Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Pemisahan Senyawa Asam Benzoat dan Naftalena

Pemisahan Senyawa Asam Benzoat dan Naftalena

I. Tujuan
    Memisahkan asam benzoat dan naftalena dengan metode ekstrasi.

II.  Dasar Teori
    Ekstrasi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan. Ekstrasi menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) diantara dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstrasi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih, baik untuk zat organik ataupun anorganik, untuk analisis makro maupun mikro. Ekstrasi terbagi atas dua yaitu ekstrasi padat-cair (leaching) dan ekstrasi cair-cair (ektrasi pelarut). Ekstrasi padat-cair yaitu ketika bahan ekstrasi dicampur dengan pelarut, maka pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak. Sedangkan ekstrasi cair-cair (ekstrasi pelarut) adalah proses pemindahan suatu komponen campuran cairan dari suatu klarutan ke cairan yang lain (Sykes,1989).
    Ekstrasi dapat digunakan untuk memisahkan solute dalam pelarut A dengan menggunakan pelarut B. Pada saat penambahan pelarut, solute akan membagi diri antara dua pelarut yang tak saling bercampur tersebut. Pada saat kesetimbangan terdapat hubungan antara konsentrasi solute dalam dua pelarut tersebut. Hal ini sesuai dengan Hukum Distribusi yang dinyatakan oleh Nerst dan dirumuskan sebagai Kd = Ca/Cb, dimana Kd adalah tetapan distribusi, dan Ca serta Cb adalah konsentrasi solute masing-masing dalam solvent A dan B. Proses ekstrasi dilakukan secara berulangkali akan memberikan tingkat efisien yang lebih tinggi daripada ekstrasi satu kali, meskipun volume yang digunakan dalam pelarut sama (Cairns,2004).
    Ekstrasi adalah metode pemisahan suatu komponen solute (cair) dari campurannya menggunakan sejumlah pelarut sebagai tenaga pemisah. Tujuan dari ekstrasi adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisla. Proses pengektrasian komponen kimia dalam sel tanaman melalui mekanisme pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel. Jenis ekstrasi dan cairan mana yang sebaiknya digunakan sangat tergantung dari kelarutan bahan kandungan serta stabilitasnya. Supaya dihasilkan ekstrak dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi, maka digunakan etanol atau aseton dengan perbandingan volume air yang sebanding (Dewanti dan Wahyudi, 2011).
    Teknik ekstrasi pelarut biasa akan memerlukan jumlah ekstraktan yang banyak dan memerlukan waktu yang cukup lama. Teknik pemisahan yang masih berkembang hingga kini adalah teknik yang berdasarkan membran cair. Teknik emulsi membran cair dikenal sebagai sistem emulsi ganda. Teknik ini memberikan jangkauan aplikasi yang luas dan potensial karena karakteristiknya, seperti kemudahan dalam pengoperasiannya, biaya operasional yang relatif lebih murah dan efisien (tahap etraksi dan etraksi balik terjadi dalam satu tahap) dengan keselektifan yang tinggi, serta memerlukan waktu ekstrasi yang cepat (Alam dkk., 2014).
    Ekstrasi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) di antara dua fasa air yang tidak saling bercampur. Teknik ekstrasi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih baik untuk zat organik maupun zat anorganik. Cara ini dapat digunakan untuk analisis makro maupun mikro. Melalui proses ekstrasi, ion logam dalam pelarut air ditarik keluar dengan suatu pelarut organik (fasa organik) (Purwani dkk., 2008).

III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
1. Corong pemisah 250 ml 1 buah.
2. Gelas beker 100 ml 2 buah.
3. Gelas beker 250 ml 1 buah.
4. Gelas ukur 100 ml 1 buah.
5. Erlenmeyer 2 buah.
6. Spatula 1 buah
7. Pipet 1 buah
8. Corong 1 buah

3.2 Bahan
1. Asam Benzoat 1,5 gram.
2. Naftalena 1,5 gram.
3. Dietil eter 15 ml.
4. NaOH 1,5 M 10 ml.
5. HCl pekat 1,5 ml.
6. Akuades 7,5 ml.
7. NaCl jenuh 7,5 ml.

