Laporan Praktikum Penentuan Kadar Aspirin dan Kadar Kafein dalam Tablet

Penentuan Kadar Aspirin dan Kadar Kafein dalam Tablet

I. Tujuan
    Menentukan kadar aspirin dan kadar kafein dalam tablet.

II. Dasar Teori
    
    Aspirin adalah jenis obat turunan dari saksikat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik, antipiretik, dan anti inflamasi. aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. aspirin dibuat dengan cara eksterifikasi, dimana bahan aktif dari aspirin yaitu asam salsilat direaksikan dengan asam asetat anhidrat. pada pembuatan reaksi eksterifikasi ini dibantu oleh katalis ini tidak terlalu berefek, maka bisa dilakukan pemanasan (Anwar,1996).
    Aspirin tidak hanya memiliki manfaat, namun aspirin juga memiliki efek samping, diantaranya seluruh pencernaan, pendarahan usus dan gejala telinga berdering. aspirin juga dapat menyebabkan sindrom reye jika digunakan pada anak-anak. sindrom reye ini yaitu kerusakan pada mitokondria liver sehingga tidak mampu mengubah timbunan glikogen menjadi glukosa. dalam dosis tinggi aspirin dapat menyebabkan kematian. kadar mematikan aspirin adalah LD 50 1,1 g/kg atau 1,1 gram aspirin untuk setiap 1 kg berat tubuh suatu organisme (Rainford, 2004).
    Kafein adalah suatu senyawa organik yang mempunyai nama lain yaitu tein. Kristal kafein dalam air berupa jarum-jarum bercahaya. Bila tidak mengandung air, kafein menyublim pada suhu yang lebih rendah. Kafein mudah larut dalam air panas dan kloroform, tetapi sedikit larut dalam air dingin dan alkohol (Nehlig et al, 1992).
    Salah satu tumbuhan yang mengandung kafein terdapat pada biji kopi. Kopi diketahui mengandung senyawa yang memiliki efek. Kafein dapat merugikan jika digunakan dalam jumlah yang banyak, tetapi kafein juga dapat memberikan efek stimulasi sistem saraf kerja jantung dan pernapasan. Tidak hanya pada kopi, kafein juga terdapat pada teh, biji kelapa, dan buah kola. Kadar kafein dalam biji kopi yaitu 0,5% (Ramalakshmi and Raghavan, 1999).
    Kafein merupakan alkaloid yang tergolong turunan dari puring dalam keluarga methylxanthine bersama-sama senyawa terfilin teobrumin. Pada keadaan awal kafein adalah serbuk putih yang pahit. Nama sistematik kafein adalah 1,3,7 - trimetil xanthine dan 3,7 - dihidro - 1,3,7 - trimetil - 1 - H - puring - 2,6 - diode. Kafein diproduksi tanaman sebagai pestisida alami untuk pertahanan diri terhadap serangga yang memakan tanaman tersebut (Fredholm et al, 1999).

III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
1. Lumpang Porselin 1 buah
2. Alat pemanas 1 buah
3. Erlenmeyer 4 buah
4. Gelas ukur 2 buah
5. Labu ukur 1 buah
6. Statif beserta klem 1 buah
7. Buret 1 buah
8. Pipet tetes 1 buah
9. Cawan petri 1 buah
10. Kertas saring 1 buah
11. Corong kaca 1 buah

3.2 Bahan
1. Tablet yang mengandung aspirin 0,5 gram
2. Indikator PP 6 tetes
3. Akuades 5 ml
4. Larutan iodida 20 ml
5. Larutan NaOH 0,1 N
6. Larutan Na₂S₂O₃ 0,1 N
7. Larutan H₂SO₄ 5 ml 10%
8. Larutan kanji 20 tetes
9. Etanol 50 ml
10. Sampel kafein (bubuk teh) 0,5 gram
11. Akuades secukupnya

IV. Cara Kerja
4.1 Penentuan Kadar Aspirin
    Tablet aspirin yang telah dihaluskan dengan lumpang porselin, diambil 0,5 gram dan diletakkan di cawan. Kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Cawan dibilas dengan 25 ml etanol, Kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Larutan dikocok selama 5 menit dan dipanaskan hingga mendidih. Kemudian diangkat dan ditunggu hingga dingin. Diambil 5 ml larutan dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml. Ditambahkan 5 ml akuades dan indikator PP 2 tetes. Dilakukan titrasi dengan NaOH 0,1 M hingga larutan berubah warna menjadi merah muda. Dicatat volume NaOH yang diperlukan. Kemudian diulangi langkah diatas sebanyak 3 kali.

