Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Praktikum Sistem Koloid

Sistem Koloid

I. Tujuan
    Pembuatan Sistem Koloid

II. Dasar Teori
    Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata didalam zat lain (medium pendispersi/pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar 1-100nm. Ukuran yang dimaksud berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Keadaan koloid merupakan keadaan antara suatu larutan dan suatu suspensi. Bila suatu bahan berada dalam keadaan subdivisi ini. Bahan ini merupakan memperagakan sifat-sifat yang menarik dan penting, yang tidak merupakan ciri dari bahan dalam agregat yang lebih besar (Keenan, 1984).
    Sistem terdispersi terdiri dari partikel kecil yang dikenal sebagai fase terdispersi, terdistribusi keseluruhan medium kontinu atau medium terdispersi. Bahan-bahan yang terdispersi bisa mempunyai jangkauan dari ukuran partikel berdimensi atom dan molekul sampai partikel yang ukurannya diukur dalam milimeter. Sistem koloid digolongkan menjadi tiga, yaitu koloid liofilik yaitu sistem yang mengandung partikel koloid yang banyak berinteraksi dengan medium dispersi. Yang kedua koloid liofobik, yaitu koloid yang tersusun dari bahan yang mempunyai tarik menarik kecil terhadap dispersi. Golongan ketiga yaitu koloid gabungan. Molekul atau ion tertentu disebut amfifil. Amfifil bercirikan mempunyai dua daerah yang berbeda yang melawan afinitas larutan (Syukri, 2002).
    Partikel-partikel dalam suatu koloid terlalu kecil untuk dilihat dengan mata atau dengan mikroskop biasa, walaupun demikian partikel ini dapat mempengaruhi cahay tampak, ukuran yang cocok untuk menyebabkan cahaya tersebar dengan sudut besar. Partikel koloid yang telah mengadsorpsi ion akan bermuatan listrik sesuai dengan muatan ion yang diserapnya. Muatan koloid dapat diketahui dengan mencelupkan batang elektroda. Bermuatan positif akan tertarik (berkumpul) ke elektroda negatif, sedangkan yang bermuatan negatif tertarik ke elektroda positif (Khandar et al., 2002).
    Koloid penting untuk visulisasi solusi prekusor perovsik berdasarkan spektrum analine dan mengungkapkan solusi prekusor perovsik umumya dispersi koloid dalam larutan itu. Koloid berbentuk batang yang terbuat dari koordinasi yodium ditepi PbI₂ pada awalnya dan mengubahnya menjadi PbI₂ tidak murni perovsik dengan inorfologi berbentuk batang adalah efektif eliminasi dengan batuan meknisme under sehingga berdiri pembentukan koloid dan teknik koordinasi. Bentuk koloid menggunakan metil monium halida berlebih. Koloid memiliki pergeseran serapan biru yng signifikan yang bisa dengan mudah dijelaskan dengan ukuran yang dikurangi atau parsial efek pelarutan dalam larutan (Yan et all., 2015).
    Sistem koloid nanopartikel magnetik berbasis Fe dikenal istilah fetrofluid (FF). Yaitu koloid yang dibentuk dari serbuk nanopartikel Fe atau oksida Fe yang tersebar secara homogen dan stabil dalam media fluida berbasis air atau minyak. Nanopartikel magnetik dilapisi dengan bahan organik biokompatibel dan diredispersikan dalam fluida berbasis air sehingga terbentuk sistem koloid yang stabil dalm pH, suhu dan sifat kimiawi dalam cairan tubuh. Secara umum makin kecilnya ukuran partikel, koloid akan lebih stabil krena rendahnya gaya gravitasi pada partikel sehingga tidak mudah mengendap (Mujamilah and Sulungbud, 2013).
    Kristlisasi sistem koloid sebagian besar telah diselidiki dalam air dispers. Partikel-partikel koloid bermuatan tinggi. Partikel ini memiliki panjang kisaran interaksi dan bisa mengkristal pada tingkat rendah pecahan, volume. Kristalisasi umumnya terjdi dalm beberapa menit atau bahklan lebih cepat. Sistem koloid yang digunakan dalam percobaan distabilkan dengan methacryloxpapyl trimethoxy silane. Sintesis itu disebut sebagai partikel TFM atau ditul ref (McCarthy and McKay, 2004).


