tepat tergantung pada tujuan penggunaan produksi. Jagung untuk keperluan konsumsi sebagai jagung rebus ataupun jagung bakar saat pemanenan yang tepat adalah pada stadium tongkol setengah tua, yakni tongkol berukuran maksimum, berbiji penuh, padat dan bila biji ditekan tampak bekas melekuk. Produksi jagung untuk skala komersial, panen tongkol jagung umumnya dilakukan setelah mencapai stadium tua atau matang secara fisiologis, karena biji-bijinya akan dikeringkan. Panen tongkol jagung stadium tua dapat dilakukan pada saat kadar air tinggi dan kadar air rendah. Panen tongkol jagung pada kadar air tinggi dilakukan segera saat tongkol menunjukkan stadium matang secara fisiologis. 
Perlakuan yang diberikan pada tanaman jagung yaitu pemberian pupuk daun dengan dosis sama namun dengan interval yang berbeda. Pengamatan yang dilakukan yaitu dengan mengamati pengaruh pemberian pupuk daun terhadap tinggi tanaman, berat segar akar, berat segar daun, berat kering akar, berat kering batang dan berat kering daun. Berdasarkan hasil dengan tingkat kepercayaan 95%, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk daun dengan dosis sama dan interval yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dikarenakan nilai signifikansi kurang dari 0.05 yaitu 0.047. Berdasarkan hasil dengan tingkat kepercayaan 95%, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk daun dengan dosis sama dan interval yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat segar akar dikarenakan nilai signifikansi lebih dari 0.05 yaitu 0.636. Berdasarkan hasil dengan tingkat kepercayaan 95%, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk daun dengan dosis sama dan interval yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat segar daun dikarenakan nilai signifikansi lebih dari 0.05 yaitu 0.705. Berdasarkan hasil dengan tingkat kepercayaan 95%, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk daun dengan dosis sama dan interval yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat kering akar dikarenakan nilai signifikansi lebih dari 0.05 yaitu 0.510. Berdasarkan hasil dengan tingkat kepercayaan 95%, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk daun dengan dosis sama dan interval yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat kering batang dikarenakan nilai signifikansi lebih dari 0.05 yaitu 0.985. Berdasarkan hasil dengan tingkat kepercayaan 95%, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk daun dengan dosis sama dan interval yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat kering daun dikarenakan nilai signifikansi lebih dari 0.05 yaitu 0.269.
     Pemberian pupuk daun berpengaruh pada tinggi tanaman sesuai dengan pernyataan Nath (2013), bahwa pemupukan merupakan cara yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan mutu tanah. Produktivitas tanaman disini ditekankan pada pertumbuhan akar, batang, dan daun. Tinggi tanaman masuk ke dalam kategori pertumbuhan batang sehingga terpengaruhi oleh adanya pemberian pupuk daun. Efek dari pemberian pupuk daun tersebut efektif pada 14 – 35 hst sebab pada masa itu tumbuhan masuk ke fase rawan dalam pertumbuhan, sehingga dengan pemberian pupuk daun membantu menunjang pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
    Indikator lain selain tinggi tanaman seharusnya juga terpengaruhi pupuk daun karena adanya proses transportasi zat pada tanaman, akan tetapi pada praktikum ini indikator selain tinggi tanaman menunjukkan tidak adanya pengaruh. Hal ini mungkin disebabkan proses penyiraman yang tidak kontinu setiap hari membuat serapan hara untuk diedarkan ke seluruh tubuh tumbuhan tidak optimal karena kandungan air yang sedikit. Berbeda dengan batang yang semakin tinggi atau terpengaruh pupuk daun, karena letak batang di dekat daun membuat hasil fotosintesis yang dimasak oleh daun melalui batang sebagai tempat awal peredaran hasil fotosintesis. 

4.2. Kacang Tanah
    Menurut Rochani (2009) kegiatan penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan  dilakukan dengan baik, yaitu  pada tahap penanaman harus memperhatikan waktu tanam, jarak tanam, dan cara menanam, sedangkan pada tahap pemeliharaan dilakukan pengairan, penyulaman, penyiangan, pemupukan, dan pemberantasan hama penyakit, serta pada tahap pemanenan dilakukan penentuan waktu yang tepat dan cara pengolahan hasil panen. Tahapan pemeliharaan tanaman kacang tanah dilakukan dengan menyiramin tanaman secara intensif selama satu minggu setelah penanaman, kemudian dilakukan penyiangan dan pendangiran untuk membersihkan gulma dan menggemburkan tanah.