4.2 Penentuan Kadar Kafein
    Sampel diambil 0,5 gram dan ditaruh di cawan. Kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan ditambhakan 25 ml etanol. Dikocok selama 10 menit kemudian ditambahkan 20 ml larutan iod 0,1 M dan 5 ml H₂SO₄ 10% ke dalam erlenmeyer. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. Erlenmeyer dibilas dengan akuades dan dimasukkan ke labu ukur hingga batas. Dikocok agar homogen dan didiamkan selama 5 menit. Disaring dengan kertas saring ke dalam erlenmeyer 100 ml. Diambil filtrat sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer 100 ml. Diambil filtrat sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer 100 ml dan ditambahkan 20 tetes larutan kanji. Dilakukan titrasi sampai warna berubah menjadi kuning dengan Na₂S₂O₃ 0,1 M. Dicatat volume Na₂S₂O₃ 0,1 M yang diperlukan. Kemudian diulangi 3 kali langkah diatas.

V. Data Percobaan
-

VI. Analisa
    Percobaan penentuan kadar aspirin dan kadar kafein dalam tablet memiliki tujuan menentukan kadar aspirin dan kadar kafein dalam tablet. Percobaan ini memiliki prinsip yaitu dengan menggunakan titrasi secara iodometri atau disebut dengan titrasi tidak langsung.
    Pengujian kandungan aspirin dan kafein menggunakan titrasi. Dimana zat yang akan dianalisis dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya. Lalu konsentrasi titran dihitung. Reaksi harus berlangsung cepat kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopar, 1990).
    Prinsip dari titrasi asam basa adalah dengan menggunakan larutan yang disebut titran yang dilepaskan dari perangkat gelas yang disebut buret. Larutan yang digunakan bisa asam maupun basa. Titik dalam titrasi ini dimana titran yang telah ditambahkan cukup untuk bereaksi secara tetap dengan senyawa yang diperlukan disebut titik ekuivalen. Titik ini sering ditandai dengan adanya perubahan warna senyawa yang disebut indikator (Satrohamidjojo, 2005).
    Fungsi penambahan etanol pada percobaan ini yaitu untuk membersihkan sisa-sisa serbuk kafein dan aspirin pada cawan, mensterilkan larutan dan mempercepat reaksi. Fungsi penambahan bahan iod pada kafein yaitu untuk mengetahui kadar kafein dan sebagai aksidator. Penambahan indikator PP dalam aspirin berfungsi mendeteksi larutan tersebut netral. Larutan kanji dalam kafein digunakan untuk uji kepekaan terhadap iod, dan fungsi penambahan akuades yaitu untuk melarutkan aspirin dan kafein agar lebih mudah bereaksi.
    Percobaan pertama yang dilakukan yaitu penentuan kadar kafein. Pada penentuan kadar kafein gterjadi perubahan warna dri kuning kecoklatan menjadi biru kehitaman setelah ditetesi larutan kanji. Kemudian setelah dititrasi, warna larutan dari biru kehitaman menjadi coklat muda setelah bereaksi Na₂S₂O₃. terjadi perubahan warna disebabkan karena pereaksi (Na₂S₂O₃) lebih kuat dibandingkan dengan larutan kanji sehingga mengakibatkan larutan kanji terdesak keluar dari reaksi. dari percobaan yang sudah dilakukan diperoleh kadar kafein sebesar 62,08% didalam teh. sedangkan berdasarkan literatur kadar kafein didalam teh 2- 4%. hal ini terjadi karena kurang homogennya larutan dan kurang teliti dalam pembacaan pada skala buret.
    Pecobaan kedua yang dilakukan yaitu penentuan kadar aspirin. pada penentuan kadar aspirin terjadi perbuhan warna dari bening menjadi merah muda karena tablet sampel bereaksi dengan NaOH. dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh kadar aspirin sebesar 22,5% dalam bodrexin. berdasarkan literatur kadar aspirin dalam bodrexin yaitu 80 mg/ tablet. hal ini dapat terjadi karena pada saat melakukan titrasi dengan NaOH, diperoleh warna merah muda yang tajam atau berwarna keunguan yang bisa dikatakan kelebihan NaOh dan kurang telitinya pembacaan volume NaOH yang diperlukan.

VII. Kesimpulan 
    Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada penentuan kadar aspirin digunakan titrasi secara iodimetri sedangkan pada penentuan kadar aspirin digunakan titrasi secara iodiometri. didapatkan kadar aspirin sebesar 22,5% sedangkan kadar kafein sebesar 62,08%. 

VIII. Daftar Pustaka
Anwar.1996. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.

Fredholm, B. B., Bättig, K., Holmén, J., Nehlig, A., & Zvartau, E. E. (1999). Actions of caffeine in the brain with special reference to factors that contribute to its widespread use. Pharmacological reviews51(1), 83-133.

Khopar,S.1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Erlangga.

Nehlig, A., Daval, J. L., & Debry, G. (1992). Caffeine and the central nervous system: mechanisms of action, biochemical, metabolic and psychostimulant effects. Brain Research Reviews17(2), 139-170.

Rainford. 2004. Aspirin dan Narkoba. Jakarta  Erlangga.

Ramalakshmi, K., & Raghavan, B. (1999). Caffeine in coffee: its removal. Why and how?. Critical reviews in food science and nutrition39(5), 441-456.

Satrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Posting Komentar

0 Komentar