Laporan Praktikum Penentuan Komposisi Magnesium Hidroksida Dan Alumunium Hidroksida Dalam Obat Maag

Penentuan Komposisi Magnesium Hidroksida Dan Alumunium Hidroksida Dalam Obat Maag


I. Tujuan
    Menentukan komposisi Al(OH)₂ dan Mg(OH)₂ dalam obat maag.

II. Dasar Teori
    Magnesium hidroksida adalah suatu senyawa organik dengan rumus kimia Mg(OH)₂. Biasanya magnesium terdapat dalam bentuk klorida, silikat, hidrat, oksida, sulfat, atau karbonat. Karakteristik dari Magnesium Hidroksida yaitu berbentuk serbuk putih, tidak berasa, mengabsorbsi CO₂ secara perlahan dari udara, tidak larut dalam air; alkohol; kloroform, dan eter namun larut dalam asam encer. Magnesium Hidroksida adalah antasida yang digunakan bersama-sama dengan Alumunium Hidroksida untuk menetralisis asam lambung. Reaksi Magnesium Hidroksida di dalam lambung adalah (Keenan, 1984) :
Mg(OH)₂ + 2HCl → MgCl₂ + 2H₂O
    Antasida adalah golongan obat yang digunakan dalam terapi terhadap akibat yang ditimbulkan oleh asam yang diproduksi lambung. Secara alami lambung memproduksi suatu asam yang disebut asam klorida yang berfungsi untuk membantu proses pencernaan protein. Asam ini secara alami mengakibatkan kondisi isi perut menjadi asam, yakni antara kisaran pH 2-3. Lambung, usus dan esophagus sendiri (yang terdiri dari protein) dilindungi dari kerja asam melalui beberapa mekanisme (Syukri, 1999).
    Interaksi antara Cyprofloxacin dengan antasida yang dapat menyebabkan efektivitas dari kuionolon dapat diturunkan. Interaksi ini signifikansinya 2. Efeknya akan menurunkan efek farmakologinya. Pengentasannya dengan memberi jeda waktu pemberian. Jika antasida ingin diminum lebih dahulu diberi jeda waktu 4-6 jam, namun bila cyprofloxacinnya diberi lebih dahulu bisa diberi jeda waktu 2 jam dengan antasida. Onsetnya tergolong cepat, tingkat keparuhannya tergolong moderat dan dokumennya probable (Oktaviani et al., 2012).
    Meskipun data titrasi yang tersedia tampaknya cukup untuk menyelidiki jumlah dan onset presfisis aspal dalam berbagai sampel, tidak ada metode yang diusulkan untuk memeriksa keandalannya. Titrasi ada beberapa macam bergantung jenis reaksinya. Misal titrasi asam basa, titrasi permanganometri, titrasi argentometri, dan titrasi rodometri. Perbandingan antara berbagai data titrasi sebagai metode untuk memeriksa kualitas dari dataset yang sesuai mungkin konservatif karena perilaku yang tidak sama (Mohammadi et al., 2012).
    Semua aspek biologi dan kimia didorong oleh interaksi molekular. Banyak metode yang berbeda telah dikembangkan untuk menganalisis asosiasi molekul, tetapi kalorimeter titrasi isotermal adalah yang tepat dalam kemampuannya memberikan informasi kuantitatif dalam percobaan. Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di dalam larutan. Dalam titrasi umumnya digunakan indikator untuk mengetahui titik ekuivalen (Ghai et al., 2011).

III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
a. Labu ukur 100 ml 1 buah.
b. Erlenmeyer 100 ml 3 buah.
c. Erlenmeyer 25 ml 1 buah.
d. Pipet tetes 1 buah.
e. Buret 25 ml 1 buah.
f. Corong 1 buah.
g. Gelas ukur 100 ml 1 buah.
h.Gelas beker 250 ml 1 buah
i. Statif dan klem 1 buah.

3.2 Bahan
a. Sampel obat maag 4 ml.
b. Akuades secukupnya.
c. Larutan NaOH 0,1 N. secukupnya.
d. Larutan HCl 20 ml.
e. Indikator PP.
f. Indikator MO.

IV. Cara Kerja
4.1 Standarisasi Larutan Asam
    Larutan HCl 0,1 N diambil 10 ml dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan indikator PP dan MO masing-masing 2 tetes. Kemudian dilakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N terhadap larutan. Dicatat volume NaOH yang diperlukan. Diulangi 3 kali percobaan. Ditentukan kenormalan larutan asam.

4.2 Penentuan Kadar Basa dalam obat maag
    Larutan sampel sebanyak 4 ml dimasukkan ke labu ukur 100 ml dan ditambahkan akuades hingga batas. Kemudian diambil 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan 5 ml larutan asam. Kemudian ditambahkan 1 tetes indikator MO. Dilakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N. Dicatat volume NaOH 0,1 N yang diperlukan. Diulangi 3 kali percobaan. Dihitung kadar basa dalam obat maag.