     Menurut Hartono (2010) proses pemanenan harus dilakukan pada waktu yang tepat yaitu pada tingkat kematangan yang baik. Proses pemanenan tanaman kacang tanah dilakukan pada minggu ke-10 dan pada kacang tanah belum memasuki tingkat kematangan yang baik serta masih banyak polong yang muda maupun yang belum terbentuk. Hasil polong akan berkurang bila berada di tanah basa karena ukuran polong dan jumlah polong menurun. Jenis tanah Vertisol yang bertekstur berat (kandungan lempung tinggi), tanaman kacang tanah dapat tumbuh baik, akan tetapi pada saat panen banyak polong tertinggal dalam tanah sehingga mengurangi hasil yang diperoleh.
   Pengukuran tinggi tanaman pada kacang tanah dilakukan dengan menggunakan penggaris. Pengukuran tinggi dilakukan satu minggu sekali sejak tanaman ditanam sampai berbunga. Pengukuran tinggi diberhentikan apabila kacang tanah sudah muncul bunga karena pada saat itu kacang tanah sudah memasuki fase generatif. Menurut Purnawati (2012) pembentukan bunga tetap berlangsung pada saat tanaman memasuki fase pengisian biji. Selisih antara periode waktu berbunga dengan waktu panen menggambarkan periode pengisian biji.
     Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kacang tanah adalah iklim. Lahan yang diamati memiliki iklim yang tidak stabil yaitu intensitas curah hujan yang terdapat pada lahan Jumantono tersebut memiliki curah hujan yang rendah sehingga tanaman kacang tanah mengalami kekeringan. Faktor yang mempengaruhi lainnya adalah pemberian pupuk pada tanaman kacang tanah. Kacang tanah yang diamati mengalami pertumbuhan yang tidak optimal karena kacang tanah cenderung tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan kacang tanah pada lahan lain sehingga hasilnya tidak optimal. Menurut Pitojo (2010) kekurangan unsur fosfor menyebabkan tanaman kacang tanah kerdil, kurus, daun berukuran kecil dan berwarna hijau pucat, polong yang terbentuk sedikit dan hasil rendah. 
     Asroh (2010) menyatakan bahwa bintil akar pada kacang tanah akan bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sp akan menambah hasil fiksasi N, sehingga dapat merangsang pertumbuhan. Tanaman kacang tanah hanya membutuhkan sedikit pupuk organik karena sudah dapat menyerap N sendiri dengan bantuan bintil akar.Tanaman kacang tanah perlu di pupuk dengan pupuk organik untuk memberikan unsur P agar akar semakin tumbuh maksimal, sehingga kerja sama bintil akar dengan bakteri Rhizobium sp juga maksimal. Faktor  lain  yang  perlu  diperhatikan  dalam   teknis budidaya  jagung  adalah takaran dan frekuensi pemberian  pupuk. Hal ini disebabkan pada masa pertumbuhan vegetatif  kebutuhan  tanaman akan unsur hara cukup besar, maka cara pemberian  dan  frekuensi  pemberian  menjadi  hal  yang  tidak  dapat  dikesampingkan.
      Hidayat (2008) menyatakan bahwa pengaturan jarak tanam dengan kepadatan tertentu bertujuan memberi ruang tumbuh pada tiap-tiap tanaman agar tumbuh baik. Jarak tanam akan memengaruhi kepadatan dan efisiensi penggunaan cahaya, persaingan diantara tanaman dalam penggunaaan air dan unsur hara, sehingga akan memengaruhi produksi tanaman. Kerapatan tinggi menyebabkan tanaman akan semakin tumbuh dengan baik dan cepat karena tanaman saling berusaha mencari mencari sinar matahari yang lebih banyak. Kualitas cahaya yang jatuh yang jatuh pada tajuk tanaman yang semakin menutup, lebih banyak sinar inframerah, sehingga terjadi pemanjangan panjang. 