IV. Cara Kerja
    Sebanyak 1,5 gram asam benzoat dan naftalena dimasukkan ke dalam erlenmeyer berukuran 100 ml dan ditambahkan dengan 15 ml dietil eter. Campuran tersebut dilarutkan sehingga didapat suatu larutan yang benar-benar tercampur. Campuran dipindahkan ke dalam corong pemisah, er;enmeyer dibilas dengan sedikit eter dan ditambahkan ke dalam corong pisah. Sebanyak 5 ml akuades dituangkan ke dalam corong pisah dan diperhatikan mana lapisan organik dan mana lapisan air. Kemudian 10 ml NaOH 1,5 M ditambahkan ke dalam corong pisah. Campuran diekstraksi (kocok) secara menyeluruh dengan sesekali kran dibuka untuk membuang gas yang tertimbun. Diulangi beberapa kali, kemudian lapisan bawah dipisahkan ke dalam labu erlenmeyer (diberi label flask A), sebanyak 25 ml akuades ditambahkan ke dalam corong pisah dan campuran di ekstrak seperti sebelumnya.
    Sejumlah air ada dalam lapisan eter dan dapat dihilangkan dengan dilakukannya ekstrasi dengan larutan jenuh natrium klorida. Sebanyak 7,5 ml larutan jenuh ditambahkan ke dalam corong pisah, campuran dikocok secara menyeluruh, kemudian lapisan air dipisahkan. Lapisan eter dituangkan dari atas corong pemisah ke dalam labu erlenmeyer berukuran 100 ml (diberi label flask B). Natrium sulfat anhidrous ditambahkan ke lapisan eter sampai beberapa berputar-putar dengan bebas.
    Sebanyak 1,5 ml larutan asam klorida pekat dituangkan ke dalam gelas beker. Isi flask A diasamkan dengan ditambahkan beberapa tetes HCl. pH larutan diuji dengan kertas indikator alkacid sampai pH 2 atau lebih rendah. Labu erlenmeyer yang berisi campuran didinginkan. Selanjutnya, produk yang terjadi disaring. Setelah itu, dicuci beberapa kali dengan akuades dan produk dikeringkan.