III. Alat dan Bahan
 3.1 Alat
  1. Tabung Reaksi 20 ml 1 buah
  2. Gelas Ukur 10 ml 1 buah
  3. Gelas Beker 250 ml 1 buah
  4. Pengaduk 1 buah
  5. Bunsen 1 buah
  6. Cawan 1 buah
  7. Rak 1 buah
  8. Pipet 1 buah
  9. Penjepit kayu 1 buah
 10. Heater 1 buah
 11. Corong Kaca 1 buah

3.2 Bahan
 1. Akuades 40 ml
 2. FeCl₃ secukupnya
 3. Benzene 1 ml
 4. Larutan C₂H₅OH 95% 10 ml
 5. Larutan kalsium asetat jenuh 3 ml


IV. Cara Kerja
4.1 Pembuatan Koloid Fe(OH)₃
    Akuades 30 ml dimasukkan ke dalam gelas ukur kemudian dipanaskan sampai mendidih. Kemuadian ditetesi larutan FeCl₃ jenuh dan diaduk sampai warnanya berubah merah keclokatan, lalu dipanaskan lagi hingga mendidih kemudian diangkat dan diamati perubahannya.

4.2 Pembuatan Emulsi
    Benzene 1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 10 ml akuades dan dikocok dengan keras kemudian diletakkan pada rak. Diamati perubahan yang terjadi, dihitung waktu yang diperlukan untuk pemisahan kedua zat cair menjadi 2 lapisan.

4.3 Pembuatan Gel
    Larutan kalsium asetat jenuh sebanyak 3 ml dan 10 ml C₂H₅OH 95% dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan terbentuk gel. Kemudian sebagian gel diambil dan dimasukkan ke dalam cawan penguapan, diambil sedikit dengan pengaduk untuk dibakar dengan api dari bunsen, lalu api diberikan di gel yang ada di cawan. Diamati perubahannya hingga api yang di cawan habis.

V. Data Percobaan
-

VI. Analisa
    Percobaan yang berjudul sistem koloid memiliki tujuan yaitu pembuatan sistem koloid. Terdapat tiga percobaan yang dilakukan yaitu pembuatan koloid Fe(OH)₃, pembuatan emulsi, dan pembuatan gel. Prinsip dari percobaan ini yaitu dengan teknik pencampuran dan pemisahan beberapa zat kimi yang kemudian dicatat dan diamati perubahan yang terjadidan endapannya. Bahan yang digunakan antara lain kalsium asetat dan C₂H₅OH 95% berfungsi untuk pembentukan menjadi sebuah gel, kemudian benzene berfungsi untuk mengubah warna menjadi putih keruh dari pencampuran dengan akuades, lalu bahan FeCl₃ berfungsi untuk mengubah warna menjadi merah kecoklatan pada pencampuran dengan akuades.
    Percobaan pertama yang dilakukan adalah pembuatan gel. Pembentukan gel ini merupakan penggantian pelarut yang merupakan pembuatan koloid tipe kondensasi. Bahan yang digunakan adalah kalsium asetat dan larutan C₂H₅OH 95%. Pencampuran kalsium asetat dan larutan C₂H₅OH 95% terbentuk sebuah gel. Gel dapat terbentuk karena kalsium asetat merupakan larutan yang sukar dalam alkohol. Kemudian gel yang sudah terbentuk dibakar di cawan penguapan menghasilkan warna biru pada api. Pembakaran yang dilakukan berfungsi untuk menghilangkan pelarut. Bagian permukaan gel berubah menjadi warna hitam setelah dibakar. Menandakan bahwa gel tersebut mudah terlarut(Purba, 1995).
    Percobaan kedua yaitu pembutan emulsi. Cara kerja dari percobaan kedua ini yaitu dengan mencampurkan akuades dan benzene sehingga menghasilkan larutan yang berwarna putih keruh setelah dikocok dengan keras. Kemudian didiamkan dan dihitung waktunya sampai larutan terbentuk dua lapisan. Pada percobaan yang sudah dilakukan tersebut waktu selama 14 menit 29 detik. Hal ini sesuai dengan syarat terjadinya emulsi yaitu kedua jenis zat cair tidak saling melarutkan atau bercampur. Pada percobaan ini, benzena sebagai fase terdispersi dan akuades sebagai medium pendispersi. Dua lapisan yang terbentuk yaitu benzena pada lapisan atas dan akuades pada lapisan bawah. Hal ini karena massa jenis air (ρ air) lebih besar dari massa jenis benzzena (ρ benzena)(Purba,1995).
    Percobaan ketiga adalah pembuatan koloid Fe(OH)₃. Bahan yang digunakan yaitu akuades dan FeCl₃. Akuades dipanaskan terlebih dahulu hingga mendidih kemudian ditetesi FeCl₃  sambil diaduk hingga berubah warna menjadi merah kecoklatan. Hal ini mengalami reaksi hidrolisis dan terbentuk sol Fe(OH)3. Pembuatan koloid merupakan pembuatan koloid dengan cara kondensasi dimana molekul-molekul larutan diubah menjadi partikel koloid. Ketika air dicampur dengan FeCl₃ warna berubah menjadi lebih pekat karena partikel dalam campuran semakin besar. Pada saat larutan diamati dengan sekilas terlihat partikelnya homogen, tetapi saat bejana gelas dimiringkan terlihat adanya dua lapisan warna. Berikut adalah reaksi yang terjadi (Purba,1994):
FeCl₃(aq) + 3H₂O(l) → Fe(OH)₃(koloid) + 3HCl(aq)