     Penanaman Kacang Tanah dimulai dengan menentukan letak lubang tanam sesuai dengan jarak tanam masing-masing kelompok. Kelompok 26 mendapatkan perlakuan J2 yaitu dengan mebuat jarak tanam untuk kacang tanah sebesar 25 x 20 cm yang mana terdapat 96 tanaman dalam satu petak. Pengaturan jarak tanam dengan kepadatan tertentu bertujuan memberi ruang tumbuh pada tiap-tiap tanaman agar tumbuh dengan baik 
     Hasil percobaan menunjukkan bahwa jarak tanam sangat berpengaruh pada tinggi tanaman kacang tanah. Jarak tanam 25 cm x 25cm dengan 72 tanaman termasuk jarak tanam dengan kerapatan rendah. Hasil dengan jarak tanam tersebut menunjukkan jika tinggi tanaman tidak terlalu baik, tanaman tidak dapat tumbuh maksimal. Tinggi tanaman sampel 1, 2, 3 berturut-turut adalah 12,5 cm, 12,5 cm, dan 13 cm. Jarak tanam memengaruhi berat berangkasan segar, berat polong isi, dan berat polong hampa. Hasil berat berangkasan segar sampel 1, 2, 3 berturut-turut adalah 19,78 gr, 21,90 gr, dan 22,10 gr. Hasil berat polong isi sampel 1, 2, 3 berturut-turut adalah 11,51 gr, 8,79 gr, dan 7,90 gr. Hasil berat polong hampa sampel 1, 2, 3 beerturut-turut adalah 1,82 gr, 1,01 gr, dan 2,35 gr. 
    Kasno dan Trustinah (2009) mengungkapkan bahwa, kacang tanah termasuk tanaman yang menyerbuk sendiri, yakni kepala putik diserbuki oleh tepung sari dari bunga yang sama dan penyerbukan terjadi beberapa saat sebelum bunga mekar (kleistogam). Bunganya tersusun dalam bentuk bulir yang muncul di ketiak daun, dan termasuk bunga sempurna, yaitu alat kelamin jantan dan betina terdapat dalam satu bunga. Bunga kacang tanah berbentuk seperti kupu-kupu, terdiri dari kelopak (calyx), tajuk atau mahkota bunga,benang sari (anteridium), dan kepala putik (stigma).Seperti halnya Kasno et al (2011) mengungkapkan bahwa, setelah terjadi persarian dan pembuahan, bakal buah akan tumbuh memanjang yang pertumbuhannya bersifat geotropik disebut ginofor. Ginofor terus tumbuh hingga masuk menembus tanah sedalam 2–7 cm, kemudian terbentuk rambut-rambut halus pada permukaan lentisel, di mana pertumbuhannya mengambil posisi horizontal. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai permukaan tanah dan masuk ke dalam tanah ditentukan oleh jarak dari permukaan tanah.
      Kacang tanah dapat dipanen setelah umur tertentu. Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek 3-4 bulan dan umur panjang 5-6 bulan. Sebelum panen dilakukan pencabutan beberapa tanaman contoh (sampel) sebagai pedoman menentukan saat panen yang paling tepat. Panen kacang tanah pada stadium polong belum tua menyebabkan penurunan produksi dan kualitas biji, yaitu berat polong turun drastis dan biji-bijinya menjadi keriput setelah dikeringkan. Sebalikanya, panen polong yang terlalu tua menyebabkan banyak biji mulai tumbuh dan banyak polong tertinggal dalam tanah pada waktu dicabut (Rukmana 1998).
      Menurut Dharmaputera et al (2004) ciri-ciri kacang tanah pada saat siap panen yaitu pada umur kacang sudah 90 hari, batang kacang tanah mengeras, daun-daun kacang berguguran dan berwarna kekuningan. Panen kacang tanah harus dilakukan pada saat musim kering supaya kacang tanah tidak membusuk. Waktu panen yang paling baik adalah pada siang hari saat cuaca cerah (tidak mendung). Apabila keadaan tanah padat dan kering, sehari sebelum panen sebaiknya disiram (diairi) agar menjadi gembur, sehingga memudahkan pencabutan (panen). Panen dilakukan dengan mencabut batang tanaman secara hati-hati agar polong-polongnya tidak tertinggal dalam tanah. Batang-batang tanaman hasi pencabutan dikumpulkan pada satu tempat yang mudah dijangkau untuk penanganan pascapanen berikutnya. Hasil panen pada pertanaman yang baik berkisar antara 1,5 – 2,5 ton polong kering per hektar, tergantung pada varietas dan teknologi budidayanya (Rukmana 1998).