V. Analisa
    Pada percobaan kali ini berjudul ekstrasi : pemisahan senyawa asam benzoat dan naftalena yang memiliki tujuan untuk memisahkan asam benzoat dan naftalena dengan metode ekstrasi. Prinsip dari percobaan ini adalah dengan menggunakan prinsip dari kelarutan suatu zat, yang mana suatu senyawa kurang larut terhaap pelarut yang satu tetapi sangat larut dengan pelarut lain. Biasanya air digunakan sebagai pelarut polar, pelarut lainnya adalah pelarut yang tidak bercampur dengan air. Syarat pelarut ini adalah memiliki titik didih yang jenuh lebih rendah dari senyawa tereksitasi dan tidak mengubah karakteristiknya. Ekstrasi yang digunakan pada percobaan ini adalah ekstrasi cair-cair. Yang dimaksud dengan ekstrasi cair-cair adalah proses pemisahan suatu komponen campuran cairan dari suatu larutan ke cairan yang lain.
    Pada percobaan ini asam benzoat berfungsi sebagai reagen utama dalam campuran yang memiliki sifat asam. Apabila asam benzoat ditambahkan suatu basa, maka akan membentuk suatu garam yang larut dalam air. Sedangkan fungsi naftalena adalah sebagai reagen utama dalam campuran yang bersifat netral, yang tida reaktif terhadap asam maupun basa, sehingga naftalena akan larut dalam pelarut organik hingga akhir ekstrasi. Dua bahan tersebut merupakn dua bahan yang akan diekstrasi. Kemudian kedua bahan tersebut akan dilarutkan dalam larutan dietil eter. Fungsi dari dietil eter adalah sebagai pelarut nonpolar, dietil eter digunakan sebagai pembias sisa-sisa larutan karena senyawa polar akan larut pada pelarut nonpolar. Larutan tersebut ditambahkan akuades, fungsi dari akuades sendiri yatu sebagai pelarut sekaligus pengencer larutan.
    Reaksi yang terjadi pada percobaan ini sebagai berikut :
Pada flask A
C₆H₅COONa₍𝑎𝑞₎ + HCl₍𝑎𝑞₎ → C₆H₅COOH + NaCl₍𝑙₎
Pada flask B
C₆H₅COOH₍𝑎𝑞₎ + NaOH₍𝑎𝑞₎ → C₆H₅COONa₍𝑎𝑞₎ + H₂O₍𝑙₎
Dietil eter dan akuades dapat dilihat dari percobaan bahwa keduanya tidak bercampur karena perbedaan dari kedua polaritas zat tersebut. Dietil berada pada bagian lapisan atas dan pada lapisan bawah yaitu lapisan air.
    Pada percobaan ekstrasi dilakukan di dalam lemari asam, hal tersebut dilakukan karena dietil eter merupakan suatu senyawa yang mudah terbakar. Setelah diekstrasi akan terbentuk dua lapisan yang terpisah. Lapisan atas merupakan larutan organik dan lapisan bawah meupakan larutan non organik. Lapisan atas dan bawah akan dipisahkan dengan cara lapisan bawah dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kemudian lapisan atas yang masih berada di corong pisah ditambahkan dengan NaOH. Fungsi NaOH yaitu sebagai reagen dalam campuran yang memiliki sifat basa. Diekstrasi, dan terbentuk kembali dua lapisan yang terpisah. Lapisan bawah ditambahkan dengan lapisan bawah pada erlenmeyer sebelumnya dan diberi label flask A. Lapisan atas pada corong pisah ditambahkan ditambahkan NaCl, kemudian diekstrasi kembali dan terbentuk dua lapisan lagi, lalu dipisah antara lapisan atas dan bawah. Lapisan atas dipindahkan ke erlenmeyer da diberi label flask B, kemudian ditambahkan Na₂SO₄. Fungsi dari Na₂SO₄ yaitu untuk mengikat air pada campuran eter sehingga fasa organik bebas dari air dan mencegah terjadinya penguapan. Langkah terakhir yaitu penambahan HCl pada flask A sehingga diperoleh pH = 1. Fungsi penambahan HCl yaitu agar reaksi yang telah dititrasi oleh basa dapat dinetralkan kembali menjadi asam. Kemudian larutan tersebut direndam dalam es batu. Namun pada percobaan kali ini tidak dilakukan perendaman karena es batu terlebih dahulu mencair. Lrutan tersebut hanya didinginkan kemudian disaring dan didapatkan asam benzoat berbentuk padatan, dan larutan naftalena.

VI. Kesimpulan
    Pemisahan suatu senyawa cair-cair dapat dipisahkan dengan cara ekstraksi. Naftalena bersifat netral sehingga tidak bereaksi dengan asam benzoat. Hasil ekstrasi pada percobaan ini adalah padatan asam benzoat dan naftalena.

VII. Daftar Pustaka
Alam, S., Hamzah,B.,Nuryanti,S. and Nurbaya,S., 2014. Penentuan Kondisi Optimum ekstraksi ion timbal (II) menggunakan teknik emulsi membran cair. Jurnal Akademik Kimia, 3(2), pp. 104-110.
Cairn, Donald. 2004. Intisari Kimia Farmasi. Jakarta : Erlangga.
Dewanti, S. and Wahyudi,M.T., 2001. Uji Aktivasi antimikroba infusum daun salam. Folia zyzygium polyanthum wight, pp. 78-81.
Purwani,M.V., 1978. Suyanti and Muhadi,M.W.,2008. In Ekstraksi Konsentrat Neodium Memakai Asam Di-2-Etil Heksil Fosfat. Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir, pp. 176-444.
Sykes,Peter. 1989. Penuntun Mekanisme Reaksi Kimia Organik. Jakarta: Gramedia.

Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Pemisahan Senyawa Asam Benzoat dan Naftalena"