Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Penyaringan, Dekantasi dan Rekristalisasi

Pemisahan dan Pemurnia : Penyaringan, Dekantasi dan Rekristalisasi

I. Tujuan
1. Memperkenalkan proses-proses dasar cara pemisahan dan pemurnian satu atau beberapa zat dari campuran.
2. Memperkenalkan beberapa sifat dasar materi atau zat melalui sifat fisika maupun kimia melalui beberapa reaksi kimia.

II. Dasar Teori
    Pemisahan dan pemurnian adalah proses pemisahan dua zat atau lebih yang saling bercampur serta untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau tercampur. Campuran adalah setiap contoh materi yang tidak murni, yaitu bukan sebuah unsur atau senyawa. Susunan suatu campuran tidak sama dengan sebuah zat, dapat bervariasi, campuran dapat berupa homogen dan heterogen (Ralph, 1996).
    Campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa melalui fisika atau kimia. Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan secara kimia suatu komponen atau lebih direaksikan dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan. Cara pemisahan campuran dapat dipisahkan berdasarkan wujud, jenis, dan sifat komponen yang terkandung di dalamnya (Syukri, 1999) :
1. Penyaringan (filtrasi) cara ini adalah pemisahan endapan dari larutan induknya. Sasarannya adalah agar endapan dan medium penyaring secara kuantitatif bebas dari larutan.
2. Dekantasi (pengendapan) merupakan proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan zat lain secara pengendapan didasarkan pada massa jenis yang lebih kecil akan berada dibagian bawah. Selain itu, zat terlarut (yang akan dipisahkan) diproses diubah menjadi bentuk yang tak larut, lalu dipisahkan dari larutan.
3. Rekristalisasi, teknik pemisahan dengan rekristalisasi berdasarkan perbedaan titik beku komponen. Perbedaan itu harus cukup besar, dan sebaiknya komponen yang akan dipisahkan berwujud padat dan yang lain cair pada suhu kamar.
    Proses penyaringan juga bisa digunakan untuk memisahkan campuran yang zat penyusunnya cairan dan padatan. Bedanya, ukuran padatan cukup kecil sehingga tidak mengendap didasar cairan, tetapi tersebar pada cairan. Jika campuran jenis ini dipisahkan dengan dekantir, maka padatan dan cairan tidak terpisah dengan baik. Untuk ini dilakukan penhyaringan. Penyaringan dilakukan dengan menuang campuran keatas kertas saring dari sebuah corong gelas. Kertas saring akan menahan padatan yang lebih besar daripada ukuran lubang saring. Padatan yang tertinggal pada kertas saring ini disebut residu. Sementara zat dengan ukuran partikel lebih kecil dari ukuran lubanng saring akan lolos melalui ketas saring. Zat yang dapat melewati kertas saring ini disebut filtrate (Watterling et al., 2017).
    Berdasarkan karakter partikel pencemar, unsur filtrasi adalah perembasan yang terbagi menjadi rembasan secara mekanik, artinya partikel pencemar yang lebih besar ukurannya dari pori media filter ditahan secara mekanik. Rembasan merupakan partikel yang lebih kecil (Ascott et al., 2016).
    Kristalisasi dari larutan terdiri dari dua fenomena yang berbeda, yaitu pembentukan inti kristalisasi dan pertumbuhan kristal. Baik nukleasi maupun pertumbuhan kristal memerlukan kondisi super saturnasi dari larutannya. Super saturnasi didefinisikan sebagai perbedaan antara konsentrasi aktual dalam larutan dan konsentrasi dimana fasa cair secara termodinamik berkesetimbangan dengan fasa padat (Mohanaiah et al., 2013).

III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
1. Corong kaca
2. Gelas beker
3. Cawan arloji
4. Cawan penguapan
5. Pengaduk
6. Gunting
7. Kertas saring
8. Timbangan
9. Penggaris
10. Bolpoin
11. Selotip
12. Sendok
13. Gelas plastik

3.2 Bahan
1. Garam dapur 5 gr
2. Aquades 65 ml
3. CuSO4 2,01 gr
4. Bubuk kapur 5 gr
5. Etanol 5 ml

3.3. Gambar Alat dan Bahan

IV. Cara Kerja
4.1 Penyaringan dan penguapan
4.1.1 Filtrasi
4.1.2 Dekantasi
4.1.3 Rekristalisasi
4.2 Kromotografi Lapis Tipis (KLT)
Diskripsi
1. Penyaringan dan Pemurnian
a. Garam Dapur
    Lima gram garam dapur yang kotor ditimbang dan dilarutkan dengan aquades 30 ml (diusahakan supaya semua garam larut). Digunakan akua destilasi atau reverse osmosis untuk melarutkan garam tersebut. Kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring dalam corong penyaringan dan filtrat ditampung ke dalam cawan penguapan yang bersih. Filtran dalam cawan penguapan kemudian diuapkan. Hasil dibandingkan dengan garam dapur awal.
b. Bubuk Kapur
    Lima gram bubuk kepur dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi 25 ml aquades, kemudian diaduk dan dibiarkan sampai kapur campuran terpisah. Sentrat sampai dingin dan tanpa digoyang. Kristal yang terbentuk diamati.
c. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
    Kertas saring digunting dengan ukuran 3x10 cm. Kemudian kertas bagian atas dilipat dengan pensil dan direkatkan dengan menggunakan selotip. Kertas saring yang telah dilipat dimasukkan ke dalam gelas sehingga ujung bawahnya tepat menyentuh dasar gelas dan tidak terlipat. Selanjutnya kertas saring dikeluarkan, lalu menggambar garis mendatar kurang lebih 3 cm dari ujung atas dan bawah menggunakan penggaris dengan pensil. Tepat digaris bagian bawah kertas, dibuat titik-titik dengan tinta warna 9beri jarak antara titik). Setelah itu mengisi gelas dengan campuran air dan etanol dengan perbandingan 1:1 sampai kurang lebih 1,5 cm dari dasar gelas. Setelah selesai, kertas saring yang telah digarisi dan diberi tinta dimasukkan ke dalam gelas,yang harus diperhatikan adalah jangan sampai tinta pena atau spidol menyentuh langsung pelarut. Kemudian proses elusi (naiknya pelarut) dibiarkan sampai tepat batas atas kertas. Langkah terakhir kertas saring diangkat dan menentukan nilai Rf masing-masing komponen dalam tinta.