      Kacang tanah dipanen dengan cara mencabutnya dari tanah dengan tangan, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari. Polong kacang tanah kemudian dilepaskan dari batangnya dengan tangan, kemudian dijemur lagi untuk menurunkan kadar airnya. Kacang tanah umumnya disimpan dalam bentuk polong karena lebih aman dari serangan hama. Teknik pemanenan yang bisa dilakukan ada beberapa cara, yang perlu diperhatikan adalah tingkat kekerasan tanah pada saat pencabutan. Usahakan tanah dibuat gembur agar lebih mudah saat dicabut. Selain itu, pisahkan polongnya dari akar dan biarkan sebentar terkena sinar matahari sebelum diangkut. 
     Berdasarkan hasil pemanenan yang telah diamati, bisa dilihat bahwa pada tabel Berat KeringDaun, Berat Kering Batang Berat Kering Akar menunjukkan angka signifikan masing-masing 0,173; 0,611; 0,293. Jadi bisa dikatakan bahwa perlakuan pupuk organik yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering daun, batang, dan akar. Hal ini menunjukkan bahwa unsur yang dihasilkan oleh pupuk organik belum dapat diserap tanaman secara optimal. Sesuai dengan yang dikatakan Rachmadani et al(2014), sifat bahan organik yaitu memperbaiki struktur tanah dan penyedia unsur hara yang dilepaskan secara bertahap. Hal ini disebabkan unsur hara dalam tanah masih terikat dalam bentuk senyawa kompleks yang tidak diserap langsung oleh tanaman. Namun pada tabel Berat Berangkasan Segar dan Berat berangkasan kering menunjukkan angka signifikan 0,56 dan 0,226 secara berurutan. Jadi bisa dikatakan juga bahwa perlakuan pupuk organik berpengaruh nyata terhadap berat berangkasan segar dan kering. Ini menunjukkan bahwa tanaman dapat menyerap pupuk organik secara optimal.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
  Berdasarkan praktikum Agroteknologi acara Penanaman, Pemeliharaan dan Panen dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Praktikum Penanaman, Pemeliharaan dan Panen dilaksanakan di Laboratorium Pertanian UNS di Desa Sukosari kecamatan Jumantono.
  2. Tanah diJumantono berjenis Alfisol dimana merupakan tanah masam dengan kandungan Al dan Fe yang cukup tinggi.
  3. Praktikum pada tanaman jagung dilakukan pengamatan pada perbedaan pemberian pupuk daun dengan variabel perbedaan umur tanaman, namun hal ini tidak memiliki pengaruh pada akar, batang, daun, dan tongkol tanaman jagung serta pengaturan jarak tanam pada tanaman kacang tanah. 
  4. Praktikum pada tanaman kacang tanah dilakukan perbedaan jarak tanam, hal ini berpengaruh terhadap perkembangan tubuh tanaman.

5.2. Saran
   Sebaiknya dalam praktikum Agroteknologi acara Penanaman, Pemeliharaan dan Panen,perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu antara lain:
  1. Praktikan diharapkan agar tetap teliti dan rajin merawat tanaman agar hasil data yang keluar dari proses seluruh praktikum sesuai teori dan dapat dipertanggungjawabkan nanti
  2. Pembagian waktu shift praktikum seharusnya berjalan dengan tepat waktu dan praktikum dapat selesai dengan cepat.
  3. Praktikum diharapkan tidak dilakukan terlalu pagi sekali karena hal tersebut menjadi tidak efektif dan banyak praktikan yang tidak datang tepat waktu.
  4. Praktikan seharusnya dijelaskan lagi bagaimana cara proses pemeliharaan tanaman yang baik agar tanaman tersebut tidak mati.

Posting Komentar

0 Komentar