VII. Kesimpulan
    Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada dua cara pembuatan koloid yaitu kondensasi dan dispersi. Cara kondensasi yaitu molekul-molekul larutan diubah menjadi partikel koloid sedangkan cara dispersi yaitu partikel-partikel besar diubah menjadi partikel-partikel dengan besaran koloid. Pembuatan gel dan sol Fe(OH)₃ menggunakan cara kondensasi. Sol Fe(OH)₃ terbentuk dari FeCl₃ dengan air yang kemudian bereaksi dan didalamnya terdapat reaksi hidrolisis. Pembuatan gel termasuk kondensasi karena adanya pergantian pelarut. Selain itu, pada pembuatan emulsi terdapat dua lapisan pada tabung reaksi. Hal itu terjadi karena ρ air > ρ benzena dan syarat dari terjadinya emulsi adalah kedua jenis zat cair tidak saling bercampur.

VIII. Daftar Pustaka
Keenan,1984.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga.

Khandhar,A.,P.,Ferguson,R.M., Simon,J.A.and Krishnan,K.M.,2002.Tailored magnetic nanoparticles for optimizing magnetic fluid hyperthermia.Journal of Biomedical Materials Research Part A,100(3),pp.728-737.

McCarthy,J.F. and McKay,L.D.,2004.Colloid transport in the subsurface.Vadose Zone Journal,3(2),pp.326-337.

Mujamilah,M., and Sulungbud,G.T.,2013. Karakteristik Dinamik Sistem Koloid Magnetik Berbasis Nanopartikel Oksida Fe-Chitosan. Jurnal Kimia dan Kemasan, 35(1),pp.65-70.

Purba,M.1994.Kimia 2B untuk SMA Kelas XI.Jakarta:Erlangga.

Purba,M.1995.Kimia 2000 untuk SMU Kelas 2 Jilid 2B.Jakarta:Erlangga.

Syukri.2002.Kimia.ITB:Bandung.

Yan,K.,Long,M., Zhang,T.,Wei,Z., Chen,H., Yang,S., and Xu,J.,2015.Hybrid halide perovskite solar cell precursors: colloidal chemistry and coordination engineering behind device processing for high efficiency. Journal of the American Chemical Society,137(13),pp.4460-4468.

Posting Komentar untuk "Laporan Praktikum Sistem Koloid"