V. Hasil Percobaan dan Pembahasan
5.1 Data Hail Percobaan
a. Penyaringan (Filtrasi)

b. Dekantasi

c. Rekristalisasi

d. Kromatografi Lapis Tipis

5.2 Pembahasan
    Pada percobaan pertama, filtrasi garam dapur kotor yang dilarutkan ke dalam 30 ml aquades. Garam dapur kotor yang dilarutkan sejumlah 5 gram garam dapur. Komponen utama garam dapur mengandung Natrium Klorida dengan berbagai pengotor umumnya ion-ion yang semuanya mudah larut dalam air. Pada percobaan ini dihasilkan garam yang lebih bersih dari sebelumnya. Hal ini disebabkan karena adanya proses filtrasi pada larutan sebelum diuapkan. Pada proses filtrasi ion-ion pengotornya akan tertinggal pada kertas saring, sehingga didapatkan larutan garam yang lebih bersih. Setelah NaCl kotor dikristalisasikan dengan penguapan lalu dibiarkan dingin akan dihasilkan kristal. Hasil dari proses rekristalisasi ini didapatkan garam yang lebih halus dan bersih, hal ini disebabkan proses filtrasi garam sebelum pemanasan dan hilangnya ion-ion pengotor pada saat dipanaskan. Hal ini juga menyebabkan massa sesudah reaksi berkurang. Dan hasil rendemannya 104,8%.
    Pada percobaan kedua, dekantasi larutan kapur (CaCO₃). Mula-mula 5 gram bubuk kapur dilarutkan ke dalam 25 ml aquades yang kemudian menghasilkan larutan yang berwarna putih keruh. Warna putih keruh disebabkan oleh bubuk kapur berdifusi kesemua molekul aquades. Pada percobaan dengan dekantasi berfungsi untuk memisahkan sentrat dari endapan kapur. Sehingga dihasilkan larutan yang jernih karena endapan telah dipisahkan dengan cara dekantasi.
    Pada percobaan ketiga, yaitu rekristalisasi Tembaga (II) Sulfat (CuSO₄). Mula-mula 2,01 gram CuSO₄ dilarutkan ke dalam 10 ml aquades menghasilkan larutan yang berwarna biru. Setelah semua CuSO₄ tercampur dilakukan proses penguapan. Setelah melakukan penguapan larutan larutan campuran CuSO₄ dan aquades didiamkan, seharusnya akan membentuk kristal yang berwarna biru lebih cerah, namun pada percobaan kali ini tidak terbentuk kristal karena proses pemanasan kurang lama, sehingga setelah ditunggu beberapa menit masih berwujud larutan berwarna biru.
    Pada pecobaan keempat, yaitu Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Warna yang diuji coba adalah warna ungu, hijau dan orange. Pada percobaan ini diperoleh Rf tiap warba yaitu Rf hijau yaitu 1, Rf ungu yaitu 0,625, Rf orange yaitu 0,962. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan teknik pemisahan berdasarkan sifat adsorpsi. Warna mempengaruhi terhadap nilai Rf. Warna sampel sebelum dan sesudah dari titik awal juga mempengaruhi terhadap nilai Rf semakin besar. Pada warna hijau terjadi perubahan dari hijau ke kuning cerah. Warna orange, dari orange menjadi kuning cerah. Warna ungu, dari ungu menjadi pink terang.

VI. Kesimpulan
1. Ada beberapa cara atau proses pemisahan suatu zat atau beberapa zat dari campurannya, diantaranya adalah dengan filtrasi, dekantasi, dan rekristalisasi.
2. Pada saat suatu zat atau beberapa zat dipisahkan dari campurannya, terjadi beberapa perubahan sifat dari sifat aslinya. Mulai dari warna dan tekstur. Selain itu massa jenis juga berubah karena proses kimia yang berlangsung. Larutan garam yang difiltrasi menghasilkan garam kristal yang teksturnya lebih halus dan warnanya lebih putih dan bersih.

Daftar Pustaka
Ascott, M.J., Lapworth, D.J., Gooddy,D.C, Sage,R.C. and Karapanos, I., 2006. Impacts of extreme flooding on riverbank filtration water quality. Science of the Total Enviroment, 554, pp.89-101.

Mohanaiah,P., Sathyanarayana,P. and Gurukumar,L., 2013. Image Texture feature extraction using GLCM approach. International Journal of Scientific and Research Publications, 3(5), pp.1.

Ralph, Petrucci. 1996. Kimia Dasar Jilid I. Jakarta : Erlangga.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar I. Bandung : ITB.

Wetterling, J.,Mattsson, T. and Thelianoter, H., 2007. Modelling filtration properties : The effect of surface properties on microcystalline cellulose. Chemical Engineering Science, 165, pp.14-24.

Lampiran


Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Penyaringan, Dekantasi dan Rekristalisasi"