V. Data Percobaan
-

VI. Analisa
    Percobaan Penentuan Komposisi Magnesium Hidroksida dan Alumunium Hidroksida dalam Obat Maag memiliki tujuan untuk menentukan komposisi Al(OH)₂ dan Mg(OH)₂ dalam obat maag. Prinsip dari percobaan ini adalah reaksi netralisasi, dilakukan dengan metode asidimetri (penentuan kadar suatu larutan basa dengan larutan standar asam) dan alkalimetri (penentuan kadar suatu larutan asam dengan larutan standar basa), kedua titrasi ini termasuk ke dalam jenis titrasi balik yaitu jenis titrasi menganalisa sampel (obat maag cair) dengan suatu pereaksi berlebih yang telah diketahui konsentrasinya dengan pasti (NaOH 0,1 N), kemudian sisa dari pereaksi tersebut dititrasi dengan menggunakan larutan baku (HCl).
    Reaksi yang terjadi pada percobaan ini sebagai berikut :
Mg(OH)₂₍𝑠₎ + 2HCl⁣₍𝑎𝑞₎ → MgCl₂₍𝑎𝑞₎ + 2H₂O₍𝑙₎
Al(OH)₃₍𝑠₎ + 3HCl⁣₍𝑎𝑞₎ → AlCl₃₍𝑎𝑞₎ + 3H₂O₍𝑙₎
Indikator yang digunakan pada percobaan ini adalah indikator PP dan MO. Indikator PP dan MO merupakan senyawa yang dapat berubah warna oleh perubahan pH larutan dimana dapat terlihat ketika titik ekuivalen titrasi. Perubahan warna menandakan bahwa larutan terseut netral setelah dilakukan titrasi. Perubahan warna juga terjadi karena larutan sampel obat maag yang telah direaksikan dengan HCl kemudian ditetesi indikator PP dan MO akan mengalami ionisasi sehingga pada saat titrasi NaOH akan berubah warna menjadi orange.
    Percobaan pertama yang dilakukan adalah standarisasi larutan asam, yang diperoleh volume NaOH yang pertama sebesar 10,2 ml, yang kedua sebesar 10,5 ml, dan yang ketiga sebesar 10,5 ml, diperoleh volume rata-rata sebesar 10,4 ml. Dari data yang didapatkan dari percobaan standarisasi larutan asam oleh NaOH dengan konsentrasi 0,096 M. Berdasarkan literatur, konsentrasi NaOH yang digunakan sebesar 0,1 M. Terdapat perbedaan dari percobaan dan literatur, hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu pada saat titrasi kurang teliti dan bisa dikatakan larutan kelebihan NaOH sehingga warnanya lebih orange, selain itu HCl yang sudah dicampur dengan indikator sudah menguap sehingga volumenya berkurang.
    Percobaan kedua yang dilakukan adalah penentuan kadar basa dalam obat maag. Diperoleh volume NaOH yang digunakan sebanyak 2,6 ml, 1,6 ml, dan 3 ml. Volume larutan 2,6 ml dan 3 ml terdapat NaOH berlebih yang mengakibatkan warna orange lebih tajam. Diperoleh volume rata-rata sebesar 2,8 ml. Berdasarkan data dan perhitungan diperoleh mol ekuivalen[OH⁻] sebesar 1,15 mmol, kadar Mg(OH)₂ sebanyak 31,52 mg/4 m, kadar Al(OH)₃ sebesar 47,28 mg/4 ml. Berdasarkan literatur yang ada kandungan Al(OH)₃ dan Mg(OH)₃ dalam sampel adalah 200 mg/5 ml. Terdapat perbedaan hasil dari percobaan dan literatur dikarenakan NaOH pada saat titrasi berlebihan dan kurangnya teliti praktikan dalam pembacaan buret.

VII. Kesimpulan
    Percobaan kali ini penentuan kandungan basa Mg(OH)₂ dan Al(OH)₂ pada percobaan obat mag dilakukan secara titrasi ini didapatkan kandungan basa yaitu Mg(OH)₂ 31,25 mg/4 ml dan Al(OH)₂ 47,28 mg/ 4 ml.

VIII. Daftar Pustaka
Ghai, R., Falconer, R. J., & Collins, B. M. (2012). Applications of isothermal titration calorimetry in pure and applied research—survey of the literature from 2010. Journal of Molecular Recognition25(1), 32-52.

Keenan.1984.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga.

Mohammadi, A. H., Eslamimanesh, A., Gharagheizi, F., & Richon, D. (2012). A novel method for evaluation of asphaltene precipitation titration data. Chemical Engineering Science78, 181-185.

Oktaviani, Z., Lazuardi, L., & Kusnanto, H. (2012). PRESCRIBING DATA ANALYSIS BASED ON ELECTRONIC PRESCRIPTION IN COMMUNITY HEALTH CENTER IN GUNUNGKIDUL. JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice)2(4), 220-224.

Syukri.1999.Kimia Dasar II. Jakarta:Erlangga.

Posting Komentar

0 Komentar